Pondok Pesantren Wali Pitue Jambi

0
29

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Pondok Pesantren Wali Peetu: Rajutan Pendidikan DDI, dan Migrasi Bugis di Pesisir Jambi

Tulisan ini menganalisis dinamika perkembangan Pondok Pesantren Wali Peetu di Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

Sebagai lembaga pendidikan Islam yang dipimpin oleh alumni Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Wali Peetu menjadi manifestasi penting dari transmisi keilmuan dan diaspora suku Bugis di luar Sulawesi Selatan.

Melalui pendekatan historis-sosiologis, artikel ini mendiskusikan bagaimana kepemimpinan KH. Muhammad As’ad Arsyad, M.Ag. (murid AGH. Abdurrahman Ambo Dalle) berhasil mereplikasi metodologi pendidikan DDI, melakukan modernisasi kurikulum, serta mengintegrasikan dakwah Islam dengan kearifan lokal pesisir Jambi.

Keberadaan Wali Peetu membuktikan bahwa jaringan keilmuan DDI mampu beradaptasi, mengakar, dan menjadi motor penggerak pendidikan Islam trans-regional.

– Pendahuluan

Migrasi suku Bugis (melleke’) ke berbagai penjuru Nusantara tidak hanya membawa misi ekonomi, tetapi juga membawa jangkar spiritual dan tradisi intelektual keagamaan.

Salah satu wilayah tujuan migrasi yang signifikan sejak abad ke-20 adalah wilayah pesisir timur Jambi, khususnya di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Di tengah kebutuhan akan penataan spiritual komunitas perantau ini, lahirlah lembaga pendidikan Islam yang kuat secara kultural.

Salah satu tonggak penting dari fenomena ini adalah berdirinya Pondok Pesantren Wali Peetu di Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu.

Didirikan oleh tokoh lokal H. M. Arsyad Sitte [alumni DDI Enrekang] pada tahun 1980-an, pesantren ini mengalami fase institusionalisasi dan ekspansi ideologis yang pesat ketika kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, KH. Muhammad As’ad Arsyad, M.Ag.

Hubungan keilmuan KH. As’ad Arsyad sebagai murid langsung dari AGH. Abdurrahman Ambo Dalle (pendiri Darud Da’wah wal Irsyad / DDI) menjadi jembatan emas yang menghubungkan tradisi keislaman Sulawesi Selatan dengan bumi Melayu Jambi.

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kaitan strategis antara perkembangan Ponpes Wali Peetu dengan jaringan ideologis dan metodologis DDI di tanah perantauan.

Pembahasan

1. Genealogi Keilmuan: Dari DDI Mangkoso ke Pesisir Sadu

Konstruksi otoritas keagamaan di Pondok Pesantren Wali Peetu tidak dapat dipisahkan dari sanad keilmuan DDI [Darud Da’wah wal-Irsyad].

AGH. Abdurrahman Ambo Dalle meletakkan dasar pendidikan pesantren yang inklusif, moderat, dan bertumpu pada penguasaan kitab kuning (turats).

Nilai-nilai inilah yang diserap secara utuh oleh KH. As’ad Arsyad selama menimba ilmu di bawah bimbingan langsung Gurutta Ambo Dalle dengan membawa ijazah DDI Patobong AGH Lukmanul hakim.

Ketika memegang tampuk kepemimpinan di Wali Peetu, KH. As’ad Arsyad membawa modal simbolik berupa sanad keilmuan yang murni DDI.

Transmisi keilmuan ini termanifestasi dalam model pembelajaran tradisional seperti halaqah dan sorogan, di mana santri duduk bersila menelaah kitab-kitab standar yang diajarkan di jaringan DDI.

Dengan demikian, Wali Peetu berfungsi sebagai posko garis depan yang menjaga kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jamaah ala DDI di Pulau Sumatera.

2. Keterkaitan Institusional dan Diaspora Bugis di Jambi

Secara sosiologis, perkembangan Ponpes Wali Peetu berjalan beriringan dengan dinamika komunitas Bugis di Jambi.

Pesantren ini bertindak sebagai institusi perekat sosial (social glue) bagi para perantau.

Sebagai lembaga berbasis alumni DDI, Wali Peetu memiliki keterkaitan sistemik dengan jaringan alumni DDI regional maupun nasional. Kaitan ini meliputi:

• Mobilitas Santri dan Pengajar: Adanya pertukaran pasokan guru agama (ustaz) serta kemudahan bagi alumni Wali Peetu untuk melanjutkan studi lanjutan (tafaqquh fiddin) ke pondok pusat DDI di Mangkoso maupun universitas mitra di Timur Tengah.

• Penguatan Identitas Kultural-Religius: Bahasa Arab dan kitab-kitab karangan ulama DDI dipelajari secara intensif, membentuk identitas santri yang religius sekaligus tetap menghargai akar budaya asal.

3. Modernisasi Kurikulum dan Integrasi Formal

Meneruskan watak pembaharu yang melekat pada DDI, Wali Peetu tidak menutup diri dari perkembangan zaman.

Di bawah kepemimpinan pimpinan berlatar belakang magister agama ini, Wali Peetu mengintegrasikan sistem sekolah formal di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) swasta Wali Peetu.

Selain penguasaan kitab kuning, pesantren menggalakkan program kebahasaan (bahasa Arab dan bahasa Inggris) sebagai perangkat komunikasi global.

Ekspansi kelembagaan ini juga melahirkan Pondok Pesantren Wali Peetu kampus II di Desa Siau Dalam, Kecamatan Muara Sabak Timur, sebagai respons atas tingginya animo masyarakat lokal (baik etnis Bugis maupun non-Bugis) terhadap model pendidikan yang ditawarkan.

4. Dakwah yang Adaptif: ‘Urf dan Tradisi Mandi Shafar

Salah satu karakteristik utama dari produk pemikiran dakwah DDI adalah keluwesan metodologis (manhaj) dalam menghadapi adat istiadat setempat.

Prinsip fiqh “al-’adatu muhakkamah” (adat istiadat dapat dijadikan hukum) diterapkan secara arif di Air Hitam Laut.

Pesantren Wali Peetu menempatkan dirinya bukan sebagai perusak tradisi, melainkan sebagai penuntun spiritual.

Hal ini terlihat nyata dalam pelaksanaan festival tahunan Mandi Shafar di pesisir Pantai Babussalam.

Pesantren melakukan “islamisasi budaya” dengan menyuntikkan nilai-nilai zikir, doa bersama, dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dalam prosesi ritual, sehingga tradisi lokal tersebut terhindar dari praktik syirik dan bergeser menjadi sarana syiar Islam yang harmonis.

– Kesimpulan

Pondok Pesantren Wali Peetu merupakan representasi keberhasilan diaspora keilmuan Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) di luar tanah Sulawesi.

Melalui kepemimpinan KH. Muhammad As’ad Arsyad, pesantren ini mampu memadukan tiga pilar utama: kemurnian sanad keilmuan AGH. Ambo Dalle, modernisasi kelembagaan pendidikan formal, serta adaptasi dakwah terhadap kearifan lokal masyarakat perantau di Jambi.

Wali Peetu membuktikan bahwa keterikatan sebagai pesantren alumni DDI bukan sekadar ikatan romantis masa lalu, melainkan sebuah jejaring ideologis aktif yang terus memproduksi agen-agen perubahan sosial dan keagamaan di pesisir Jambi hingga saat ini.

– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

Daftar Pustaka

1. Kementerian Agama Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Data Lembaga Keagamaan dan Pondok Pesantren.

2. Nurdin, A. (2018). Sejarah dan Perkembangan Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) di Sulawesi Selatan. Makassar: Alauddin Press.

3. Profil Pondok Pesantren Wali Peetu. Dokumen Internal Yayasan Pondok Pesantren Wali Peetu Jambi.

4. Zuhri, M. (2021). Akulturasi Islam dan Budaya Lokal: Studi Kasus Tradisi Mandi Shafar di Air Hitam Laut Jambi. Jurnal Kebudayaan Islam, 19(2).

ddi abrad 1