Nuzulul Qur’an

0
44

Lensa Jurnalistik Islami

Nuzul al-Quran di Bumi Cendrawasih

Suf Kasman

Malam Nuzul al-Quran, aku hadir di Bumi Cendrawasih menghikayatkan umat tentang aneka hikmah dan fadhilah Al-Qur’an.

Masyarakat Bumi Cendrawasih begitu antusias mendengar melodi Nuzul al-Quran yang aku dendangkan.

Bahwa kala itu, di langit biru kota Mekkah menjelang larut malam, semburat cahaya purnama berseri ikut menyaksikan peristiwa agung malam Nuzul al-Quran.

Apa itu Nuzul al-Quran?

Pertanyaan yang saya lontarkan kepada jemaah masjid Bumi Cendrawasih tanpa mengharap jawaban.

Kulanjutkan paparan tausiyahku, bahwa Nuzul al-Quran  adalah peristiwa awal turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfuz ke langit dunia kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Rasul pilihan sebagai petunjuk dalam kehidupan.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang Haq dan yang bathil). (QS. Al-Baqarah:185)

Seketika itu, Al-Qur’an menjelma menjadi semburat cahaya, menembus tebalnya dinding kelam, lalu menerangi sebagian hati orang Arab Badui yang gelap gulita, bahkan hadirnya Al-Qur’an mengungkap tabir misteri kehidupan.

Sungguh, Al-Qur’an merupakan kidung-kidung rindu bagi siapa saja melantunkan bait demi bait sucinya.

Setiap ayat Al-Qur’an adalah tajalli dan tanzil yang afdhal, menyentuh jiwa yang haus akan kebenaran.

Siapa pun membaca Al-Qur’an akan mendapat secercah rahmat, pahala dan keselamatan. Malah, menumbuhkan semakin cinta kepada Allahﷻ.

Betul-betul Al-Qur’an sebagai sumber kehidupan dalam keheningan, merevitalisasi jiwa yang linglung nan gelisah.

Syahdan, Al-Qur’an, simfoni yang mengalun, mengisi ruang hati yang sepi.

Menyenandungkan Nuzul al-Quran di Bumi Cendrawasih punya kesan tersendiri. Nampaknya saudara kita di Bumi Cendrawasih masih sangat haus mengenai ilmu agama.

Kurang lebih 10 tahun aku diundang berdakwah di Bumi Cendrawasih  ini, Alhamdulillah , tidak ada kendala dalam mendakwahkan ilmu tauhid dan sunnah. Apalagi berdakwah di Bumi Cendrawasih  telah mendapat dukungan dari aparat keamanan.

𝐓𝐞𝐥𝐮𝐤 𝐁𝐢𝐧𝐭𝐮𝐧𝐢, 𝟏𝟕 𝐑𝐚𝐦𝐚𝐝𝐡𝐚𝐧 𝟏𝟒𝟒𝟓 𝐇