Muhasabah Kata Tidak

0
122

Muhasabah Kata “Tidak”

Kita telah menapaki perjalanan kehidupan sepanjang tahun 2025 dengan segala dinamika yang menyertainya.

Di dalamnya tersimpan pengalaman yang membentuk kedewasaan, pelajaran yang menumbuhkan kesadaran, serta peristiwa yang mengajak kita berhenti sejenak untuk memahami diri.

Ada hal-hal yang pantas dilepaskan dengan ikhlas, ada pula yang layak ditata kembali agar langkah ke depan menjadi lebih terarah dan bermakna.

Muhasabah diri merupakan ikhtiar batin untuk membuka ruang kejujuran dalam hati, menata jiwa, dan merawat kedalaman rasa. Ia adalah kerja sunyi yang membawa kita semakin akrab dengan diri sendiri.

Melalui muhasabah, kita belajar membebaskan batin dari dorongan-dorongan yang sering mengikat secara halus, seperti kebutuhan akan pengakuan, keinginan untuk selalu diterima, dan kebiasaan menilai realitas di sekitar secara berlebihan. Semua itu perlahan menguras energi batin dan menjauhkan kita dari pusat kesadaran diri.

Refleksi diri menuntut kesungguhan. Ia memerlukan daya tahan batin, kesediaan untuk jujur, serta nyala semangat yang terus dirawat.

Dalam keheningan refleksi itulah jiwa menemukan ruang untuk bernapas, menyusun ulang orientasi hidup, dan meneguhkan nilai yang ingin dijaga.

Dalam kajian pengembangan diri, terdapat satu nasihat sederhana yang menyentuh inti kematangan jiwa, yaitu kebiasaan berdiri tegak dalam mengucapkan kata tidak.

Kata ini sering dianggap sepele, padahal di sanalah terletak batas sehat antara diri dan dunia.

Kecenderungan untuk selalu mengiyakan berbagai tawaran hidup kerap menandakan kaburnya arah batin. Jiwa menjadi mudah terombang-ambing, kehilangan kejelasan sikap, dan menjauh dari tujuan yang sejatinya ingin dicapai.

Melalui muhasabah, kita diajak membiasakan kembali jiwa dengan kata tidak sebagai sikap sadar. Ia dapat hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.

Tidak untuk menjadi sosok yang merasa harus mengurus segalanya. Tidak untuk menerima setiap tawaran yang datang. Tidak untuk berkomentar di luar wilayah keilmuan dan tanggung jawab.

Tidak untuk mencibir dan meremehkan. Tidak untuk mencari alasan atas kelalaian diri. Tidak untuk berlebihan di ruang media sosial yang sering menyita ketenangan batin.

Rangkaian kata tidak yang lahir dari kesadaran menunjukkan kokohnya pagar batin serta kejernihan arah hidup yang sedang ditempuh.

Muhasabah ini sepenuhnya diarahkan ke dalam diri. Ia tidak dimaksudkan untuk menilai, apalagi memberi cap pada orang lain.

Ia adalah dialog jujur antara hati dan kesadaran, sebuah upaya merawat kemerdekaan batin agar tetap utuh di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Marilah menyambut tahun baru dengan hati yang lapang dan penuh kegembiraan. Setelah itu, tibalah saatnya mengikat kembali tali batin dengan prinsip kata tidak sebagai penanda kedewasaan jiwa, penjaga arah hidup, dan peneguh makna dalam setiap langkah ke depan.

Makassar, 1 Januari 2026,-

Nur Salim Ismail,-

Wakil Pimpinan PP Ihyaul Ulum DDI Baruga Majene

ddi abrad 1