Hakikat Al-‘Ujub

0
23

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya Arbain Fi Usuliddin.

Hakikat al-‘ujub adalah mengagungkan diri sendiri atau menganggap besar suatu nikmat (seperti amal shalih, ilmu, atau kelebihan lainnya) dengan menyandarkan nikmat tersebut kepada dirinya sendiri, serta melupakan bahwa hal itu adalah anugerah dari Allah.

Dalam pandangan Imam al-Ghazali, ujub dikategorikan sebagai penyakit hati yang sangat kronis (ad-da’ul ‘idlal).

A. Karakteristik Utama Sifat Ujub

Untuk memahami hakikat ujub lebih dalam, berikut adalah unsur-unsur pembentuknya menurut tasawuf Imam al-Ghazali:

1) Kagum pada Diri Sendiri:

Merasa memiliki kesempurnaan atas amal, kecerdasan, harta, atau nasab.

2) Melupakan Pemberi Nikmat:

Merasa kesuksesan tersebut murni karena usaha, kehebatan, atau kepintaran pribadi.

3) Hilangnya Rasa Takut:

Tidak ada lagi rasa khawatir jika nikmat tersebut sewaktu-waktu dicabut oleh Allah.

B. Dampak dan Perilaku Orang yang Ujub

Sifat ujub tidak berhenti di dalam hati, melainkan melahirkan perilaku buruk yang tampak secara lahiriah:

1) Obral Keakuan:

Gemar memuji diri dengan kalimat “Aku begini” atau “Aku begitu”.

2) Meremehkan Orang Lain:

Memandang diri sendiri mulia dan menganggap orang lain bodoh atau hina.

3) Menolak Kebenaran:

Dalam diskusi atau dialog, pengidap ujub enggan mengalah dan tidak mau dibantah.

4) Pintu Menuju Takabur:

Ujub adalah akar utama yang melahirkan sifat sombong (al-kibr) dan pamer (riya).

C. Perbedaan Ujub dan Takabur

Imam al-Ghazali membedakan kedua sifat ini dengan sangat jelas:

Ujub:

Hanya melibatkan satu pihak, yaitu diri sendiri yang merasa hebat tanpa perlu membandingkannya dengan orang lain secara langsung.

Takabur (Sombong):

Melibatkan dua pihak, di mana seseorang merasa dirinya lebih tinggi dan secara aktif merendahkan orang lain yang ada di hadapannya.

D. Tiga Pilar Hakikat Ujub

Seseorang baru dikatakan terkena penyakit ujub jika memenuhi tiga kondisi psikologis berikut:

1) Mengagungkan diri:

Merasa diri memiliki kelebihan atau kesempurnaan yang besar.

2) Melupakan pemberi nikmat:

Menganggap kelebihan tersebut adalah milik pribadi dan melupakan bahwa Allah yang menitipkannya.

3) Merasa aman dari kehilangan:

Merasa sombong tanpa ada rasa takut sedikit pun bahwa nikmat tersebut bisa dicabut oleh Allah sewaktu-waktu.

E. Batasan Ujub (Kapan Seseorang Tidak Dianggap Ujub?)

Imam Al-Ghazali memberikan batasan yang jelas agar kita bisa membedakan mana kebahagiaan yang sehat dan mana yang beracun:

Bukan Ujub:

Jika Anda meraih suatu prestasi, lalu merasa bahagia sekaligus takut jika nikmat atau amal tersebut dicabut atau tidak diterima oleh Allah.

Bukan Ujub:

Jika Anda merasa gembira atas suatu kelebihan, namun kegembiraan itu muncul karena menyadari bahwa hal tersebut adalah murni hadiah dan rahmat dari Allah.

F. Dampak dan Karakteristik Perilaku Ujub

Dalam kitab Arbain Fi Usuliddin, Imam Al-Ghazali mengategorikan ujub sebagai penyakit kronis.

Sifat ini melahirkan perilaku destruktif seperti:

1) Obral Keakuan: Gemar memamerkan kelebihan dengan berkata “aku begini” atau “aku begitu”, meniru kesombongan Iblis.

2) Meremehkan Orang Lain: Memandang rendah orang di sekitarnya karena merasa amalnya lebih suci.

3) Anti-Kritik: Selalu ingin menonjol di dalam forum, tidak suka didebat, dan enggan menerima nasihat dari orang lain.

G. Cara Menyembuhkan Penyakit Ujub (Terapi Ilmiah & Amaliah)

Imam Al-Ghazali merumuskan dua metode utama untuk mengobati penyakit ujub, yaitu lewat jalur Ilmu (pemahaman logis) dan Amal (penerapan tindakan).

1. Terapi Ilmu (Menyadari Hakikat Kelemahan Diri)

Obat paling mujarab untuk meruntuhkan kekaguman pada diri sendiri adalah menyadari dua realitas utama:

– Merunut Asal-Usul Nikmat:

Jika Anda ujub karena kecerdasan, amal ibadah, atau harta, sadarilah bahwa semua itu tidak akan ada tanpa modal fisik, akal, dan hidayah yang sepenuhnya diciptakan oleh Allah. Anda tidak menciptakan akal Anda sendiri.

– Menyadari Nasib Akhir Penutup Amal (Khusnul/Su’ul Khatimah):

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa nilai asli seorang manusia ditentukan di akhir hayatnya.

Seseorang yang saat ini ahli ibadah bisa saja tergelincir di akhir hidupnya, sementara orang yang berdosa bisa saja bertobat dan wafat dalam keadaan mulia. Merasa aman dengan amal saat ini adalah kebodohan.

2. Terapi Amal (Melawan Kecenderungan Nafsu)

Secara praktis, ego harus ditekan melalui tindakan yang berlawanan dengan sifat ujub:

Memaksa Diri Berbaur: Sengaja duduk, makan, dan melayani orang-orang yang secara sosial atau ekonomi berada di bawah kita agar runtuh rasa eksklusivitas diri.

Menyembunyikan Amal: Berusaha keras melakukan ibadah sunah secara sembunyi-sembunyi (seperti sedekah rahasia atau salat malam tanpa cerita) sampai jiwa terbiasa beramal tanpa butuh validasi atau pujian manusia.

Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

ddi abrad 1