Kesal

0
53

Lensa Jurnalistik Islami

Suf Kasman

Semua orang tentu pernah merasa kesal!

Kesal sama orang merupakan luapan isi hati dan emosi yang tidak bisa ditahan lagi.

Kekesalan bisa muncul kapan saja. Biasanya, seseorang yang merasakan kekesalan dipicu oleh anasir tertentu.

Baik disebabkan oleh guncangan seseorang, suatu situasi di luar kendali, hingga perasaan kesal pada diri sendiri, karena tidak mampu melakukan hal sesuai dengan rencana.

Kekesalan bisa merusak hubungan baik dengan kawan. Karena ketika orang sudah kesal, apapun yang baik akan terlihat buruk menurut sorot matanya.

Orang yang kesal laksana virtual memorinya korsleting.

Perasaan arus pendeknya berkecamuk hebat dalam dada.

Kekesalan tak terbendung lagi, sehingga aliran listrik bergejolak siap membakar.

Luasnya dada tak tertampung daya maksimum gara-gara kekesalannya bergelora.

Tangga-tangga kekesalan itu biasanya bermula kemuakan yang dilampiaskan pada aktivitas fisik atau kegiatan lain yang bisa melepaskan ion-ion kekesalan.

Kekesalan tidak bisa menyelesaikan apa-apa, karena hanya meningkatkan tekanan volume darah yang tidak stabil.

Kekesalan bisa menjadi jalan tol menuju gerbang destruktif. Sebab, kekesalan mengarah pada kejengkelan. Kejengkelan berorientasi pada kebencian. Kebencian memproduksi silang sengketa.

Banyak kerugian yang terjadi akibat ulah orang yang tidak bisa mengontrol diri. Sebenarnya, orang yang selalu kesal akan merugi sendiri.

“Orang hebat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya dikala sedang kesal (marab).” (Hadits).

Pendeknya, jangan pernah membuat suatu inferensi dan konklusi ketika sedang kesal, karena air yang mendidih tidak bisa digunakan untuk berwudhu.

Kekesalan adalah musuh paling dekat setiap manusia.

Taklukkan ia, dan jangan biarkan kekesalan bisa tampil sebagai pemenang.

Sejumlah riset telah menunjukkan bahwa melepaskan kekesalan tidak menenteramkan kekesalan; ia justru menjadi pemantik umpatan dan naik pitam. Inilah yang pernah terjadi pada sepasang kekasih saat memesan nasi goreng di sebuah kafe.

Pesan Nasi Goreng

Sepasang kekasih masuk salah satu kafe di Kota Daeng, lalu salah seorang ‘nostess restaurant’ bertugas membantu tamu dengan menawarkan menu makanan yang hendak dipesan.

Si tamu pria langsung memesan nasi goreng, seraya berkata:

Daeng, pesan nasi goreng 2 (dua) piring ya.

Satu nasi goreng khas Bugis, yang satu nasi goreng kambing Pengayoman.

Kalo nasi goreng khas Bugis pedaaaas sekali, sementara nasi goreng kambing Pengayoman setengah pedas.

Kalo nasi goreng khas Bugis, nasinya harus penuh membumbunh Nasi goreng kambing Pengayoman ukuran standar ala Nusantara saja.

Daeng, kalo nasi goreng khas Bugis, pake kua konro’ bakar super pedas. Nasi goreng kambing Pengayoman pake bawang bombai campur saos tomat.

Kalo nasi goreng khas Bugis, tambahi kerupuk emping Kalimantan. Kalo nasi goreng kambing Pengayoman pake acar timun.

Adapun nasi goreng khas Bugis, taburi bubuk merica. Kalo nasi goreng kambing Pengayoman pake sambal terasi.

Satu lagi Daeng, jangan lama-lama ya..!

Dengan rasa kesal si pelayan ‘hostess restaurant’ berjingkrak-jingkrak masuk ruang dapur sambil berteriak kepada koki, … “Meja nomor dua, pesan dua piring nasi goreng, masing-masing pakai cabai 300 biji …”!!!

𝟮𝟱 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗱𝗵𝗮𝗻 𝟭𝟰𝟰𝟱 𝗛