DDI.OR.ID, NEWS – Ketua Majelis Pembina PP IMDI 2022-2025, Dr. H. Azhar Arsyad, S.H., M.H., hadir sebagai narasumber dalam Dialog Intelektual yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Darud Da’wah wal Irsyad (PP IMDI).
Kegiatan tersebut adalah rangkaian agenda Kongres XII IMDI yang diselenggarakan di Kampus IAI DDI Sidrap, Sabtu (14/2/2026).
Dalam pemaparannya, Dr. Azhar Arsyad mengingatkan bahwa organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang sekadar memiliki struktur lengkap di atas kertas, tetapi organisasi yang setiap perangkatnya benar-benar menjalankan fungsi secara efektif.
Menurutnya, banyak organisasi yang tampak kuat secara struktur, namun lemah dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab.
“Struktur itu penting, tetapi fungsi jauh lebih utama. Jangan sampai kita bangga dengan susunan kepengurusan yang panjang, tetapi minim kerja nyata. Organisasi harus hidup melalui fungsi yang berjalan, bukan hanya melalui nama-nama dalam kepengurusan,” tegas Ketum PP IMDI 1992-1995 ini.
Azhar menjelaskan bahwa organisasi berbasis fungsional menempatkan peran dan kontribusi sebagai ukuran utama. Setiap bidang harus memiliki program yang jelas, indikator capaian yang terukur, serta mekanisme evaluasi yang berkelanjutan. Dengan demikian, organisasi tidak bergerak berdasarkan figur tertentu, melainkan berdasarkan sistem kerja yang tertata.
Lebih lanjut, mantan Sekjend PB DDI ini juga mengingatkan agar organisasi tidak terlena dengan narasi ketokohan. Menurutnya, ketokohan memang dapat menjadi inspirasi, namun organisasi tidak boleh bergantung sepenuhnya pada figur. Ketika organisasi terlalu bertumpu pada satu atau dua tokoh, maka keberlanjutannya menjadi rentan.
“Ketokohan itu bisa membesarkan organisasi, tetapi sistem yang kuatlah yang menjaga organisasi tetap berdiri dalam jangka panjang. Jika sistemnya kokoh, maka siapapun yang memimpin akan mampu menjalankan roda organisasi dengan baik,” ujar Azhar.
Ia menekankan pentingnya membangun sistem kaderisasi yang terstruktur, berjenjang, dan berorientasi pada kualitas. Organisasi, kata dia, harus mampu menciptakan kader-kader yang unggul secara intelektual, matang secara emosional, serta berintegritas dalam pengabdian. Hal itu hanya bisa terwujud jika pola pembinaan tidak bergantung pada kedekatan personal, melainkan pada mekanisme yang adil dan terukur.
Bagi Azhar, sistem yang kuat akan melahirkan budaya organisasi yang profesional, transparan, dan akuntabel.
“Dalam konteks organisasi mahasiswa, hal ini berarti adanya pembagian kerja yang jelas, administrasi yang tertib, serta program kerja yang konsisten dari satu periode ke periode berikutnya,” pungkasnya.















