Akal, Tasawwuf, dan Kebingungan Spiritual

0
138
Dr. Abdul Mu'id Nawawi
Dr. Abdul Mu'id Nawawi

Tasawwuf, filsafat dan tauhid berbeda dalam penekannya, yaitu tasawwuf pada ma’rifah dan filsafat serta tauhid pada ‘ilm. Ma’rifah berarti pengetahuan yang berasal dari Allah SWT; sedangkan ‘ilm berarti pengetahuan yang berasal dari manusia. Meski ma’rifah mengandaikan asal pengetahuan adalah Allah SWT, tetapi objek sesungguhnya dari tasawwuf adalah diri manusia sendiri.

‘Ilm memang mengandaikan pengetahuan berasal dari manusia, tetapi objek sesungguhnya filsafat dan tauhid adalah Allah SWT. Meski demikian, alat yang dipakai untuk ber-ma’rifah dan ber-‘ilm tetap bernama ‘aql.

Cara kerja ma’rifah tergambar di dalam potongan ayat dari QS. al-Baqarah/2: 282 yang sangat panjang yang berbunyi:

Wat taqul Laah wa yu’allimukumul Laah

(Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu).

Takwa berarti kewaspadaan dari segala yang mungkin menggelincirkan dari ketaatan yang biasanya dipahami sebagai buah dari upaya menahan diri dari segala godaan nafsu pada bulan Ramadhan. Ayat di atas disebut sebagai salah satu gambaran dari ma’rifah karena adanya penekanan pada dua hal.

Pertama, pengetahuan berasal dari Allah SWT sendiri dan kedua, pengetahuan didapatkan tidak dari menjadikan Allah SWT sebagai objek tetapi dari upaya menyucikan diri.

Saat ma’rifah telah terjadi dan Allah SWT sendiri yang mengajarkan pengetahuan kepada seorang hamba, maka peristiwa itu disebut kasyf atau penyingkapan. Seperti menyingkap selubung yang menyelimuti sesuatu, maka ketika selubung tersebut tersingkap maka apa yang berada di baliknya menjadi terlihat dan diketahui atau menjadi pengetahuan.

Dalam hal ini, selubung tersebut tidak menyelimuti Allah SWT, tetapi justru menyelimuti hamba karena tidak mungkin kebesaran Allah SWT mampu diselubungi oleh apapun.

Saat selubung tersingkap, maka hamba lenyap di dalamnya seperti lenyapnya nyala lilin oleh sinar matahari di tengah lapangan luas di tengah hari terik karena sebuah tirai yang menyelubunginya tiba-tiba disingkap. Lenyapnya hamba biasanya disebut fanaa’ dan itu adalah pengalaman yang sesungguhnya tidak terperikan karena hamba yang hendak memerikannya sesungguhnya sendiri telah lenyap.

Memerikan pengalaman kala kasyf sendiri adalah jalan yang berisiko melahirkan ungkapan-ungkapan yang terdengar tidak pantas. Misalnya, sebuah kalimat yang sangat masyhur:

Anal Haqq

(Saya adalah Sang Kebenaran).

Jalan lain adalah pengungkapan lewat puisi atau syair. Tapi tentu saja tidak banyak orang yang memahami puisi. Jadi, bisa pula pengalaman tersebut diendapkan terlebih dahulu lalu direnungkan kalimat-kalimat pilihan yang lebih mudah dipahami oleh orang lain, tanpa harus melahirkan kontroversi.

Sebagai catatan, apapun ungkapan yang hadir, maka pengalaman selalu tidak pernah sama. Tidak heran jika tidak sedikit yang memilih diam dan membiarkan pengalaman itu untuk dirinya sendiri. Persoalannya, apa manfaatnya bagi orang lain jika tidak diungkapkan?

Ironisnya, cara kerja ma’rifah sesungguhnya adalah jalan imanensi atau kehadiran; sedangkan cara kerja filsafat dan tauhid adalah transendensi.

Maksudnya, cara kerja ma’rifah menekankan kedekatan dan keintiman karena membiarkan Allah SWT sendiri memperkenalkan diri-Nya sendiri.

Cara kerja filsafat atau tauhid adalah sebaliknya, yaitu transendensi yang berarti kejauhan, bukan keintiman. Maksudnya, cara kerja ‘ilm memang pada dasarnya adalah klasifikasi dan pembedaan. Misalnya, definisi guru semakin dipahami lewat cara kerja ini jika semakin jelas perbedannya dengan definisi murid. Contoh dalam filsafat dan tauhid adalah Tuhan semakin dipahami jika semakin jelas perbedaannya dengan hamba.

Dalam tasawwuf, cara kerja ma’rifah ini didasarkan pada QS. Qaf/50: 16:

Wa nahnu ‘aqrabu ‘ilayhi min hablil wariid

(Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri).

Atau QS. al-Hadid/57: 4:

Wa huwa ma`akum aynamaa kuntum

(Dan Dia bersamamu di mana pun kamu berada).

Umumnya, kedua ayat tersebut dipahami oleh filsafat dan tauhid sebagai semata-mata perumpamaan. Sedangkan tasawwuf memahaminya sebagai memang seperti itu adanya di mana Allah SWT dan hamba memang tidak pernah terpisah.

Bagi tasawwuf, cara kerja filsafat dan tauhid terjebak di dalam ketegori-kategori yang sesungguhnya buatan manusia sendiri. Kategori-kategori tersebut lalu diterapkan dalam relasi Tuhan-hamba hingga melahirkan tiga bentuk kerancuan.

Pertama, kategori-kategori ditempatkan setara karena memang sama-sama memiliki eksistensi.

Kedua, selalu ada alternatif selain Tuhan.

Ketiga, Tuhan sesungguhnya selalu lebih rumit daripada ketegori-ketegori.

Persoalannya, hampir-hampir tidak mungkin lepas dari perangkap kategori-kategori tersebut karena sepertinya sudah merupakan bagian tak terpisahkan dari cara akal bekerja. Bahkan tulisan ini pun terpaksa harus memakai kategori-kategori untuk menyampaikan pemikirannya. Contoh kategori yang tak terhindarkan adalah kategori Tuhan-hamba.

Di sisi lain, tasawwuf tidak mungkin selamanya memilih jalan diam hanya agar terhindar dari jebakan kategori-kategori. Karena itu, tasawwuf menawarkan jalan tengah yaitu ‘ketegangan’ di antara kategori-kategori.

‘Ketegangan’ di antara kategori-kategori tergambar di dalam QS. al-Hadid/57: 3:

Huwal awwalu wal aakhiru wazh zhaahiru wal baathinu wa huwa bi kulli sya’in `aliim

(Dia Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, dan Mahabatin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu).

Di satu sisi, ‘ketegangan’ tersebut melahirkan kebingungan karena tiadanya kemampuan untuk membedakan. Pembedaan dan klasifikasi adalah cara kerja akal dan jika tidak seperti itu, maka akal menjadi kebingungan.

Namun, di sisi lain, pengetahuan tentang Tuhan tidak lagi dikungkung oleh akal karena sesungguhnya segala tentang Tuhan hanyalah ketakjuban, kekaguman, dan keheranan.

Konon Abu Bakar ash-Shiddiq pernah berkata:

“Ketidakmampuan untuk memahami adalah bagian dari pemahaman.”

Cara kerja ma’rifah memang memungkinkan kebigungan-kebingungan seperti di atas. Itu tidak terjadi di dalam filsafat dan tauhid dengan cara kerja ‘ilm­-nya.

Ada kemungkinan seorang sufi yang mengalami kasf dan kebingungan, lalu setelah semua itu berlalu, dia mengungkapkan pengalamannya dengan lebih terukur. Jadi, sang sufi bolak-balik antara ma’rifah dengan ‘ilm. Dengan cara seperti itu, sang sufi terbebas dari kontroversi.

Jika direnungkan, manusia pada umumnya jauh lebih kebingungan dibandingkan para sufi yang sedang kebingungan. Kebingungan manusia pada umumnya adalah ketidakmampuan mereka membedakan mana Tuhan dan mana bukan Tuhan.

Tidak jarang mereka menuhankan yang bukan Tuhan atau sebaliknya menganggap bukan Tuhan yang sebenarnya Tuhan. Kebingungan tersebut mulai mereda ketika manusia masuk kepada tahap selanjutnya.

Saat manusia bersyahadat dan mendalaminya lewat filsafat dan tauhid, maka mulailah kebingunan itu sirna karena sudah mulai ada pembedaan jelas antara Tuhan dengan bukan Tuhan.

Namun, pada tahap ini manusia mengalami kehampaan spiritual. Tuhan yang berbeda itu menjadi semakin berbeda dan berbeda sehingga semakin jauh. Tidak ada keintiman, seperti raja yang hidup di puncak menara gading dan rakyatnya yang tinggal di pelosok desa. Seperti raja yang tidak pernah blusukan.

Jika ingin menghilangkan kehampaan spiritual, seorang manusia mulai menapaki jalan tasawwuf dengan penyucian-diri, jalan cinta, jalan rahmah dan kasih sayang hingga Tuhan mengajarkan sendiri tentang Dia. Saat itulah manusia memasuki tahap kebingungan kedua karena kehilangan kemampuan rasional untuk membedakan mana Tuhan dan mana bukan Tuhan karena sesungguhnya segalanya adalah Tuhan.

Tentu saja, kebingungan kedua berbeda dengan kebingungan pertama karena kebingungan pertama silau oleh yang bukan Tuhan dan kebingungan kedua silau oleh Tuhan.

Kebingungan kedua bukanlah tahap yang terakhir karena tahap selanjutnya adalah tahap ketidakbingungan, yaitu ketika hamba kembali ke dunia setelah melakukan perjalanan spiritual. Saat itu, sang hamba datang dengan penuh cinta, rahmah, dan kasih sayang kepada sesama; menjadi khalifah (pengganti) Tuhan untuk memakmurkan dunia.

Catatan akhir. Biasanya dikenal istilah keabadian dan kefanaan. Pembagian keduanya adalah ilusi akal karena yang sesungguhnya ada hanyalah keabadian; sedangkan kefanaan tidak ada karena fana berarti tidak ada.

Jika Allah SWT adalah keabadian dan hamba adalah kefanaan, maka hamba sesungguhnya tidak ada. Jika hanya Allah SWT yang ada, maka sesungguhnya yang ada hanyalah cinta, rahmah, dan kasih sayang karena benci, marah, dan dendam hanya menempel kepada kefanaan, bukan keabadian.

Tulisan ini disadur dari ibihtasfir.id.