Menyikapi AI Dengan Verifikasi dan Menjaga Sanad Ilmu

0
18

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc , MA.

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Swt.

Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad saw.

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita merenungkan satu realitas baru yang sedang mengubah wajah dunia, yaitu kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Di era digital ini, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan sudah menjadi bagian dari nadi kehidupan kita.

Mulai dari mesin pencari, media sosial, hingga robot yang bisa berpikir, semuanya digerakkan oleh AI.

Sebagai umat Muslim yang memegang teguh nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, bagaimanakah kita harus merespons ledakan teknologi ini?

Apakah kita harus menjauhinya karena takut, atau menerimanya mentah-mentah tanpa filter?

– Sidang jemaah yang berbahagia,

Islam adalah agama yang solutif dan tidak pernah usang oleh zaman.

Perkembangan akal manusia dalam menciptakan AI pada hakikatnya adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang menuntut kita untuk terus berpikir.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 191:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka’.”

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada ciptaan akal manusia—termasuk AI—yang sia-sia jika digunakan oleh orang yang beriman (ulul albab) untuk tujuan kebaikan.

Dalam kaidah fikih, para ulama Ahlu Sunnah telah mewariskan satu panduan emas yang sangat relevan untuk hari ini:

“Al-muhafadzah ‘ala qadimi al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah.”

Artinya: Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil inovasi baru yang lebih baik.

Kaidah ini mengajarkan kita untuk bersikap Tawassuth (moderat) dan Tawazun (seimbang).

Kita tidak boleh menjadi kaum ekstrem kanan yang antipati terhadap teknologi, menolak AI, dan menganggapnya sebagai bid’ah yang menyesatkan.

Namun, kita juga jangan menjadi kaum ekstrem kiri yang mendewakan AI, hingga melupakan batasan syariat dan kehilangan kemanusiaan kita.

Oleh karena itu, mari kita jadikan AI sebagai wasilah (sarana) untuk meningkatkan takwa dan meluaskan dakwah.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam memanfaatkan AI, ada dua benteng etika Islam yang wajib kita tegakkan berdasarkan dalil yang sahih:

1. Prinsip Tabayyun (Verifikasi Informasi) dan Validasi Data

Saat ini, AI Generatif bisa membuat artikel, gambar, bahkan video palsu (deepfake) dalam hitungan detik.

Jika kita tidak hati-hati, kita bisa menjadi korban atau bahkan penyebar fitnah digital. Allah Swt. mengingatkan kita dengan keras dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتَصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Rasulullah saw. juga memberikan peringatan yang sangat relevan dengan fenomena hoaks dan disinformasi berbasis AI saat ini melalui sabdanya dalam Hadis Riwayat Muslim:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya: “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang berkaitan dengan apa yang dia dengar.”

Teks agama, hadis, atau fatwa yang dihasilkan oleh AI wajib kita verifikasi ulang kepada para ulama.

AI bisa mengolah data, tetapi AI tidak memiliki iman, tidak memiliki ruh, dan bisa mengalami “halusinasi” data.

2. Menjaga Sanad Keilmuan dan Pentingnya Guru
Belajar agama tidak boleh hanya bersandarkan pada chatbot AI.

Islam menekankan pentingnya sanad (silsilah keilmuan) yang bersambung sampai ke Rasulullah saw.

Seorang ulama besar tabi’ut tabi’in, Imam Abdullah bin Al-Mubarak, menegaskan dalam riwayat Imam Muslim:

إِنَّ السَّنَدِ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا السَّنَدُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Artinya: “Sanad itu bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka setiap orang akan berkata apa saja yang dia kehendaki (tentang urusan agama).”

Belajar agama memerlukan keteladanan (uswah), sentuhan hati, bimbingan akhlak, dan keberkahan dari seorang guru secara langsung—sesuatu yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh barisan kode algoritma komputer secerdas apa pun.

– Jemaah yang dimuliakan Allah,

Mari kita jadikan AI sebagai pelayan kita untuk berbuat kebaikan.

Gunakan AI untuk membantu riset ilmu pengetahuan, mendesain konten dakwah yang kreatif, dan mempermudah urusan kemanusiaan.

Namun, pastikan kendali tetap ada di tangan iman dan ketakwaan kita.

Jangan biarkan teknologi mengendalikan hati dan merusak moral kita.

Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita menjadi umat yang cerdas secara digital, namun tetap kokoh secara spiritual.

– Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

ddi abrad 1