AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Renungan makna puasa Ramadan 1447H
Makna terpenting ibadah Ramadhan ialah tumbuhnya rasa kemanusiaan sehingga inti puasa ialah menahan nafsu diri yang harus diikuti aksi sosial profetik. Inilah inti dari kesadaran murni kemanusiaan sebagai perluasan hikmah penurunan Alquran di bulan Ramadhan.
Hikmah demikian terlihat dari fungsi kitab itu sebagai pedoman manusia memecahkan segala persoalan kehidupan.
Kesadaran murni kemanusiaan sebagai akar etika sosial perlu digali dan diwujudkan menjadi sebuah kekuatan diri, sehingga seseorang bisa bertindak lebih dari sekadar manusia.
Penemuan kesadaran murni dan pemenuhan aksi sosial profetik merupakan tujuan utama ibadah puasa. Jika bisa dipenuhi, maka akan menempatkan seseorang pada maqam yang lebih tinggi dari malaikat.
Karena itu, takwa dimaknai sebagai realisasi kesadaran murni kemanusiaan dan etika sosial profetik bukan sekadar arti verbal ketakutan pada Allah.
Kesadaran murni kemanusiaan terlihat dari kesediaan manusia menempatkan hajat ruh di atas hajat tubuh. Maksud learning to be (belajar menjadi diri) sebagai salah satu pilar ilmu dalam gagasan pendidikan berbasis kompetensi ialah how to be human (bagaimana menjadi manusia) seperti makna arafa nafsahu (kenal dan tahu diri) sebagai basis arafa rabbahu (kenal Tuhan).
Gagasan Socrates angry with him self gentle to the others berarti menemukenali ego diri adalah akar pengorbanan hajat ego bagi hajat sosial. Di sinilah terletak kekuatan Ramadhan (the power of Ramadhan).
Karena itulah selesainya ibadah puasa ditandai pemenuhan zakat fitrah dari mereka yang berpuasa dengan seluruh keluarganya jika memiliki kelebihan makanan. Zakat fitrah berupa bahan makanan utama (beras setara 2,5 kg bagi setiap orang) itu kemudian dibagikan kepada para fakir miskin.
Sayang hikmah kemanusiaan itu selama ini kurang mendapat perhatian ketika banyak orang lebih sibuk pada diri sendiri, hingga zakat fitrah kehilangan makna kemanusiaannya. Ajaran demikian bisa ditemukan di hampir semua agama dan tradisi, walaupun teknik ritualnya berbeda.
Alquran menyatakan, ”Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba ‘alaikum alshiyaamu kamaa kutiba ‘ala alladiina min qablikum la’allakum tattaquuna.”
(Hai orang-orang beriman, diwajibkan kepadamu puasa seperti orang-orang sebelummu agar bertakwa; Al-Baqarah: 183).
Alquran diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia.
”Syahru ramadhaana alladii unzila fiihi alqur-aanu hudaan linnaasi wa bayyinati min alhuda wa alfurqaani …”
(Bulan Ramadhan ialah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas petunjuk itu dan pembeda (antara haq dan batil), Al-Baqarah: 185).
Penurunan wahyu tersebut menempatkan bulan itu penuh berkah yang sebagian dari bulan itu merupakan titik malam qadar (lailatul qadar).
Makna lailatul qadar lebih fungsional dijadikan titik pangkal pencarian diri sebagai akar mengenali Tuhan, bukan sekadar penumpukan berkah pahala berlipat ganda yang kadang dimanipulasi bagi pemutihan dosa tanpa menghentikan tindak maksiat. Tindakan demikian bisa berarti suatu pelecehan Kemahabijakan Tuhan itu sendiri.
Para ulama berbeda pendapat tentang saat pertama kali Alquran itu diturunkan. Namun, umumnya memandang saat pertama penurunan wahyu itu jatuh pada 17 Ramadhan seperti yang selama ini dijadikan titik peringatan malam nuzululquran.
Di sisi lain, lailatul qadar dipercaya jatuh di antara 7 hingga 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Malam-malam itu penuh kemuliaan sehingga nilai ibadah di dalamnya lebih hebat dari ibadah yang dilakukan selama 1.000 bulan (80 tahun).
Kemuliaan malam qadar di atas berkaitan fungsi kitab itu sebagai hudan (petunjuk hidup) manusia dan posisi Alquran sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW.
Kitab itu adalah mukjizat terbesar yang pernah diberikan Allah kepada para rasul-Nya. Karena itu, membaca Alquran merupakan suatu ibadah.
Keberhasilan realisasi diri dengan menahan nafsu ego diri sebaliknya aktualisasi aksi sosial profetik merupakan penanda perolehan the power of Ramadhan. Dari sinilah orang yang bepuasa baru bisa membayangkan memperoleh berkah Ramadhan dan pelipatgandaan pahala amal di bulan itu.
Hadis Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ibadah puasa adalah hak Allah sehingga Allah sendiri yang akan memberi pahala bagi siapa yang memenuhi kewajiban puasa.
Karena itu, ketika berbuka puasa disyariatkan membaca doa;
”Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rijkika afthortu. Dzahaba al-dlomaa-u. Wa abtallati al’uruuqu wa tsabata al-ajru in syaa-a allaahu ta’aala”
[Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman. Atas rejeki dari Engkau aku berbuka. Telah hilanglah haus-dahaga(ku), basah tenggorokan(ku), dan tetaplah pahala (bagiku). Insya Allah].
Hadis Muslim menerangkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan dipasung, dan pintu rahmat digelar.
Hadis lain menyatakan siapa yang memberi infak untuk menyalakan lampu di masjid di bulan itu, kuburnya diberi cahaya, pahalanya seperti orang yang melakukan shalat di masjid itu, malaikat memintakan rahmat dan ampunan selama lampu itu menyala.
Selanjutnya, barang siapa yang membebaskan penderitaan dan memenuhi hajat hidupnya, Allah memenuhi ribuan hajatnya di hari kiamat. Karena itu, surga pun merindukan orang yang memberi makan mereka yang kelaparan di bulan Ramadhan (Al-Hadis).
Suatu saat Nabi Musa meminta Khidir menjelaskan amal yang langsung diterima Allah. Khidir menerangkan bahwa amalan yang langsung diterima Allah ialah amalan orang yang memberi baju mereka yang telanjang, memberi makan yang kelaparan, dan membela yang tertindas.
Aksi pembelaan terhadap mereka yang menderita dan tertindas serta diperlakukan tidak adil merupakan pintu masuk ke hadirat Allah.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa barang siapa menghadiri majelis ilmu dan pengajian di bulan Ramadhan, tiap langkahnya dicatat sebagai ibadah sunah satu tahun (Hadis dari Anas bin Malik).
Keutamaan puasa diperoleh dengan tidak berkata kotor dan berteriak-teriak, ketika dicaci atau dimusuhi orang dijawab dengan berkata bahwa dirinya sedang berpuasa (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).
Jalanilah puasa dengan memenuhi syarat-rukunnya, kendalikan nafsu ego diri, dan kembangkan etika sosial-kemanusiaan.
Cari the power of Ramadhan dengan mengenali diri sebagai jalan mengenali Tuhan dengan mengabdikan hajat tubuh bagi hajat ruh yang berasal dari Tuhan sendiri.
Inilah god spot (meminjam istilah Danah Zohar dan Ian Marshall) hingga seseorang bersedia mendahulukan kepentingan publik dan mereka yang menderita.
Dari sini seseorang menemukan kembali kemanusiaan otentiknya (fitri) yang suci dan murni hingga posisinya lebih tinggi dari malaikat.
Puncak kebahagiaan bukan karena banyak harta, ilmu, dan kekuasaan, tapi fungsi semua itu bagi sebesar mungkin kepentingan orang banyak.










