SOPIR MABUK: Patuhi Rambu-Rambu Syariat
Oleh: Suf Kasman
Fajar suci kian membayang. Jalan kehidupan bangsa terasa kian sesak—bukan jumlah kendaraan, melainkan bangkai ego berebut lajur. Emosi brutal menekan gas tanpa akal. Ambisi memuja kecepatan, seolah kegilaan identik keberanian.
Banyak merasa piawai mengemudi, enggan menoleh kiri-kanan. Trotoar hak rakyat dilibas tanpa ampun. Rambu syariat dianggap sampah. Rambu berdiri kokoh, nyaris dianggap hiasan mati tanpa taring di hadapan syahwat kekuasaan biadab.
Rambu syariat tidak diciptakan memperlambat perjalanan. Ia penjaga arah agar tak tergelincir, pembatas agar tak melampaui nurani. Ia peringatan tikungan tajam sebelum kecelakaan moral permanen memusnahkan martabat.
Saat rambu syariat sengaja diinjak, kebohongan memperoleh jalur bebas hambatan. Fitnah menjadi bahan bakar utama. Permusuhan dipelihara bak tontonan gladiator. Kebenaran dipaksa menepi. Kejujuran dianggap kotoran, dibuang ke selokan.
Satu dekade negeri dipacu kecepatan bunuh diri. Tenaga Kerja Asing China menyusup bebas, menumpang arus serakah kaum pengkhianat. Sopir usai masa tugas masih diam-diam memutar setir ugal-ugalan. Telapak panas nafsu kuasa. Tanpa tata krama, tanpa sisa rasa malu sedikit pun. Tau De’ Siri’na !
Mesin polemik menderu tanpa rem. Ban-ban bergerigi melumat rakyat kecil tak berdaya. Konflik dipelihara sengaja agar terus membara, membakar sisa-sisa harapan mencoba bertahan hidup.
Penumpang waras berteriak mengingatkan arah Jalan protokol Shirathal Mustaqim. Peringatan diabaikan Sopir Bus Bagong angkuh bin dungu. Suara luar dibungkam, terkubur di bawah riuh rendah puja-puji penjilat haus sisa makanan.
Suara rakyat dipatahkan paksa di tengah jalan. Kelistrikan nurani dicabut hingga korslet menganga. Sengaja dibiarkan padam tanpa niat menyambung. Kegelapan total menguasai kabin kepemimpinan.
Rambu syariat dituduh musuh kemajuan. Keadilan dianggap penghalang ambisi buta tak mengenal batas. Sopir mabuk terus memacu tanpa menoleh kaca spion, menghamba kecepatan fana menuju lubang kubur sejarah.
Linimasa berubah menjadi arena pembantaian karakter. Sesama anak bangsa saling menyeruduk tanpa arah, Sippakasiri’ na Sibbonynyak . Saling mempermalukan tanpa dosa, menjatuhkan tanpa sisa empati demi sekerat tulang pengakuan semu.
Akal sehat diturunkan paksa di bahu jalan. Nalar dicopot dari dashboard. Emosi negatif dibiarkan menyetir sendirian. Rambu syariat dilindas, lalu ditertawakan. Seakan tak lagi relevan di tengah sorak-sorai kemunafikan.
Bulan pembersihan batin sudah di ambang pintu. Bukan sekadar hiasan kalender, melainkan razia besar-besaran batin kotor. Kawasan tertib iman-taqwa menanti dengan marka tebal dan vonis keras bagi para pelanggar moral.
Patuhilah rambu syariat jika ingin selamat di jalur protokol Nusantara. Berhenti pada lampu merah dusta. Tunjukkan dokumen SIM asli jika punya; jangan pelihara polemik palsu. Stopkan langkah di jalur macet perselisihan tak berujung.
Kepala batu sebaiknya ditilang aparat hukum syariat Islami, bukan mereka gemar dagang perkara di bawah meja. Ibadah tanpa patuh rambu syariat hanya memperpanjang lapar, tanpa pernah menyentuh jalan lurus.
Tubuh mungkin sujud, jiwa tetap liar merampok. Esensi takwa tercecer di _bumper_ belakang karena pengemudi menolak disiplin batin. Hanya pengemudi jujur mengerem saat kebenaran menuntut berhenti bakal selamat dari maut sejarah.
Tanpa rambu syariat, kendaraan kebencian melaju tanpa rem menuju neraka dunia. Hancur, dikubur tanpa doa, tanpa pembela, tanpa kehormatan. Na‘udzubillah .
Jum’at, 6 Februari 2026 (SK)














