Kok, Malah Saling Lapor
Oleh: Suf Kasman
Fenomena lapor-melapor belakangan ini hampir mirip musim hujan di Makassar: datang tiba-tiba, membuat becek, mengalir menghanyutkan, kadang disertai petir tuntutan yang menggelegar.
Entah sejak kapan, sebagian orang mendadak punya hobi baru yang menguras energi—menjadi “tukang lapor” demi meng-smackdown sesama.
Belakangan ini terlihat jelas: tersinggung sedikit di media sosial, jari langsung menari di atas layar. Bukannya mengambil air wudhu untuk mendinginkan hati—atau minimal beristighfar—yang terjadi justru sebaliknya: sibuk menyusun draf somasi untuk “melumpuhkan” lawan.
Seolah-olah kantor polisi telah berubah menjadi customer service pribadi. Ada sedikit masalah hidup, bukannya mengadu kepada Tuhan Yang Maha Esa, malah bergegas ke meja penyidik.
Lihat saja panggung nasional. Pernyataan Rismon Sianipar yang menyeret nama Jusuf Kalla (JK) terkait dugaan pendanaan kasus ijazah palsu kembali memicu kegaduhan. Kasus ijazah palsu ini sungguh memuakkan, kenapa tidak kunjung selesai?
Logikanya sederhana: jika dokumen itu asli, tak perlu energi sebesar itu—tak perlu biaya besar, tak perlu menyewa banyak pengacara. Cukup tampilkan ijazah asli lima detik di depan kamera, selesai perkara.
Namun yang muncul justru respons berupa rencana pelaporan ke pihak berwajib. Tokoh sekelas JK pun tak luput dari pusaran ini.
Di sisi lain, muncul pertanyaan: begitu banyak laporan masuk ke kepolisian, tetapi tak sedikit pula yang menguap tanpa kejelasan. Mengapa?
Bisa jadi aparat kewalahan memilah mana laporan yang benar-benar mencari keadilan, mana sekadar “bumbu dapur” politik atau pelampiasan dendam pribadi. Akibatnya, kasus genting justru tertimbun oleh tumpukan laporan para “penghobi”.
Jika dicermati, panggung lapor-melapor diisi beragam karakter. Ada “Pencari Perhatian” yang menjadikan laporan sebagai jalan cari muka. Ada “Pendendam Halus” yang menjatuhkan orang lain dengan bungkus kepedulian. Ada pula tipe “Lapor Setengah Benar”—menyampaikan fakta sepotong sambil menyembunyikan bagian penting.
Dalam keseharian, fenomena ini bukan hal asing. Ada saja yang gemar mappalettu’-lettu’—membawa cerita ke sana kemari, menyeret aib orang lain. Ironisnya, cerita yang dibangun sendiri kerap berbalik membuka dirinya. Orang seperti ini sulit diajak bekerja sama—’pakkasolang loppo’.
Di tengah riuh kebiasaan ini, imajinasi pun ikut berkelakar.
Kalau harus mencari “maskot” paling cocok, mungkin jawabannya agak mengejutkan: kambing.
Mengapa kambing? Karena setiap kali berkumpul atau merasa ada sesuatu yang mengusik, mereka serempak bersuara: “mbeee… mbeee…”—itu suara kambing betina.
Kalau terdengar “mbooo’… mbooo’…”, itu suara kambing jantan.
Jika sesekali terdengar “mbeee… mbooo’…”, nah… itu suara kambing “calabai”.
Dan kalau nadanya berubah jadi “mbak… mbak…”, jangan kaget—barangkali itu kambing “versi Jawa”. Ha ha.
Entah bagaimana, semuanya terdengar seperti orang yang sedang mengadu tanpa jeda. Seolah tanpa pelatihan, mereka sudah mahir dalam seni “melaporkan”.
Tentu, kambing bukan satu-satunya kandidat—jika metafora ini diperluas.
Ada burung beo. Ia menirukan apa saja yang didengar—dari satu tempat ke tempat lain, dari satu telinga ke telinga berikutnya. Tanpa saringan.
Ada pula anjing penjaga—versi yang lebih terhormat. Ia menggonggong bukan untuk menjatuhkan, melainkan memberi peringatan. Ada ancaman, ada suara—jelas dan pada tempatnya.
Berbeda lagi dengan tikus—atau dalam istilah populer, rat. Ia bekerja dalam senyap, mengumpulkan lalu membocorkan. Tak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa.
Namun dari semua itu, kambing tetap sulit tergeser dari posisi puncak—setidaknya dalam konteks candaan. Suaranya yang khas, serempak, dan berulang seolah mengingatkan: jangan-jangan yang terjadi bukan sekadar melapor, tetapi juga “membeo”.
Sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya tetap tercium. Laporan yang tidak jujur pada akhirnya akan membuka dirinya sendiri.
Yang lebih memprihatinkan, perilaku semacam ini kadang datang dari mereka yang bergelar tinggi—yang pernah saya temui. Padahal, gelar semestinya mencerminkan kedewasaan, bukan menjadi topeng bagi sikap hipokrit.
Introspeksi diri adalah cermin terbaik sebelum menilai—apalagi melaporkan—kesalahan orang lain. Memangnya kamu juga tidak punya kesalahan?
Sebelum menunjuk orang lain, pastikan tangan sendiri cukup bersih dari debu kemunafikan. Gelar setinggi langit tak berarti apa-apa jika etika justru tergeletak di dasar bumi.
Dalam perspektif Islam, tabayyun—klarifikasi—adalah prinsip utama. Agama ini mengajarkan kedamaian. Namun realitasnya, sebagian orang justru lebih senang melihat orang lain tersandung masalah daripada melihat mereka tenang dalam kebaikan.
Kebenaran tidak perlu diteriakkan dengan urat leher tegang, apalagi dipamerkan untuk menjatuhkan. Biarkan fakta berbicara, bukan ego yang saling sikut.
Saling lapor hanya memperpanjang konflik. Sering kali, penyelesaian terbaik lahir dari dialog, bukan dari meja hijau. Yang dibutuhkan adalah solusi yang lebih membumi.
Selesaikan persoalan dengan kepala dingin. Lebih baik merendahkan hati untuk berdamai daripada meninggikan ego yang ujungnya hanya menguras dompet dan pikiran.
Pada akhirnya, jika dua orang bertikai lalu saling melapor, siapa yang paling bersalah? Yang paling layak disalahkan adalah ego yang keras kepala.
Kita pandai menyusun laporan, tapi sering lalai menyusun kejujuran.
Kita cepat menunjuk kesalahan orang lain, tapi lambat mengakui kesalahan sendiri.
Maka jangan heran jika yang ramai bukan keadilan, melainkan laporan.
7 April 2026 M
SK
















