Silsilah Mubarakah Madzhab Imam Syafi’i

0
55

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Silsilah Mubarakah Madzhab Imam Syafi’i

Diawali dari kitab induk Al-Umm karya Imam Syafi’i, hingga kitab-kitab mu’tamad yang jadi rujukan utama di pesantren Nusantara.

Ini penting diketahui para santri. Agar kita paham bagaimana perjalanan fatwa dari Imam Syafi’i hingga ke kitab kuning yang kita kaji sehari-hari.

Simak rantai emasnya di bawah ini.

Sebelum menyusun kitab hukum praktis (Fiqh), Imam Syafi’i menulis Ar-Risalah, kitab pertama di dunia yang membukukan ilmu Ushul Fiqh.

Inilah ‘akar’ atau metodologi bagaimana cara menggali hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Kitab Imam Syafi’i yang digunakan sebagai kitab induk fiqih adalah kitab Al-Umm.

Imam Al-Muzani, (Salah satu murid utama Imam Syafi’i) menulis kitab Mukhtashar Al-Muzani yang berisi ringkasan ilmu Imam Syafi’i. Baik dari Al-Umm maupun yang dia terima secara lisan dari Imam Syafi’i. Jadi kitab ini turut memuat apa yg tidak ada di Al-Umm

Imam Buwaithi (Murid utama Imam Syafi’i yang lain), menulis Kitab Mukhtashar Al-Buwaithi. Kitab ini juga ringkasan pendapat-pendapat Imam Syafi’i, terutama yang tercantum dalam Al-Umm.

Imam Al-Mawardi menulis Al-Hawi al-Kabir sebagai syarah atas Mukhtashar Al-Muzani.

Kitab ini adalah ensiklopedia hukum terbesar di masanya dan rujukan utama bagi Ashab al-Wujuh (ulama abad ke-3 sampai 5 H yg berijtihad dalam mazhab Syafi’i).

Al-Hawi menjadi pondasi otoritatif bagi pendapat Wujuh sebelum era kodifikasi final oleh Ar-Rafi’i dan An-Nawawi.

Al-Mawardi menyerap ilmu dari dua pusat utama Syafi’iyah saat itu, yaitu Baghdad dan Bashrah.

Jalur Baghdad sanadnya ia ambil melalui Imam Abu Hamid al-Isfara’ini. Dari beliau, Al-Mawardi belajar fikih secara mendalam serta metode Wujuh (pengembangan pendapat) yang berkembang di Irak.

Jalur Bashrah melalui Imam Al-Hasan bin Ali al-Jabali. Di Bashrah, Al-Mawardi memperkuat dasar-dasar hadis dan sastra yang nantinya sangat memengaruhi gaya bahasa dalam karya-karyanya.

Imam Haramain Al-Juwaini meringkas kitab-kitab Imam Syafi’i, Imam Muzani dan Imam Buwaithi dengan kitabnya An-Nihayah atau lengkapnya bernama Nihayatul Mathlab fi Dirayatul Mazhab.

Kitab ini bukan sekadar syarah Al-Umm, melainkan samudra ilmu Mazhab Syafi’i yang mengolah semua riwayat Al-Umm dan Mukhtashar Al-Muzani.

Imam Al-Ghazali meringkas mahakarya gurunya, Imam Al-Haramain Al-Juwaini yang berjudul Nihayatul Mathlab, ke dalam empat tingkatan kitab fikih yang menjadi standar baru dalam mazhab.

Al-Basith. Ini ringkasan luas yang masih memuat perdebatan detail dari Nihayatul Mathlab.

Al-Wasith. Ini ringkasan dari Al-Basith yang lebih fokus pada hukum praktis namun tetap menyertakan argumen.

Al-Wajiz. Ini ringkasan dari Al-Wasith. Kitab ini adalah yang paling fenomenal karena bahasanya yang sangat padat dan sistematik.

Al-Khulashah. Ini ringkasan sangat ringkas (mukhtashar) yang merujuk pada poin-poin inti dari Al-Wajiz.

Keempat kitab ini, terutama Al-Wajiz, menjadi pondasi utama (poros) bagi Imam Ar-Rafi’i dalam menyusun kitab Al-Aziz (Syarh Al-Kabir) dan Al-Muharrar, yang kelak menjadi standar penentuan fatwa (tashih) dalam Mazhab Syafi’i sebelum era Imam An-Nawawi.

Al-Qadhi Abu Syuja’ menulis Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib, lebih dikenal sebagai Matan Abu Syuja’. Kitab ini merupakan intisari dari Al-Umm, Mukhtashar Al-Muzani, dan pendapat para Ashab al-Wujuh tanpa terikat pada satu teks tunggal.

Kitab ini menjadi “gerbang pertama” para santri karena bahasanya yang sangat ringkas namun mencakup seluruh bab fiqh. Kelak, kitab ini melahirkan syarah populer seperti Fathul Qarib dan Hasyiyah Al-Bajuri.

Imam Rafi’i mensyarah kitab Al-Wajiz Imam Ghazali dengan kitabnya Al-Aziz Syarh al-Wajiz, sering juga disebut Asy-Syarh al-Kabir

Imam Rafi’i meringkas kitab Al-Wajiz karya Imam Ghazali dengan kitabnya Al-Muharrar fil Fiqhi Al-Imam Asy-Syafi’i. Dengan kitab ini Imam Rafi’i melakukan verifikasi hukum (tashih) yang lebih ketat.

Imam Nawawi meringkas, menambah penjelasan, mempercantik kitab Al-Muharrar Imam Ar Rafi’i disana sini dengan kitabnya Minhajuth Thalibin (Minhaj).

Beliau melakukan tashih (verifikasi) mana pendapat yang Azhar (kuat) dan Masyhur. Kitab ini fenomenal dan populer di dunia pesantren.

Selain Minhaj, Imam An-Nawawi memiliki mahakarya monumental yaitu Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab.

Al-Majmu’ adalah syarah atas kitab Al-Muhadzdzab karya Imam Abu Ishaq asy-Syirazi. Ini menunjukkan bahwa Imam Nawawi juga menghargai jalur keilmuan ulama Syafi’iyah Baghdad.

Meskipun Minhajuth Thalibin adalah standar fatwa ringkas, Al-Majmu’ adalah ensiklopedia fiqh perbandingan yang menjadi bukti kejeniusan beliau.

Dalam hirarki kekuatan pendapat, jika terjadi pertentangan antara kitab-kitab karya Imam An-Nawawi, para ulama menetapkan urutan (tartib) kekuatan otoritas sebagai berikut:

Al-Majmu’ dan At-Tahqiq, karena kedalaman bahasannya, meski keduanya tidak selesai disusun hingga wafatnya beliau.

Al Majmu hanya sempat beliau tulis hingga bab Riba (dalam kitab Buyu’/Jual Beli). At Tahqiq, hanya sampai pembahasan bab Salat Musafir.

Tanqih az-Zarkashi (catatan atas kitab Minhaj).

Raudhatuth Thalibin.

Minhajuth Thalibin.

Penting untuk diketahui, bahwa jika disebut “Syaikhain” dalam Mazhab Syafi’i, maksudnya adalah duet Imam Rafi’i dan Imam Nawawi. Jika keduanya sepakat, itulah pendapat mu’tamad (terkuat) dalam Mazhab Syafi’i.

Jika terjadi perbedaan antara Rafi’i dan Nawawi, maka para ulama seperti Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Ramli menetapkan kaidah, pendapat Nawawi yang lebih didahulukan. Tentang tingkatan kekuatan hujjah dalam mazhab Syafi’i ini ada pembahasan khusus.

Demikian juga tingkat ke Mujtahidan mereka, ada istilah semacam Mujtahid mutlaq, Mujtahid Muntasib, Mujtahid fil mazhab, Mujtahid fi at-tarjih, Mujtahid al-Fatwa, Ashabul Wujuh, Ahluttakhriij, Ahluttahqiq atau Tahrir, Muqallid Mahir atau Naqil.

Setiap label memiliki wewenang berbeda. Tidak semua memiliki wewenang istinbath langsung dari Al-Qur’an dan Hadits.

Kitab Minhajuth Thalibin karya Imam Nawawi diringkas oleh Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari menjadi sebuah matan baru berjudul Manhajuth Thullab.

Beliau lalu mensyarahi sendiri matan ringkasannya dalam Fathul Wahhab bi Syarh Manhaj al-Thullab. Ini berbeda dengan ulama sebelumnya yang kitab syarahnya ditulis oleh orang lain.

Kitab “Fathul Wahhab Syeikhul Islam Imam Zakaria Al-Anshari” merupakan salah satu dari “Trio Fathu” yang sangat populer dan sering dijadikan rujukan utama di pesantren-pesantren Indonesia, bersama dengan Fathul Qarib karya Ibnu Qasim Al-Ghazi sebagai Syarah Taqrib dan Fathul Mu’in karya Zainuddin Al-Malibari.

Terkadang ada yang memasukkan Fathul Jawad, tapi trio di atas adalah yang paling standar di pesantren.

Kitab Fathul Wahhab Zakaria Al-Anshari hasyiyah yang paling terkenal di pesantren adalah Hasyiyah al-Bujairimi alal Manhaj karya Sulaiman al-Bujairimi dan Hasyiyah al-Jamal karya Sulaiman al-Jamal

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami membuat kitab syarah Al-Minhaj Nawawi dengan kitabnya Tuhfat Al-Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj (Otoritas utama di Hijaz/Yaman)

Imam Syamsuddin Ar-Ramli juga membuat kitab syarah Al-Minhaj Nawawi dengan kitabnya An Nihayah (Otoritas utama di Mesir). Dia adalah murid langsung dari Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari.

Imam Al-Khatib Syarbini juga membuat kitab syarah Al-Minhaj Nawawi dengan kitabnya Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfadh Al-Minhaj. Kitab ini sangat dikenal di dunia pesantren dan menjadi salah satu “empat syarah utama Minhaj”.

Imam Jalaluddin Al-Mahalli juga membuat kitab syarah Al-Minhaj Nawawi dengan kitabnya Kanzur Raghibin Syarah Minhaj Ath Thalibin.

Kitab ini dianggap sebagai syarah yang paling memahami “kedalaman” kata-kata Imam Nawawi di Minhajut Thalibin. Sangat ringkas tapi padat, yang kemudian diberi komentar (Hasyiyah) oleh Ahmad bin Ahmad al-Qalyubi dengan karyanya Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala Kanz ar-Raghibin dan Ahmad bin Qasim al-Umairah dengan karyanya Hasyiyah ‘ala Kanz ar-Raghibin.

Semua kitab ini dikaji di pesantren Mazhab Syafii.

Imam Nawawi meringkas kitab Al-Aziz Syarh al-Wajiz karya Imam Rafi’i dengan kitabnya Raudhatuth Thalibin

Imam Quzwaini meringkas kitab Al-Aziz Syarh al-Wajiz karya Imam Rafi’i dengan kitabnya Al-Hawi Ash Shaghir

Imam Ibnul Muqri mengikhtisar Kitab Al-Hawi Imam al-Qazwin dengan kitabnya Irsyad Al-Ghawi ila Masalik Al-Hawi,

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami membuat kitab syarah Irsyad al-Ghawi karya Imam Ibnul Muqri dengan kitabnya Fathul Jawad Syarah Al-Irsyad dan Kitab Al-Imdad bi Syarh Al-Irsyad.

Imam Ibnu Muqri mengikhtisar Kitab Raudlatuth Thalibin Imam Nawawi dengan kitabnya Ar-Raudlatuth Thalib wa Nihayah Mathlab ar-Raghib

Al-Qadhi Ahmad Az Zabidi mengikhtisar Kitab Raudlatuth Thalibin Imam Nawawi dengan kitabnya Al-Ubab.

Syeikhul Islam Zakaria Al-Anshari mensyarah Kitab Ar-Raudhatut Thalib Imam Ibnul Muqri dengan kitabnya Asnal Mathalib Syarhu Raudhatit Thalib

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menulis kitab Syarah Minhajut Thalibin Imam Nawawi dengan kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj

Imam Syamsuddin ar-Ramli menulis Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, juga syarah atas Minhajut Thalibin, dianggap sebagai penyeimbang Ibnu Hajar al-Haitami, dan dua tokoh ini sering disebut “Al-Haitami wal-Ramli Qadwatani fil Mazhab” (Ibnu Hajar dan Ar-Ramli adalah dua teladan dalam Mazhab Syafi‘i)

Beberapa ulama menyusun hawasyi untuk menjelaskan, menyelaraskan, dan menengahi perbedaan antara dua tokoh besar di atas

Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Manhaj karya Syaikh Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H)

Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri (w. 1277 H)

Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umairah ‘ala Syarh Jalaluddin al-Mahalli

Ini menjadi kitab taqriran (pegangan praktis) di pesantren.

Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari digelari “Syaikhul Masyayikh” (Gurunya para guru) karena hampir seluruh sanad ulama Syafi’iyyah muta’akhkhirin (termasuk di Indonesia) pasti melewati jalur beliau. Melalui murid-muridnya menjadi jalur sanad resmi bagi 3 kutub Syafii saat itu:

Mesir (Syaikhul Al-Azhar): lewat Syaikh Ibrahim Al-Bajuri, Syaikh Al-Bujairimi

Haramain (Makkah-Madinah): lewat Para ulama yang menjadi guru para habaib Hadhramaut

Hadhramaut (Yaman): lewat Para Habaib dan Ulama dan murid-muridnya

Kitab Tuhfatul Muhtaj karya Imam Ibnu Hajar Al Haitami disyarah lagi oleh muridnya Syaikh Syarwani (w. 1301 H) dengan Hasyiyah Syarwani ‘ala Tuhfah

Syaikh al-Ramli kecil (Ibnu Ramli) juga menulis komentar pada Nihayah ayahnya. Dua hasyiyah besar (Syarwani dan Ibnu Qasim al-‘Abbadi) disebut Al-Hasyiyatan ‘ala at-Tuhfah wan-Nihayah dan menjadi Marja‘ Syafi‘iyyah muta’akhkhirin.

Setelah era para muhaqqiq besar tadi, muncullah ulama yang menyusun mukhtashar fiqh yang lebih ringan dan sistematis untuk pengajaran, yaitu Imam Ahmad Zainuddin al-Malibari (w. 987 H). Beliau adalah murid langsung dari Ibnu Hajar Al-Haitami.

Ini menjelaskan mengapa Fathul Mu’in sangat kental dengan nuansa kitab Tuhfatul Muhtaj. Kitab ini merangkum Minhaj an-Nawawi dan Al-Mathalib Zakaria al-Anshari, tapi dengan gaya praktis dan aplikatif.

Oleh karena itu, Fathul Mu‘in menjadi jembatan antara fiqh Timur Tengah dan pesantren Asia Tenggara.

Ada satu kitab “jembatan” juga yang sangat sering dikaji di pesantren Indonesia yaitu Al-Minhaj al-Qawim karya Ibnu Hajar al-Haitami (Syarah atas Muqaddimah al-Hadhramiyyah).

Kitab ini adalah standar fiqh menengah di Nusantara sebelum santri naik ke Fathul Mu’in.

Sayyid Abu Bakr bin Syatha ad-Dimyathi membuat Syarah atas Fathul Mu‘in, dalam kitabnya I‘anatut Thalibin, menjelaskan pendapat Mazhab Syafi‘i berdasarkan referensi otoritatif seperti Tuhfah dan Nihayah.

Kitab ini menjadi rujukan tertinggi dalam Mazhab Syafi‘i di pesantren-pesantren, menjelaskan seluruh cabang hukum dengan sistematik sanad yang bersambung ke Al-Umm.

Di Nusantara, jalur sanad Syafi‘i datang melalui Kitab Fathul Qarib dan Fathul Mu‘in (karya Zainuddin al-Malibari), I‘anatut Thalibin (karya Syaikh Bakri Syatha ad-Dimyathi, w. 1310 H), yang menjadi pegangan utama pesantren-pesantren Syafi‘iyyah di Indonesia.

Syaikh Nawawi Al-Bantani (w. 1314 H) menulis Kasyifatus Saja ‘ala Safinatun Naja, Syarah atas karya Safinatun Naja milik Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami.

Beliau adalah ulama Nusantara yang mengambil sanad langsung dari ulama Haramain, jalur yang juga bersambung kepada murid-murid Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari.

Dalam kaidah keilmuan Mazhab Syafi’i, kita tidak bisa membaca potongan kalimat dari salah satu kitab ulama Mazhab Syafi’i tanpa merujuk pada kitab ulama Mazhab Syafi’i lainnya, karena semua kitab ini saling terkait dan bertingkat (dari mutawassithun hingga muta’akhkhirun).

Dan kita berpeluang salah paham memahami kitab Mazhab Syafi’i hanya dengan membaca teks, apalagi terjemahan, tanpa merujuk kepada guru yang memiliki sanad bersambung hingga mushonif (penulis kitab) tersebut.

Maka bagi yang belum punya guru.

Carilah guru yang punya sanad keilmuan. Jangan dari mbah Google.

Cari di Pesantren-Pesantren Tradisional seperti Al Washliyah, Nahdatul Ulama, Nahdatul Watan, Darud Da’wah Wal Irsyad, As’adiyah, Al Khaerat dan lainnya.

Ini adalah “gudangnya” sanad yang terjaga. Para Gurutta di pesantren biasanya sangat bangga dengan sanad keilmuannya yang bersambung hingga para ulama besar dan Rasulullah ﷺ.

Ikuti Pengajian Rutin. Carilah pengajian yang diisi oleh gurutta/kyai/habib yang jelas latar belakang pendidikan dan gurunya. Jangan malu untuk bertanya dari mana beliau mengambil ilmunya.

Lihat siapa gurunya. Apakah dia masih sejalan dengan gurunya, atau sudah menyimpang. Ini juga perlu. Sekalipun dia kyai besar, jika tidak sesuai lagi dengan jalan para masyaikh dan guru-gurunya, jangan ikuti.

Jika tidak punya guru secara talaqqi (berhadapan langsung), setidaknya jangan menyimpang dari cara mereka. Ikuti.

Itulah cara yang benar. Jika ajarannya menyimpang dari ini, waspada.

Imam asy Syafi’i berkata,

“Tiada ilmu tanpa sanad.”

(Al-Isnad min ad-Din, halaman 18-20)

Al-Ilmu bi laa Syaikhin, fa Syaikhuhu Syaithon (Ilmu tanpa guru, maka gurunya adalah setan)

Wallahu a’lam bish shawab

ddi abrad 1