Muballig Pejuang Dakwah

0
48

Lensa Jurnalistik Islami

Suf Kasman

Di bulan Ramadhan ini, Muballig punya kontribusi superior terhadap umat.

Muballig telah mengorbankan waktu dan tenaga demi progres dan evolusi kemajuan ilmu agama di pelosok mayapada.

Harakah dakwah yang dipelopori Muballig, selain menyeru masyarakat kepada kebenaran juga mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

Berprofesi sebagai Muballig berarti bersiap menjadi substitusi perjuangan Rasullullah ﷺ dalam melestarikan nilai-nilai keislaman, dari generasi hingga leluri berikutnya tanpa putus.

Begitu andil Muballig mengkampanyekan nasihat & petuah agama sesuai dengan domain bahwa Islam merupakan agama rahmatan Lil ‘alamin.

Saat menunaikan misi suci, Muballig tidak mengindra siang dan malam.

Muballig rela menyulut secercah cahaya dalam kegelapan, menuntun umat untuk memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat.

Kendati sedikit letih terlihat di wajahnya, Muballig tak pernah kendur vitalitasnya menyampaikan ayat demi ayat “Balliguu ‘annii walau ayat” (Hadits)

Sungguh besar pengabdianmu wahai tuan Alim (Muballig).

Engkau turut membentuk kepribadian dan akhlak umat.

Tugas muliamu membangun kepercayaan masyarakat.

Maka, berdakwah-lah sekaligus menjadi opinion leader di tengah masyarakat majemuk Indonesia.

Bertutur katalah secara sopan santun, sambil memberikan contoh teladan yang baik.

Jangan mudah menuduh ahli bid’ah terhadap golongan lain.

Hindari mengobral cetusan ‘haram’ di atas podium.

Sebab, bila engkau terus-menerus melakukan ‘sangkaan’ itu, berarti engkau memvonis yang belum tentu valid kebenarannya.

Jangan lekas memutuskan hukumnya: ini ‘halal’ dan itu ‘haram’, selama halal dan haramnya suatu perkara masih membutuhkan penalaran para ahli dari berbagai bidang.

Pendeknya, jangan bikin suasana gadu, serta hindari melakukan provokasi dan menghasut umat.

Menjadi seorang Muballig, memang aneka tantangan dan rintangan kerap menghadang.

Seperti dongengan dari teman saya, Ustadz Ikhwan Jalil.

Salah seorang Muballig terburu-buru mengejar tausiyah di salah satu masjid di kota ini.

Sehingga motor Honda tuanya dipacu dengan kecepatan super kilat meliuk-liuk. Mungkin lari 100 kilo meter perjam.

Soalnya, ada isyarat keterlambatan menunaikan tugas mulia.

Belum lagi lalu lintas macet menjalar nan parah di jalan raya.

Bila telat memberi ceramah, bisa-bisa Rugi, tidak dapat serangan angpao oleh bendahara masjid.

Rupanya keberuntungan masih berkiblat padanya, Muballig tsb tiba di masjid tepat waktu acara dimulai, kendati grusa-grusu.

Sesampainya di dalam masjid, sang Muballig langsung dipersilahkan MC protokol untuk membawakan senandung tausiyahnya.

Tiba-tiba,

Ha ha ha …

Semua jemaah masjid ketawa terbahak-bahak melihat penampilan Muballignya menaiki tangga mimbar.

Mengapa jemaah tertawa terpingkal-pingkal?

Ternyata, Muballignya masih mengenakan Helm Full-Face.

Saking tergopoh-gopohnya, sehingga lupa membuka helem tengkoraknya masuk masjid.

𝟏𝟐 𝐑𝐚𝐦𝐚𝐝𝐡𝐚𝐧 𝟏𝟒𝟒𝟓 𝐇