Ilmu Syari’ah Berkah Dunia Akhirat

0
12

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Adab Menuntut Ilmu Syari’ah yang diberkahi dunia akhirat

Tulisan ini membahas secara komprehensif urgensi dan implementasi adab dalam proses menuntut ilmu berdasarkan syariat Islam.

Dalam epistemologi Islam, ilmu bukan sekadar transfer informasi (transfer of knowledge), melainkan sebuah cahaya ilahi yang menuntut kesucian jiwa penuntutnya.

Melalui metode analisis tekstual terhadap Al-Qur’an, Hadits, dan khazanah literatur klasik (turats), tulisan ini merumuskan empat dimensi utama adab: adab terhadap diri sendiri, adab terhadap majelis, adab terhadap guru, dan adab pasca-mendapatkan ilmu.

Kajian menunjukkan bahwa kemerosotan adab menjadi faktor utama hilangnya keberkahan ilmu di era modern.

– Pendahuluan

Dalam pandangan hidup Islam (Islamic worldview), ilmu pengetahuan menempati posisi yang sangat agung.

Namun, Islam tidak pernah memisahkan antara proses pencarian ilmu (thalabul ‘ilmi) dengan keluhuran budi pekerti (adab).

Para ulama salaf terdahulu sepakat bahwa mempelajari adab merupakan prasyarat mutlak sebelum seseorang mendalami suatu cabang ilmu.

Pengabaian terhadap adab hanya akan melahirkan intelektual yang cerdas secara kognitif namun kering secara spiritual dan moral.

Oleh karena itu, rekonstruksi adab menuntut ilmu berbasis syariat menjadi urgensi yang tidak dapat ditawar.

– Adab terhadap Diri Sendiri (Internal Penuntut Ilmu)

A. Mengikhlaskan Niat karena Allah SWT

Ikhlas adalah rukun batin dalam menuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu wajib membersihkan niatnya dari tujuan-tujuan duniawi seperti popularitas, kedudukan, atau mendebat orang-orang bodoh.

Allah SWT berfirman mengenai kewajiban ikhlas:

وَمَاۤ أُمِرُوَّاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَاۤءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Ketidakikhlasan dalam menuntut ilmu syar’i diancam dengan hukuman yang berat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang (seharusnya) dimaksudkan untuk mencari rida Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

B. Menyucikan Hati dari Maksiat

Ilmu adalah cahaya (nur), dan cahaya Allah tidak akan menetap pada hati yang dikotori oleh dosa.

Imam Asy-Syafi’i mengabadikan nasihat gurunya, Imam Waki’, dalam syairnya yang terkenal:

“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat. Dan ia memberitahuku bahwa ilmu adalah karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

– Adab saat Berada di Majelis Ilmu

A. Mendengarkan dengan Diam dan Seksama (Al-Inshat)

Ketika ilmu sedang disampaikan, seorang penuntut ilmu wajib menenangkan raga dan pikirannya, serta fokus mendengarkan tanpa memotong penjelasan. Allah SWT berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204).
(Para ulama menggunakan ayat ini secara qiyas untuk majelis ilmu yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah dan hadits).

B. Mengikat Ilmu dengan Catatan

Mengandalkan hafalan semata tanpa menulis berisiko hilangnya ilmu akibat sifat lupa manusia. Rasulullah SAW bersabda:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

– Adab terhadap Guru dan Ulama

A. Menghormati dan Memuliakan Guru
Guru adalah wasilah (perantara) sampainya ilmu agama kepada penuntut ilmu.

Oleh karena itu, menghormati guru adalah bentuk pengagungan terhadap ilmu itu sendiri. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak-hak ulama (guru) kami.” (HR. Ahmad, 5/323).

B. Bertanya dengan Cara yang Sopan

Seorang penuntut ilmu diperbolehkan bertanya untuk memperjelas pemahaman, namun harus dilakukan dengan retorika yang santun, waktu yang tepat, dan tidak berniat menguji gurutta.

Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan: “Ilmu itu adalah gudang, dan kunci pembukanya adalah pertanyaan.”

– Adab setelah Mendapatkan Ilmu

A. Mengamalkan Ilmu

Tujuan akhir dari ilmu bukan sekadar wawasan, melainkan perubahan perilaku dan peningkatan kualitas ibadah.

Allah SWT mengecam keras orang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya:

كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3).

B. Menyebarkan Ilmu (Dakwah)

Setiap ilmu yang didapatkan membawa amanah untuk disampaikan kepada umat manusia demi tegaknya syiar Islam. Rasulullah SAW bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari).

– Kesimpulan

Adab menuntut ilmu dalam syariat Islam bukan sekadar formalitas moralitas, melainkan pilar epistemologis yang menentukan validitas dan keberkahan ilmu seseorang.

Dimulai dari pembersihan niat di dalam hati, menjaga etika di majelis ilmu, memuliakan guru yang menjadi sumber sanad, hingga mengaktualisasikannya dalam bentuk amal nyata dan dakwah.

Kehilangan adab dalam proses belajar akan memutuskan hubungan spiritual antara penuntut ilmu, guru, dan esensi ilmu itu sendiri sebagai hidayah.

– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

Referensi

1. Galigo SBA. (2016). Adab Menuntut Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Darussalam.
2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (t.th.). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Thuq an-Najah.
3. Sijistani (Abu Dawud), Sulaiman bin al-Asy’ats. (2009). Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar ar-Risalah al-Alamiyyah.
4. Al-Hakim al-Naisaburi, Muhammad bin Abdullah. (1990). Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
5. Al-Zarnuji, Burhanul Islam. (t.th.). Ta’lim al-Muta’allim Thariq At-Ta’allum. Kairo: Dar al-Afaq al-Arabiyyah.
6. Ibnu Jama’ah, Badruddin. (2012). Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Muta’allim. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
7. Abu Zaid, Bakr bin Abdullah. (2002). Hilyah Thalibil ‘Ilmi. Riyadh: Dar al-Ashimah.

ddi abrad 1