Amputasi Perampas Aset: Bukan Sembunyi di Balik Drama Nikah Siri dan Poligami
Oleh: Suf Kasman
Perampasan Aset Koruptor: eksisi radikal tumor gamas. Ia mencabut nyawa kerakusan sistemik hingga ke akar sek. Tindakan invasif ini wajib tuntas dalam satu sayatan. Sebelum tubuh bangsa membusuk dipatuk kanibalisme bajingan.
Negara justru terjebak obsesi menghakimi praktik nikah siri, poligami dan zina. Undang-undang baru bagai kehilangan kompas, sibuk mengurusi wilayah selangkangan bersifat privat.
Pedang konstitusi harusnya menebas koruptor, bukan menggeledah praktik nikah siri, poligami dan zina. Isu domestik diledakkan, kembang api murahan pemaling fokus rakyat.
Perampasan Aset Koruptor seharusnya berdiri di garda depan penegakan keadilan hukum. Regulasi moralitas hanyalah asap tebal penyembunyi neoplasma penjarahan harta rakyat.
“Bukankah Allah mengharamkan harta tumbuh dari daging kotor penindas kaum rakyat jelata” (QS. Al-Baqarah: 188)?
Syariat sejati tegak di atas pondasi harta bersih, bukan sekadar pengintipan praktik nikah siri, poligami dan zina.
Zina memang noda, nikah siri tidak diakui negara, poligami wajib seizin isteri pertama. Tanpa permisi nyonya besar, ‘Negere’ki’ Matu’—leher bisa putus di tangan bini murka. Namun, bukankah khianat amanah rakyat: puncak kenistaan paling kelam di muka bumi?
Agenda utama: seharusnya mengejar harta haram melalui Perampasan Aset Koruptor secara radikal. Bukan memaksakan isu moralitas ‘praktik nikah siri, poligami dan zina’ menjadi prioritas tinggi dalam prosedur operasi hukum tebang pilih.
Fokus massa kini sengaja digiring pada selangkangan milik rakyat kecil melalui drama regulasi. Di saat bersamaan, sel kanker korupsi membelah diri ganas menuju jantung brankas Kedaulatan.
Seluruh sel saraf negara wajib bergerak melakukan perampasan Aset Koruptor segera. Matikan metastasis penjarah hak-hak kaum lapar kian menderita akibat kerakusan elit.
Lumbung amanah seharusnya menjadi nutrisi bagi jiwa dahaga, kini berubah menjadi prasmanan patogen penyamun. Fungsionaris mengalami kelumpuhan saraf memburu maling, terlalu sibuk mengintip anatomi lubang kunci kamar rakyat.
Kebenaran tidak boleh tersandera oleh disorientasi isu dangkal bin konyol ini. Upaya perampasan Aset Koruptor harus meledak, menghancurkan membran kepalsuan penutup nekrosis birokrasi.
Segera eksekusi perampasan Aset Koruptor sebagai amputasi pembusukan total bangsa. Inilah ‘Jihad Konstitusi’: membela hak si lapar adalah ibadah jauh lebih mulia daripada memburu pelaku nikah siri dan poligami.
Politisi memasang barikade moralitas akibat phobia jatuh miskin. Mereka tremor menghadapi perampasan Aset Koruptor, lalu merekayasa halusinasi publik tak berujung.
Fokuskan energi pada pembersihan hematoma korupsi sekarang juga tanpa kompromi! Biarkan dunia melihat keadilan Tuhan tegak melalui kemoterapi kezaliman sanggup memusnahkan metastasis penindasan.
Sekali lagi, hentikan segera kegaduhan praktik nikah siri, poligami dan zina pembius nalar publik. Sita harta mereka, kembalikan fisiologi marwah bangsa dari cengkeraman bandit bertopeng moral.
Senin, 19 Januari 2026 (SK)















