Ceramah Menyentuh Alam Bawah Sadar

0
264

Kali ini saya ingin membahas tentang bagaimana sebuah ceramah dapat menginspirasi seseorang menjadi radikal dan berpaham terorisme.

Kenapa ini penting?

Karena seseorang menjadi radikal dan teroris biasanya dimulai dari ceramah-ceramah yang mengisnpirasi seseorang menjadi ekstrim dan radikal serta intoleransi.

Kita lihat misalnya beberapa waktu lalu terutama ketika ISIS baru muncul di Timur Tengah, tidak sedikit anak-anak muda yang terpengaruh dan hijrah ke Irak dan Suriah akibat dari pengaruh ceramah-ceramah di media sosial.

Hari ini juga banyak masyarakat kita kemudian berubah cara pandang terutama terhadap negara dan kebijakan pemerintah akibat narasi–narasi yang bertebaran di media sosial.

Misalnya ceramah tentang demokrasi yang haram dan musyrik, pemerintahan yang anti Islam dan lain-lain sebagainya.

Terakhir seorang remaja warga negara Singapure bernama Danyal Bin Muhammad Nor berumur 18 tahun ditangkap oleh aparat keamanan Singapure karena yang bersangkutan telah membuat perencanaan dan persiapan melakukan kekerasan bersenjata di Singapure dan luar negeri untuk mendukung ISIS.

Ini salah satu bukti kongkrit betapa ceramah-ceramah di media sosial mampu membentuk alam pikiran seseorang menjadi radikal sendiri atau self radicalization.

Awalnya Danyal bin Muhamamd Nur aktif mengikuti ceramah-ceramah Zakir Naik di berbagai platform media dan juga ceramah Ahmad Deedat yang merupakan mentor Zakir Naik.

Dari ceramah-ceramah tersebut ia terinsprirasi melakukan tindakan-tindakan ekstrim dan mulai menyenangi tokoh-tokoh ISIS.

Dulu memang dimana mana kita bisa menemukan buku-buku Ahmad Deedat dan bagi mahasiswa perbandingan agama pasti menjadikan itu referensi-referensi utama termasuk Zakir Naik.

Zakir Naik adalah penceramah asal India yang begitu populer di berbagai negara termasuk Indonesia karena ceramah-ceramahnya yang memukau hadirin tetapi satu hal yang patut dicatat bahwa ceramah-ceramah Zakir Naik sering kali tabrakan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah setempat yang konsisten mempromosikan toleransi, kerukunan beragama dan kebersamaan masyarakat dalam satu negara karena itu tidak mengherankan jika Zakir Naik tidak diizinkan memberi ceramah di beberapa negara.

Beberapa pola ceramah yang bisa menginspirasi seseorang menjadi radikal, ekstrim dan selanjutnya menjadi terorisme antara lain sebagai berikut:

1) Provokatif

Misalnya menelanjangi kesalahan-kesalahan beraqidah agama lain.

Hal seperti ini jika diutarakan di hadapan umum tentu akan menimbulkan gesekan dari agama lain.

Karena agama merupakan sesuatu yang sangat prinsipil dalam diri setiap orang.

Jika itu disinggung tentu akan menimbulkan kegelisahan dan keresahan di masyarakat.

Padahal dakwah Islam yang sesungguhnya adalah bagaimana menciptakan iklim kehidupan masyarakat yang harmonis dan kondusif.

Nabi misalnya ketika awal mula tiba di Madinah program kerja pertamanya yang dilakukan adalah merangcang sebuah konsep yang tujuannya adalah bagaimana menciptakan iklim yang kondusif bagi setiap entitas masyarakat yang ada di Madinah.

Memorandum Madinah itu wujud kerja Rasulullah dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi setiap warga madinah.

2) Superioritas

Membeda-bedakan etnis antara satu dengan yang lain adalah satu masalah besar karena ini bisa menimbulkan fanatisme suku, ras dan etnis.

Dakwah-dakwah yang tidak humanis dan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan sangat mungkin mendorong seseorang jadi ekstrim terhadap pemahamannya dan menganggap orang lain tidak selevel dengan dia bahkan menganggap orang lain adalah orang asing di tempatnya.

Jika perasaan seperti ini muncul di benak kita tentu akan menjadi benih-benih radikalisme dan ekstrimisme.

Nabi sendiri kan sudah menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara kalian dengan orang lain kecuali taqwa dan iman.

Bilal dari Ethiopia, Salman Alfarisi dari Persia dan Suhaeb Arrumi dari Romawi semuanya adalah sahabat nabi dan orang yang paling mencintai Rasulullah SAW.

Kalo ada ceramah-ceramah yang terlalu berlebih-lebihan dalam menilai entitas lain di bawah dia, itu sangat keliru dan berbahaya dan bisa menimbulkan kebencian antara sesama pemeluk agama.

2) Tekstualitas

Terlalu terkstualitas dalam berdakwah juga sangat berbahaya karena bisa menimbulkan pemahaman-pemahaman yang keliru.

Contoh misalnya ada ceramah yang mengatakan bahwa memilih pemimpin itu adalah masalah aqidah sehingga jika salah memilih pemimpin akibatnya adalah neraka jahannam.

Artinya kalau anda salah memilih pemimpin maka tidak menutup kemungkinan anda akan masuk neraka di hari kemudian.

Dakwah seperti ini kan sangat subjektif dalam menilai permasalahan. Lalu apakah misalnya kalau kita orang Indonesia memilih salah satu presiden nanti kemudian calon presiden itu tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan masuk neraka?

Tentu pandangan seperti ini terlalu naïf dan tidak bisa dijadikan patokan dan dasar karena tidak sedikit dalil-dalil yang cukup kuat yang membahas masalah ini.

Oleh karena itu, dalam berceramah sejatinya mengikuti pola dakwah Rasulullah SAW yang lemah lembut, santun dan inspiratif dalam melakukan kebaikan.

Bukan memberi inspirasi kepada objek dakwah untuk menjadi ekstrim, radikal apalagi masuk dalam ranah terorisme.

Ini sangat berbahaya karena bukan saja akan menciptakan iklim di masyarakat yang terpecah-pecah tetapi juga akan menimbulkan lone wolf atau orang yang teradikalisasi sendiri melalui media-media atau hasil bacaan sendiri hingga ia menjadi pelaku terorisme.

Demikian semoga bermanfaat bagi kita semuanya terutama bagi agama bangsa dan negreri yang kita cintai.