Menawar Surga Dengan Rakaat Kilat

0
57

Menawar Surga Dengan Rakaat Kilat

Oleh: Suf Kasman

RAMADHAN datang membawa kelapangan langit. Di dalamnya terbuka ruang ampunan luas—tinggal cara manusia menyambutnya.

Aku berdiri di titik sentral tarawih perdana di Masjid Raya Bukit Baruga, masjid di lingkungan tempatku bermukim—membuka dakwah di halaman rumah sendiri. Ramadhan 1447 H terasa hangat meski hujan deras menggigilkan kompleks.

Shaf terisi penuh. Wajah berseri.
Pekan pertama, jamaah bersemangat 45, munajat menyala. Getarnya kurasakan dari jarak paling dekat.

Tahun-tahun sebelumnya menghadirkan pola sama. Aku menyaksikan antusiasme awal perlahan surut. Menjelang akhir, daya tahan spiritual ‘dodong’ melemah. Ibadah berubah menjadi rutinitas; lelah fisik dan godaan dunia mengambil alih.

Padahal Ramadhan merupakan momentum pembenahan diri. Allah SWT membuka pintu ampunan tanpa sekat rumit. Kesempatan tak mengenal kelas sosial atau masa lalu. Kesungguhan mengharap ridha menjadi kunci—dan aku percaya setiap jiwa sebenarnya mampu.

Namun, aku juga menyaksikan kegelisahan lain. Sebagian orang menginginkan panen besar dalam waktu singkat. Kedalaman diganti kecepatan. Rakaat dikejar seperti target penyelesaian. Sujud dipadatkan agar agenda lekas selesai. Aku sering bertanya dalam diam: sempatkah qalbun salim benar-benar hadir?

Manusia rela menunggu lama demi potongan harga di pusat perbelanjaan. Namun waktu untuk berlama-lama bersama Tuhan justru dipersingkat.

Bahkan, ada orang sebelum masuk masjid, sandal telah diarahkan ke luar ‘melo’ luppe’ madde”’. Tubuh hadir, hati bersiap pergi. Pemandangan itu tidak asing bagiku.

Para muballigh menyuguhkan tausiyah dengan beragam pendekatan—seperti koki meracik kue dari Pisang: pisang epe, pallubutung, barongko, hingga sanggara balanda pappojikku’ lettu’ kame’ Lino.

Rasa boleh berbeda, tujuan tetap sama: mengenyangkan jiwa lapar makna. Aku berdiri di mimbar membawa hidangan itu, berharap ada yang tinggal lebih lama untuk mencicipinya.

Ukuran “baik” perlahan bergeser. Ada orang menilai masjid dari singkatnya durasi shalat tarawih. Rakaat dipacu seperti mobil Panther melaju seratus kilometer per jam di Tol Layang A.P. Pettarani saat larut malam.

Imam belum selesai menarik napas, makmum sudah siap mengejar gerakan berikutnya. Sujud tattongkang-tongkang—yang penting rampung. Selebihnya urusan malaikat pencatat amal.

Peristiwa di Blitar sempat menjadi contoh. Dua puluh tiga rakaat tarawih dituntaskan sekitar sepuluh menit. Jamaah belum tuntas melafalkan “amin”, imam sudah meluncur ke sujud berikutnya. Lekke’na moni marakoko’.
Jika dihitung, satu rakaat hampir secepat berdiri menambah barongko di Warkop Dg Anas.

Barangkali niatnya baik—memberi kemudahan. Namun ketika kecepatan shalat tarawih menjadi ukuran utama, ruh ibadah tertinggal di belakang, terengah-engah mengejar catatan amal.

1 Ramadhan 1447 H/ 19 Februari 2026
SK

ddi abrad 1