Hadiri Kongres XII IMDI, TA Menag RI Tegaskan Pentingnya Jihad Intelektual di Medsos

0
306

DDI.OR.ID, NEWS – Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Gurutta Dr. Bunyamin M. Yapid hadir sebagai narasumber dalam agenda Dialog Intelektual yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Darud Da’wah wal Irsyad (PP IMDI).

Kegiatan yang menjadi rangkaian Kongres XII PP IMDI tersebut berlangsung di Kampus IAI DDI Sidrap, Sabtu-Minggu (14-15/2/2026).

Salah satu diskursus yang dibahas dalam dialog tersebut adalah urgensi kader IMDI dalam melawan hoax dan hatespeech di ruang-ruang media sosial.

Menurutnya, perjuangan melawan hoaks bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan generasi muda.

“Media sosial hari ini menjadi ruang dakwah sekaligus ruang pertarungan narasi. Ketika ada pihak-pihak yang menyalahgunakan simbol agama untuk menyebarkan kebencian, maka di situlah pentingnya kehadiran kader-kader muda yang cerdas, kritis, dan berintegritas. Termasuk di dalamnya adalah IMDI ,” ujar Dr. Bunyamin.

Ia menegaskan, agama tidak boleh dijadikan alat legitimasi untuk menyerang kelompok lain atau menyebarkan informasi palsu. Sebab, sejatinya literasi digital harus berjalan beriringan dengan literasi keagamaan, agar umat tidak mudah terprovokasi oleh konten yang bersifat manipulatif.

Dr. Bunyamin menegaskan, agar para kader tidak meremehkan kekuatan media sosial. Sebab, ruang maya hari ini sangat menentukan arah opini publik. Ia bisa memframing kebaikan menjadi keburukan, dan sebaliknya, keburukan bisa tampak seolah-olah sebagai kebaikan.

“Seolah-olah hari ini kebenaran tidak lagi diukur dari sejauh mana data dan faktanya, melainkan dari tingkat keviralan dan kebisingannya. Padahal, dalam tradisi keilmuan dan ajaran agama, kebenaran harus berdiri di atas dalil, data, dan akhlak,” ujarnya.

Dr. Bunyamin menambahkan, generasi mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan di era digital. Mahasiswa tidak boleh diam, harus menjadi pelopor penyebar kebenaran dan penyejuk di tengah derasnya arus informasi.

“Ini adalah bagian dari jihad intelektual di era media sosial,” pungkasnya.

ddi abrad 1