Manhaj DDI dalam Memelihara Agama Islam di Nusantara

0
28

Manhaj Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) dalam Memelihara Agama Islam di Nusantara

Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) merupakan salah satu organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di Indonesia Timur yang memiliki kontribusi signifikan dalam memelihara nilai-nilai Islam di Nusantara.

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis manhaj (metodologi) DDI dalam merawat ajaran Islam berbasis Ahlussunnah wal-Jamaah, mengintegrasikan tradisi lokal, serta mengulas sejarah tokoh pendiri dan perkembangan lembaga pendidikannya saat ini.

Melalui metode deskriptif-analitis, ditemukan bahwa manhaj DDI bertumpu pada Trilogi DDI (Pendidikan, Dakwah, dan Sosial Kemasyarakatan) dengan pendekatan moderat (wasathiyah) serta desentralisasi pendidikan yang adaptif terhadap karakteristik kultural masyarakat Nusantara .

– Pendahuluan

Nusantara memiliki karakteristik geografis dan kultural yang sangat beragam.

Penyebaran Islam di wilayah ini berhasil berkat pendekatan dakwah yang adaptif dan damai.

Di Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Selatan, akselerasi pemeliharaan nilai Islam tidak terlepas dari peran strategis Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI).

Berdiri secara resmi sebagai organisasi pada tahun 1947, DDI mengakar dari institusi pendidikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso yang lahir pada 1938.

Manhaj DDI mencerminkan corak Islam yang moderat, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Konsep pergerakannya memadukan antara pemeliharaan tradisi intelektual klasik (turats) dengan tuntutan modernisasi tanpa kehilangan jati diri keislaman.

– Manhaj DDI dalam Memelihara Nilai Islam

Manhaj pergerakan DDI dalam mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai Islam bertumpu pada tiga pilar utama yang dikenal sebagai Trilogi DDI:

A. Pendidikan (Al-Tarbiyah)

Pendidikan merupakan pilar utama DDI dalam melakukan gerakan mencerdaskan umat dari kebodohan akibat penjajahan.

Strategi pendidikan DDI menggunakan pendekatan desentralisasi, yakni menyebarkan madrasah dan pondok pesantren ke wilayah-wilayah pelosok dan terpencil, bukan memusatkannya di satu kota besar saja.

Kurikulum yang diterapkan memadukan penguasaan kitab kuning (literatur klasik) dengan ilmu umum, menciptakan santri yang berwawasan luas namun tetap teguh memegang prinsip keagamaan.

B. Dakwah (Al-Da’wah)

Dakwah dalam manhaj DDI mengedepankan pendekatan Wasathiyah (moderat) dan Hikmah (kebijaksanaan). DDI menolak pendekatan radikal atau ekstremis.

Karakteristik dakwah DDI meliputi:

* Toleransi Kultural: Menghargai adat istiadat lokal (seperti budaya Bugis-Makassar) selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar akidah.

* Tawazun (Seimbang): Menjaga keseimbangan antara teks keagamaan dan konteks realitas sosial.

* Ukhuwah: Memprioritaskan persaudaraan sesama muslim (ukhuwah Islamiyah) dan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wataniyah).

C. Sosial Kemasyarakatan (Al-Ijtimaiyah)

DDI memandang bahwa nilai-nilai Islam harus memanifestasikan diri dalam aksi nyata yang membantu masyarakat.

Melalui bidang sosial, DDI mendirikan lawazis sebagai usaha pengelolaan zakat, waqaf dan pemberdayaan ekonomi umat demi meningkatkan taraf hidup masyarakat.

3. Sejarah Tokoh Pendiri DDI

Eksistensi DDI dibentuk oleh dedikasi para ulama karismatik Nusantara pada musyawarah ulama , antara lain:

* Anregurutta Haji (AGH) Abdurrahman Ambo Dalle

Beliau adalah founding father dan Ketua Umum pertama DDI. Berasal dari Wajo,
AGH Ambo Dalle merupakan figur ulama, pendidik ulung, dan organisatoris andal.

Beliau memelopori MAI Mangkoso sebelum bertransformasi menjadi DDI.

Kepemimpinan spiritual dan intelektualnya diakui secara nasional, hingga dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputera Nararya oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1999 atas jasanya mencerdaskan kehidupan bangsa.

* AGH. Daud Ismail
Seorang ulama ahli fiqih dan tafsir yang menjadi motor penggerak utama Musyawarah Ulama di Soppeng, yang melahirkan organisasi DDI secara formal.

* Syekh H. Abd. Rahman Firdaus

Ulama transnasional yang memiliki jaringan intelektual kuat hingga ke Timur Tengah, yang membantu menyusun standardisasi mutu madrasah di awal berdirinya DDI.

– Perkembangan Lembaga Pendidikan DDI Saat Ini

Memasuki abad ke-21, DDI telah berkembang menjadi salah satu pilar kekuatan sosio-religius terbesar di wilayah Indonesia dan terus mengepakkan sayapnya secara nasional.

Perkembangan ini ditandai oleh transformasi struktural dan kemajuan pada lembaga-lembaganya:

1. Jaringan Madrasah: Pengurus Besar (PB) DDI mengelola lebih dari 800 madrasah yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Sumatra, Maluku, hingga Papua. Madrasah ini beroperasi dari jenjang Ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (MTs), hingga Aliyah (MA).

2. Pondok Pesantren: Mengasuh sekitar 50 pondok pesantren. Poros utamanya, Pondok Pesantren DDI Mangkoso, kini mengadopsi program akselerasi I’dadiyah untuk mempersiapkan santri baru agar cepat menguasai dasar-dasar bahasa Arab dan membaca kitab kuning.

3. Pendidikan Tinggi: DDI memiliki belasan perguruan tinggi, seperti Universitas Islam DDI (UIDDI) di Parepare dan berbagai Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) DDI yang aktif dalam melakukan riset keislaman kontemporer.

– Kesimpulan

Manhaj Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) terbukti efektif dalam memelihara nilai Islam di Nusantara karena kelenturan strateginya yang memadukan keteguhan akidah Ahlussunnah wal-Jamaah dengan kearifan lokal.

Melalui konsep Trilogi DDI, organisasi ini berhasil membangun benteng moral umat sekaligus meningkatkan kualitas intelektual dan sosial kemasyarakatan.

– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

Referensi

1. PB DDI. Sejarah Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI). Diakses dari Official Website PB DDI: https://ddi.or.id

2. Wikipedia Kontributor. Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad Mangkoso. Diakses dari Wikipedia bahasa Indonesia.

3. Universitas Islam DDI. Sejarah Pendirian Universitas Islam DDI (UIDDI). Diakses dari Kampus UIDDI: https://uiddi.ac.id

4. Kaharuddin, K. (2020). Pemikiran Dakwah AGH. Abdurrahman Ambo Dalle dan Pengaruhnya di Sulawesi Selatan. Jurnal Diskursus Islam, 8(2), 115-128.

5. Muammar, M. (2018). Moderasi Islam (Wasathiyah) dalam Manhaj Pendidikan Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI). Jurnal Penjaga Nilai Nusantara, 4(1), 45-62.

ddi abrad 1