AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
MERAIH HIKMAH BERPUASA DI BULAN RAMADHAN
Setiap amal ibadah yang disyariatkan dalam Islam pasti memiliki hikmah; ada yang sudah diketahui dan ada hikmah yang masih tersembunyi. Ada yang sudah jelas bagi manusia dan ada yang masih menjadi rahasia.
Pengetahuan akan hikmah ini menjadi penting karena dengannya seseorang akan lebih termotivasi dalam menjalankan amal tersebut serta semakin kuat keyakinan karena telah mendapatkan legitimasi akal.
Imam Ghazali dalam kitab Arbain menegaskan bahwa puasa (shiyam) adalah pintu segala ibadah dalam Islam.
Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa hikmah bukanlah penentu atau kunci dalam menjalankan amal ibadah. Dan inilah yang membedakan antara orang-orang liberal dengan orang-orang beriman yang sesungguhnya, mukmin yang sebenarnya (mukminuuna haqqan).
Bagi orang liberal yang secara ekstrim menempatkan akal melebihi nash syar’i, ibadah tidak dijalankan sampai diketahui hikmahnya.
Sementara bagi orang beriman, selama ada dalil yang memerintahkan, amal akan dikerjakan; sudah diketahui hikmahnya maupun belum.
Hikmah bisa dipikirkan/dicari tanpa meninggalkan amal Ibadah: kalau nantinya hikmah itu terungkap, alhamdulillah, ia bisa menguatkan kontinuitas amal; kalau pun ternyata sampai akhir usia tidak juga diketahui hikmah, itu tidak berarti memutuskan amal yang telah jelas dalilnya.
Sesungguhnya, Allah Subahanahu wa taala tidak membutuhkan apapun dari hamba-Nya. Bahkan sebaliknya, manusialah yang sangat membutuhkan Allah (Aqidah Istighna’ waftiqaar).
Demikian pula dalam amal/ibadah, Allah tidak memerlukan ibadah manusia. Andaikata seluruh manusia beribadah kepada Allah atau tidak ada satupun yang beribadah, Allah tetaplah Rabbul ‘alamin, Tuhan semesta alam yang kekuasaan-Nya tidak akan berkurang. Maka, hikmah ibadah yang dilakukan manusia juga akan kembali kepada manusia.
Puasa merupakan ibadah istimewa yang karenanya Allah berfiman dalam hadits qudsi :
Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa –khususnya- puasa Ramadhan- memiliki sejumlah hikmah dan maslahat bagi manusia. Secara umum, hikmah puasa bisa diklasifikasikan menjadi tiga; hikmah ruhaniyah, hikmah kesehatan, dan hikmah sosial.










