Gencatan Senjata Tapi Dendam Selamanya
Oleh: Suf Kasman
Dunia hewan itu panggung laga tanpa hulu ledak.
Kucing garong mengerang keras demi sejengkal wilayah. Anjing menggonggong seperti kerasukan saat asing mendekat. Ayam jago pun tak mau kalah—saling patuk sampai bulu beterbangan, darah menetes, bahkan berantem menjelang malam sunyi—semata membuktikan siapa paling perkasa.
Sederhana.
Binatang bertarung sekadar urusan perut dan rasa aman—tidak lebih.
Manusia?
Ah, kita ini naik kelas—kelas licik. Kita bertarung demi ego, dibungkus rapi dalam koper diplomasi: dikunci emas, dipoles senyum, dilabeli “demi perdamaian”.
Itulah tampak dalam sengketa Amerika, Israel, dan Iran.
Perseteruan lebih buas dari sekadar rebutan tulang, sebab di dalamnya ada akal licik, kalkulasi dingin, dan seni berpura-pura level profesor—cum laude dalam menunda ledakan.
Lalu, apa itu gencatan senjata?
Mari jujur saja.
Ia tak lebih dari adegan klasik suami-istri baru saja perang dunia di kamar utama, lalu tiba-tiba ada tamu datang—‘pattale undangan’. Seketika suara melembut, wajah dipaksa teduh, tangan sigap menyuguhkan ‘kopi maccandu’ ditemani ‘sanggara janda pella’. Obrolan jadi sopan, tawa terdengar—meski seraknya masih menyimpan bara.
Padahal di bawah meja?
Kaki sudah ancang-ancang “tendangan finalti”, lutut saling senggol, tangan mengepal ala Mike Tyson—siap meledak kapan saja—menahan godaan melempar cangkir keramik Tionghoa: barang impor, emosi lokal—panas, cepat naik pitam.
Begitu tamu pamit, pintu tertutup…
Bukan lagi “silakan duduk”, tapi “silakan lanjut ronde berikutnya”.
Iyaro birangnge, tea cau’.
Persis dua orang ‘Paddare’ lame kandora’ (tukang kebun ubi) ribut soal batas kebun.
Di depan Pak RT, mereka berangkulan, jabat tangan, bahkan sempat foto pakai HP Infinix—senyum lebar, seolah damai turun dari langit. Besok pagi? Pagar diam-diam bergeser lima sentimeter ke arah lawan. Pelan, rapi, sambil bersiap serangan mendadak lagi.
Perang fisik boleh berhenti.
Perang strategi? Jalan terus.
Dalam lensa jurnalistik saya, begitulah wajah hubungan Washington, Tel Aviv, dan Teheran.
Gencatan senjata hanyalah jeda teknis—waktu membersihkan laras senapan bomber di balik tirai.
Atau sederhananya:
Ia seperti mesin kendaraan hidup tapi tidak berjalan. Suaranya halus, seolah tenang. Di dalam, piston tetap bekerja—menunggu satu sentuhan kecil pada pedal gas…
…dan semuanya kembali meledak.
Diplomasi ibarat mengganti wiper saat badai pasir: pandangan sedikit jernih, tapi badai tetap menghantam tanpa ampun. Maka ketika utusan musuh datang membawa pujian di mulut, waspadalah—itu bukan tanda damai, melainkan tanda mereka sedang mengatur napas dan posisi moncong rudal jelajah jarak jauh.
Rupanya, damai juga punya jadwal tayang.
Di depan kamera, jas rapi, senyum lebar, dunia bertepuk tangan. Begitu kamera mati—tangan sama kembali mengepal. Disetrika hanya penampilan; kusutnya dendam tetap tersimpan rapi di dada.
Amerika mencekik dengan sanksi, Israel menekan dengan presisi rudal, Iran menggertak dengan nuklir—
ketiganya berputar dalam lingkaran setan Sumiyati.
Dulu rudal jadi penentu, sekarang narasi jadi senjata. Peluru bisa habis di gudang, tapi opini? Diproduksi tanpa batas—murah, masif, mematikan karakter lawan.
Akhirnya, gencatan senjata hanyalah cara paling sopan untuk berkata:
“Sebentar ya, kami sedang menyusun ulang cara paling efektif untuk saling menghancurkan.”
Ia bukan jeda berempati,
melainkan jeda mengisi ulang amunisi rudal balistik.
Seorang purnawirawan pernah berujar: perang jauh lebih jujur daripada politik.
Dalam perang, seragam jelas menunjukkan siapa lawan. Dalam politik—terutama di meja perundingan—seseorang bisa memelukmu hangat, sementara di kantong belakangnya sudah siap pisau dapur yang diasah pelan-pelan—“melo’ maggere’ allong’.”
Lebih parah lagi, arsitektur damai dibangun tanpa fondasi.
Hanya maket megah dari kertas—indah dipamerkan, rapuh saat disentuh. Sekali angin kepentingan bertiup dari Washington atau Teheran, runtuhlah ia tanpa permisi.
Jika laga ini terus dipelihara, peranglah kelak menghabisi manusia tanpa sisa.
Pemimpin menyalakan bara dari meja makan mewah, rakyat jadi kayu bakarnya.
Hanya satu cara benar-benar memenangkan perang:
“BERHENTI”.
Sebab kemenangan di atas puing hanyalah bentuk lain dari kekalahan kemanusiaan.
Karena ketika artileri kembali menyalak, tak ada pemenang tersisa.
Yang ada hanya nisan-nisan bisu—merayakan sunyi.
Kamis, 9 April 2026 M
SK












