Yaumul Isti’anah Warga DDI

0
214

Makassar, ddi.or.id. Yaumul Isti’anah atau hari memohon pertolongan kepada Allah SWT dulu sering digunakan oleh Anre Gurutta H Abdurrahman Ambo Dalle ketika mengadakan peringatan semacam Isra’ Mi’raj, Mawlud Nabi atau lainnya.

Hal inilah kemudian yang ingin disegarkan kembali oleh jajaran Pengurus Wilayah DDI yang diinisiasi oleh Perhimpunan Majelis Ta’lim (Permata) DDI Wilayah Sulawesi Selatan ketika merencanakan peringatan Isra’ Mi’raj.

Hj. Rosnadi Amri ketika hadir mendiskusikan rencananya menyatakan bahwa “kita warga DDI ini perlu memperingati Isra’ Mi’raj, syi’ar penting ini sebagaimana dulu gurutta juga lakukan. Ajang ini juga bisa memperkuat jalinan silaturahim warga DDI di Kota Makassar khususnya, sekaligus melanjutkan tradisi keagamaan yang baik yang dirintis oleh para guru kita dulu.”

Dan, tibalah Yaumul Isti’anah, berisi Peringatan Isra’ Mi’raj dan Tarhib Ramadan, yang direncanakan itu tepat hari ini, Sabtu (17/1/2026) bertempat di Masjid Raya Makassar, yang dibanjiri ribuan Addariyyin atau warga DDI sejak pagi hari, meski cuaca sedang tak menentu, tak menyurutkan semangat mereka. Bahkan ada yang tiba dengan basah kuyup karena kehujanan dalam perjalanan.

Suasana khidmat terasa sepanjang acara, menandakan antusiasme jamaah dalam peringatan ini. Sejak pagi lantunan salawat terdengar mendayu-dayu dibawakan bergantian oleh tim qasidah dan hadrah Permata dan Ummahat DDI.

Tepat pukul 09.00 WITA, Malahayati, pembawa acara, mengambil alih kendali acara dan mengundang qari’ah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Ketua Panitia, Hj. Radhia Saad, dalam sambutannya menuturkan pengalaman 2 seniornya ynag pernah hadir dalam majelis Isti’anah yang dulu pernah dihadiri Gurutta Ambo Dalle, “Yaumul Isti’anah ini banyak dipertanyakan oleh keluarga besar alumni atau warga DDI, apa itu Yaumul Isti’anah? Setelah dijelaskan barulah mereka mengerti.” papar Kak Diya, sapaan akrab adik-adiknya.

Sesi baca do’a dipimpin oleh Anre Gurutta H. Amrullah Husain, salah seorang murid kesayangan Anre Gurutta Ambo Dalle, yang juga anggota Majelis Syuyukh Pengurus Besar DDI ini.

Lafazh untaian do’a-do’a yang tertata rapi susunan bahasa dan pilihan katanya berbaris indah menambah kekhusyu’an do’a.

Kyai Ibnu Hajar memimpin dzikir Yaumul Isti’anah dilanjutkan sambutan Ketua PW DDI Sulawesi Selatan, Prof Andi Aderus, yang juga Wakil Rektor II UIN Alauddin Makassar.

Prof. Andi Aderus dalam sambutannya menekankan pentingnya untuk terus mentradisikan syiar-syiar keagamaan semacam ini.

“Kegiatan-kegiatan seeprti inilah yang akan terus menguatkan jalinan silaturahim di tengah masyarakat. Perjumpaan-perjumpaan akan membuat interaksi sosial semakin intens di mana terjalin komunikasi yang baik tentunya.” Paapr Guru Besar bidang Teologi dan Filsafat Islam ini.

Ketua Majelis Syuyukh PB DDI yang juga Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Anreguruta Prof. H.M. Faried Wadjedy, didaulat untuk membawakan Hikmah Isra’ Mi’raj.

Dalam paparannya, Gurutta Faried, menguraikan “salat lima waktu merupakan kunci surga sekaligus kunci segala kebaikan dalam kehidupan umat Islam.”

“‎Dari seluruh ajaran agama, baik yang bersifat hukum maupun non-hukum, hanya salat yang diterima langsung oleh Rasulullah SAW di hadapan Allah SWT.”

“Tidak ada yang diterima langsung oleh Rasulullah di hadapan Allah SWT kecuali salat lima waktu,” katanya.

“Perintah shalat memiliki kedudukan istimewa karena tidak diturunkan seperti ajaran lainnya.*

“Jibril bukan membawa turun perintah, tapi dikasih tugas untuk turun menjemput nabi, mengantar ke atas untuk menerima perintah salat lima waktu,” ungkapnya.

Dalam penilaian Gurutta Faried, hal tersebut menjadi bukti bahwa salat mempunyai nilai lebih dibandingkan ibadah lain yang sangat dicintai umat Islam.

‎“Pasti salat ini mempunyai nilai plus jika dibanding dengan segala ajaran yang lain. Karena dikatakan salat adalah kunci surga. Salat adalah kunci segala kebaikan,” ujarnya.

‎Ia mengingatkan bahwa shalat hanya akan menjadi kunci surga apabila dilaksanakan dengan benar dan dimaknai secara utuh.

Menurutnya, terdapat dua syarat agar salat benar-benar bernilai.

“Salat yang sebenarnya hanya dua syaratnya. Satu laksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuannya, ada syarat-syaratnya, ada rukun-rukunnya,” katanya.

Selain itu, Gurutta Faried menekankan pentingnya mengaplikasikan nilai-nilai salat dalam kehidupan sehari-hari.

‘Kedua, aplikasikan makna-makna yang terkandung dalam salat itu setelah kita keluar dari sana. Baik di dalam menghadapi kita punya profesi, kita punya pekerjaan. Maupun di dalam berinteraksi dengan sesama,” jelasnya.

Jika kedua syarat tersebut dijalankan, Gurutta menegaskan salat akan benar-benar menjadi kunci, tidak hanya menuju surga, tetapi juga membawa kebaikan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
“Kalau ini kita lakukan, barulah salat itu menjadi kunci. Baik surga maupun kebaikan dalam hidup dunia akhirat,” tutup Gurutta Mangkoso, gelar lain yang disematkan murid-muridnya.

Turut hadir dalam peringatan ini, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, H. Muhammad beserta jajarannya, Ketua Lawazis DDI H. M. Yahya Ahmad dan jajarannya, Ketua MUI Sulawesi Selatan, Prof. Najamuddin Abdus Shafah beserta Sekretaris MUI Sulawesi Selatan Prof. Muammar Bakry.

Tampak hadir juga sejumlah civitas akademika UIN Alauddin Makassar, Prof Andi Achruh, Profm Suhufi, Prof. Fatmawati, Rahman Ambo, AM. Akmal, Syahrir Karim, Zainal Abidin, Hasyim dan Wahid Haddade serta lebih banyak lagi lainnya.

Jajaran Pengurus Daerah Kota Makassar, Maros, Pangkep dan Gowa dipimpin ketuanya masing-masing.

Pimpinan organisasi-organisasi badan otonom, IPDDI dan IMDI juga turut menyemarakkan kegiatan ini.

ddi abrad 1