Peluit Wasit
Suf Kasman
WASIT hidup dalam dilema. Di lapangan, merekalah yang paling sering dimaki, tetapi paling dibutuhkan. Tanpa wasit, sepak bola tinggal rebutan bola alias Maggolo’ Lemo.
Seperti banyak urusan di negeri ini, begitu rasa adil dipersoalkan, hukum pun dipermainkan, pertandingan berubah menjadi panggung drama. Sebab ketika kekuatan lebih didengar daripada aturan, peluit kehilangan maknanya.
Pernahkah Anda bertanya, mengapa wasit harus menjadi orang paling sabar di lapangan? Sebab sekali saja ikut emosi, pertandingan berubah menjadi arena balas dendam.
Persoalannya, belakangan bukan hanya pemain sibuk berdebat. Sesama pemegang peluit pun saling mengacungkan kartu merah, lalu bergantian menangkap.
Penonton malah disuguhi tontonan lebih seru daripada pertandingan. Hari ini satu pemegang peluit membawa tumpukan barang bukti, esok giliran pemegang peluit lain meniup peluit balasan.
Perhatian publik tak lagi tertuju pada pencetak gol, melainkan pada siapa paling berwenang meniup peluit.
Padahal, sesama wasit semestinya menjaga wibawa peluit, bukan berlomba menjadi wasit bagi wasit lain. Kadang saya bertanya, peluit siapa yang patut dipatuhi ketika semua merasa menjadi wasit. Jangan-jangan bukan pemain yang offside, melainkan para peniup peluit.
Pertanyaan itu mengingatkan saya pada sebuah kejadian lama. Seorang pemain pernah memprotes keras keputusan wasit. Sang wasit menjawab santai,
“Mata saya masih normal. Yang sering kabur justru kepentingan orang.”
Jawaban itu pendek. Saya malah panjang mikir. Sampai sekarang kalimat itu masih suka muncul sendiri setiap melihat orang berebut peluit. Dari situlah ingatan saya melompat ke lapangan kecil di belakang rumah, tempo doeloe.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin hanya suporter kesebelasan kampung kami yang percaya pertandingan bisa dimenangkan sebelum peluit pertama berbunyi. Urusannya bukan taktik, melainkan perut lawan.
Dulu, setiap turnamen besar digelar, lapangan kampung kami dipagari karoro’ (karung goni plastik) hampir dua meter tingginya. Penjaga pintu masuknya Om Bahlion, terkenal disiplin. Sepatu proyeknya yang tinggi seolah ikut menjaga kewibawaan panitia.
Siapa pun yang ingin menonton wajib membeli karcis.
Sayangnya, di antara teman bermain kami ada seorang profesor kehidupan bernama Logê. Baginya, membeli karcis di kampung sendiri sama saja membayar pajak kepada penjajah.
Ini penjajahan Belanda!” begitu dalihnya, sambil gemeletuk gigi. Padahal yang jual karcis masih keluarga sendiri.
Keahlian Logê bukan mencetak gol, melainkan raja makkasolang. Demi menyelamatkan komplotannya, apa pun yang menghalangi jalan masuk selalu bisa berubah menjadi pintu darurat.
Saya, La Mang, La Raupe’, na La Intang tinggal kacoe-coe’ di belakang. Prinsip kami sederhana: ke mana masuknya jarum, benang pantang tertinggal.
Tiba-tiba Logê mengeluarkan tang. karoro’ disobek secukupnya, pas untuk satu badan lewat.
“Masukmi…”
Tanpa aba-aba kami langsung tiarap ala Rambo. Mata sesekali melirik Om Bahlion, takut sepatu proyeknya lebih dulu menemukan kami daripada matanya.
Begitu berhasil masuk, kami berdiri di tengah kerumunan penonton dengan wajah sepolos anak yang baru pulang mengaji.
Kalau ada kejuaraan menyelinap tanpa rasa bersalah, pasti kamilah juara satunya, membawa pulang trofi emas murni 18 karat dari FIFA.
Dulu, saya hanyalah penonton yang masuk lapangan lewat lubang karoro’
Beberapa tahun kemudian, entah karena paling sering berteriak di pinggir lapangan atau panitia sedang darurat tenaga, saya malah dipercaya menjadi wasit sepak bola antar-SD.
Seragam wasit jauh dari gagah. Celana merah pendek, kaus seadanya, serta peluit pinjaman Daeng Basse’. Talinya dekil, kusam, entah sudah berpindah mulut berapa generasi.
Baunya?
Jangan ditanya.
Bau parakang.
Peluit itu lebih pantas dikarantina daripada dipakai memimpin pertandingan.
Peluit pertama saya tiup. Saya langsung berlari ke sana kemari mengikuti bola. Dalam khayalan, saya sudah menjadi Pierluigi Collina yang memimpin final Piala Dunia.
Kenyataannya? Namanya bocah kampung, ta’poso-posoka’ berlari tanpa strategi. Prinsip saya sederhana: jangan sampai bola lebih pintar mencari posisi daripada wasitnya.
Sembilan puluh menit saya maggoliling-maccenne gasing. Gaya mengejar kambing Pak Poleang terpaksa saya pakai. Maklum, kambingnya langganan masuk pekarangan rumah-ku.
Bukan saya menguasai pertandingan. Pertandinganlah yang menguasai saya. Makanya, saya langsung telernisasi. We Ndo’ e….
Lalu datang musibah yang sampai sekarang belum pensiun dari ingatan.
Peluit yang saya gigit saat memimpin pertandingan liga SD, tiba-tiba berbunyi sendiri.
Piiittt…
Semua pemain berhenti.
Saya juga.
Bedanya, mereka menunggu keputusan.
Saya mencari alasan.
Semua mata tertuju kepada saya. Mereka menunggu pelanggaran apa yang barusan terjadi. Masalahnya, saya sendiri tidak tahu pelanggaran apa.
Di kepala cuma ada satu pikiran:
“Jangan sampai habis pertandingan 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘬𝘶 mabbuttu pelleng.”
Karena gugup, saya spontan menunjuk seorang pemain.
“Anu… tadi kamu terlalu lama Malligo’ (bola tidak dioper-oper). Larinya juga sudah kayak kepiting. Lari miring berat sebelah.
Anak itu melongo, karena bunyi peluit.
Teman-temannya ikut melongo.
Saya bahkan curiga bola pun ikut melongo.
Sampai sekarang saya belum paham apa hubungan kepiting, Malligo’, dan bunyi peluit.
Begitulah manusia. Telanjur keliru, alasan biasanya datang lebih dulu daripada pengakuan.
Dulu, saya meniup peluit karena gugup.
Hari ini, peluit terdengar lebih ramai. Bukan karena pertandingan makin seru, melainkan karena sesama pemegang peluit saling meniup, saling meniadakan, lalu bergantian menangkap.
Entah siapa pemainnya. Entah siapa wasitnya.
Yang pasti, penonton kembali bingung: pertandingan sedang berlangsung, atau perebutan peluit baru saja dimulai?
15 Juli 2026 (SF)












