Gerbang 2026: Muhasabah di Tengah Badai Negeri
Oleh: Suf Kasman
Tak Terasa, sisa tiga hari lagi tiba di gerbang tahun 2026—bukan sekadar pergantian angka, melainkan ujian iman nyata di tengah badai negeriku kian keras.
Di sinilah keegoan ditimbang, dan nurani dipanggil menentukan arah.
Seharusnya, di detik-detik peralihan tahun ini, ada perayaan persatuan ridha Tuhan Semesta Alam: harapan memancar laksana mentari pagi, senyum lahir dari hati bersih, serta langkah bergerak dalam irama syukur.
Namun, kenyataan berbicara sebaliknya.
Bara kebencian sesama anak negeri masih menyala, saling serang-menyerang terus bergaung,
Mereka bertengkar, sedikit-sedikit mau baku hantam, lupa bahwa negeri ini bukan panggung pertarungan, melainkan ruang untuk saling meneduhkan dan menenteramkan.
Api itu pun semakin menyebar ke ruang sosial, merusak percakapan publik, mengeruhkan hubungan antar warga, dan menipiskan rasa percaya selama ini menjadi penyangga kebersamaan saat bertahan di tengah badai negeri.
Anehnya, hampir semua orang mendadak jadi komentator kesiangan—bahkan penjual pisang di pasar mengulas ‘kondisi bangsa’. Meski lidahnya terpeleset; niat hati menyebut istilah ‘termul-termul’, yang meluncur justru ‘termos-termos’.
Dari kegaduhan semacam inilah retakan menjadi nyata. Ia menjalar ke generasi sedang tumbuh—kebencian di antara ‘tunas bangsa’ bukan lagi sekadar isu, melainkan pemandangan harian konkret di tengah badai negeri.
Jalan menuju perpecahan semakin terbuka lebar ketika sebagian pihak masih betah memeluk kubu dan kepentingannya sendiri.
Banyak bisikan ketus terdengar, Dalang kegaduhan ini tidak lain adalah para buzzer.
Jika tak sanggup menertibkan pasukan buzzer dan termul pembuat bising itu, silakan minggir—beri kuasa kami selesaikan secara adat.
Kecuali, jika mereka menghadang dengan preman brewok bertato sangar usai cabut gigi.
Di titik ini, persatuan ‘Padamu Negeri’ koyak—bukan oleh lawan, melainkan oleh tangan-tangan sendiri menyulut api di lumbung rumahnya.
Saat kewarasan dikorbankan demi ambisi di tengah badai negeri, kekecewaan menjelma duri menghujam jantung Ibu Pertiwi.
Gotong royong dulu diagungkan, kini layu tergilas sinisme dan tatapan penuh curiga.
Negeri ini bagai panggung tanpa sutradara; arena gaduh kehilangan kendali.
Di rimba digital, debat kusir ramai suara namun hampa makna.
Kebenaran kian terpojok, sementara sang mastermind kepalsuan bermanuver melepaskan jerat, disokong kuasa modal dan jejaring pengaruh di sekelilingnya.
Begitu lancang hukum dipermainkan, ditarik ke sana kemari demi memuaskan syahwat kekuasaan. Mereka bersuara kritis dibungkam dan dijebloskan ke jeruji besi, sementara sang penjilat justru diberi panggung terhormat.
Luka-luka sosial ini bukan sekadar kabar burung; ia nyata, mengendap menjadi nanah ketidakpercayaan melelahkan di tengah badai negeri.
Saudaraku sebangsa dan setanah air!
Sudahilah fragmen negatif ini.
Musuh nyata: kezaliman, politik adu domba, kerakusan oligarki, hingga serbuan Tenaga Kerja Asing China merampok hasil bumi Indonesia—semua itu perlahan mengikis kepercayaan publik di tengah badai negeri.
‘Ala Kulli Hal,
Saat fajar 2026 menyingsing, marilah bermuhasabah—membersihkan hati dan kembali menjahit persatuan nyaris koyak, demi negeri lebih waras dan beradab.
28 Desember 2025
















