Isra Mi’raj Peluncuran Lintas Dimensi

0
12

Isra Mi’raj: Peluncuran Lintas Dimensi; Saat Logika “Lost Contact” di Hadapan Kuasa Ilahi

(Bagian 1 dari 2 tulisan)

Oleh: Suf Kasman

Ingin menyelami samudra Isra’ Mi’raj? Tanggalkan dulu radar akal di laci meja. Masuklah ke dalam cockpit iman membawa ketelanjangan jiwa seutuhnya!

Peristiwa Isra’ Mi’raj bukanlah sekadar rute domestik Makassar–Jeddah, melainkan sebuah vertikal take off tunggal dalam sejarah kenabian.

Lepas landas Isra Mi’raj berlangsung sunyi—tanpa bunyi, tanpa saksi mata—namun sanggup menghancurkan seluruh instrumen panel nalar hingga berkeping-keping.

Sehebat apa pun intelektualitas manusia, ia akan seketika mengalami loss of control (LOC); gagal membedah fenomena Isra’ Mi’raj melalui pisau analisis riset.

Hanya ‘komunitas’ Abu Bakar Ash-Shiddiq lulus dalam ujian frekuensi ini. Andai kita hadir saat itu, bisa dipastikan tergolong gagal juga; sebab terlalu mendewakan nalar sebagai satu-satunya mercusuar kebenaran dan hanya percaya jika telah melihat wujudnya.

Hukum Fisika dalam Kondisi Stall

Isra’ Mi’raj sering dianggap tidak logis lantaran akal mengalami Stall—kehilangan daya angkat—saat mencoba memahami perjalanan menembus tujuh petala langit hingga Sidratul Muntaha. Terus melambung ke puncak segala puncak; sebuah cakrawala transendental tak lagi terjangkau radar kata-kata maupun nalar manusia.

Mampukah jasad terikat gravitasi melakukan Hipersonic Speed menembus atmosfer dalam sekejap mata? Terjadi paradoks fisik kala bantal masih menyisakan hangat tubuh, namun Sang Nabi SAW telah mendarat kembali di apron landasan pacu bilik sucinya.

Secara interdimensional, akal sulit menjangkau momen Isra’ Mi’raj kala Rasulullah SAW menjadi Flight Leader mengimami ruh para Nabi dalam dimensi berbeda. Perjumpaan lintas alam ini berada jauh di luar jangkauan instrumen nalar manusia.

Di sinilah Isra’ Mi’raj membenturkan logika materialistik pada tembok kemustahilan secara keras. Instrumen nalar menggugat: mampukah jasad menembus langit tanpa terbakar gesekan udara.

Namun, semesta menjawab melalui otoritas mutlak Sang Pemilik Langit: hukum alam hanyalah Standart Operation Procedure (SOP) pemicu keteraturan—ia dapat diubah kapan saja sesuai kehendak Sang Pilot Agung.

Blind Flying: Terbang di Atas Kegelapan Malam

Mengapa misi luar angkasa dahsyat Isra’ Mi’raj justru diselimuti kegelapan malam pekat? Mengapa bukan siang benderang agar preman-preman Jahiliyah terperangah melihatnya?

Ingatlah sejarah. Tongkat Musa AS yang berubah wujud menjadi ular atau api Ibrahim AS yang mendingin adalah mukjizat visual. Begitu pun Nabi Isa AS yang menghidupkan mayat di depan mata kaumnya.

Sayangnya, meski dipapar bukti kasat mata, umat terdahulu belum sepenuhnya menaruh yakin. Mereka tetap terbelenggu keraguan meski keajaiban hadir tepat di depan hidung.

Namun, Isra’ Mi’raj adalah Blind Flying tanpa saksi seorang pun. Di sini iman diuji agar tetap Locked meski tanpa referensi visual atau rekaman video.

Iman adalah radar hati penangkap sinyal kebenaran di tengah kebisingan keraguan. Umat Rasulullah SAW meyakini Isra’ Mi’raj tanpa harus menyaksikan petualangan Nabinya secara empiris.

Inilah kasta tertinggi dunia penerbangan spiritual: percaya sepenuhnya pada Otoritas Navigasi Langit meski mata lahiriah tertutup kabut tebal.

Mission Control dan Proklamasi Rahmat

Ketidaklogisan Isra’ Mi’raj memuncak pada fragmen “negosiasi” jumlah shalat. Apakah Mission Control Langit tidak tahu batas kemampuan hamba hingga harus terjadi Hold Position?

Tentu tidak. Diskon ibadah dalam Isra’ Mi’raj tersebut adalah proklamasi rahmat mendahului sebuah beban. Bayangkan jika lima puluh frekuensi shalat sehari semalam dipatok sebagai flight plan wajib— Manrasa ni’, Nappatta Bonynyak.

Kita pasti kehilangan napas hanya untuk shalat melulu. Jiwa akan mengalami Pilot Fatigue (kelelahan hebat) dan raga tersungkur kepayahan akibat jadwal “terbang” spiritual yang terlalu padat.

Kontras sekali dengan Baginda Nabi SAW yang justru dengan sukarela shalat malam hingga bengkak kakinya karena lamanya berdiri, serta bengkak matanya akibat menangis dalam sujud. Sementara kita? Jika mata bengkak, itu bukan karena menangis dalam shalat, melainkan Nalejju’ Tinro.

Bersambung ke Bagian 2.

14 Januari 2026 (SK)

ddi abrad 1