Menghayati Makna Tahun Baru Hijriah

0
297
Pandangan keagamaan dan kebangsaan DDI

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG. Lc., MA.

Satu Muharam atau awal tahun baru hijrah ditandai dengan pindahnya Nabi Muhammad SAW dari Makah ke Madinah 14 abad yang lalu.

Di samping itu, setiap menyambut datangnya tahun baru hijrah selalu didahului oleh dua peristiwa penting dalam kehidupan umat Islam, yaitu:

1) Idul Fitri, 01 Syawal sebagai akhir puasa.

2) Idul Adha, 10 Zulhijah sebagai kemuncak pelaksanaan ibadah haji.

Kedua perkara ini kalau diamati lebih mendalam memiliki makna dan hubungan yang erat dengan satu Muharam, yaitu datangnya tahun baru hijrah.

Seseorang yang akan hijrah atau pindah dari satu tempat ke tempat lain, selayaknyalah dia mempersiapkan bekal.

Apatah lagi hijrah atau pindah untuk menuju satu tahun ke hadapan, tentu dia dituntut lebih siap lagi.

Bekal yang diwajibkan Allah untuk persiapan satu tahun adalah ibadah puasa dan haji.

Ibadah puasa bertujuan agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu, sedangkan ibadah haji untuk melawan dan menundukkan godaan syaitan yang terkutuk.

Puasa sememangnya dikhususkan untuk mengendalikan hawa nafsu. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist:

”Pada bulan puasa syatan-syaitan diikat, sedangkan pintu-pintu surga dibuka” (H.R. Imam Bukhari).

Allah mengikat syaitan selama bulan puasa agar seseorang memusatkan dirinya mengendalikan hawa nafsu yang berasal dari dalam dirinya, yaitu nafsu perut dan seksual.

Apabila masih terjadi kemaksiatan di mana-mana di bulan suci Ramadhan, berarti manusia-manusia itu sendiri tabiatnya sudah sama dengan syaitan, karena disebutkan dalam surat An-Naas [114]: ayat 6, bahwa syaitan itu terdiri dari (2) golongan, yaitu golongan jin dan golongan manusia.

Setelah selesai mengendalikan hawa nafsu, diharapkan kita semua “berjaya” dihari yang fitri/suci (1 syawal) menjadi insan yang ber “taqwa”, kita kemudian dituntut untuk menghadapi dan bahkan melenyapkan musuh yang berasal dari luar, yaitu godaan syaitan.

Sekalipun godaan syaitan dan nafsu sama-sama tidak tampak, kedua-duanya berbeda dalam cara menggoda umat manusia dan tujuannya.

Cara untuk melawan godaan syaitan tidak dengan berpuasa, tetapi yang paling berkesan dengan ibadah haji.

Salah satu wajib haji adalah melontar jamarat di Mina yang melambangkan mengusir atau melawan syaitan.

Syaitan berada di luar diri kita. Karena itu, kita perlu mempersiapkan senjata untuk melawannya, yaitu batu.

Dalam puasa, kita dituntut untuk mengendalikan hawa nafsu bukan melenyapkannya.

Tapi, pada waktu haji, kita dituntut untuk mengalahkan syaitan dan sekaligus melenyapkannya.

Mengendalikan hawa nafsu diwajibkan setiap tahun, sedangkan memerangi syaitan hanya sekali seumur hidup dengan ibadah “haji”.

Setelah nafsu dan syaitan dapat ditaklukkan, bermakna kita sudah siap hijrah ke tahun berikutnya.

Dengan demikian, ketika menyambut tahun baru 1 Muharam, kita memulai kegiatan dengan bekal yang matang, program yang jelas, dan penuh dengan rasa percaya diri…dengan “hati yang bersih”

Sungguh Allah SWT telah mengatur urutan-urutan itu, yakni mulai dari perintah puasa dan Idul Fitrinya, kemudian Haji dan Idul Adha dengan menyembelih haiwan qurban, akhirnya menyambut awal tahun baru Hijrah dalam puncak ke “taqwa”an.

Kondisi puncak ketaqwaan inilah yang harus kita pertahankan sejak memasuki tahun baru Hijriah hingga 11 bulan kehadapan sampai berjumpa bulan suci Ramadhan lagi.

Kondisi seperti ini, berulang-ulang sepanjang tahun, menjadi hamba Allah yang bertaqwa ini terus-menerus kita pertahankan hingga ajal menjemput kita.

Insya Allah kalau kita dapat mempertahankan seperti ini,kita dimatikan Allah SWT dalam keadaan khusnul khatimah (akhir yang baik), amin.

SEMANGAT BERHIJRAH

Bulan Muharram bagi umat Islam difahami sebagai awal bulan tahun Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang sebelumnya bernama “Yastrib”.

Sebenarnya kejadian hijrah Rasulullah tersebut terjadi pada malam tanggal 27 Shafar dan sampai di Yastrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabiul awal.

Adapun pemahaman bulan Muharram sebagai awal bulan untuk tahun Hijrah Nabi, karena bulan Muharram adalah bulan yang pertama dalam tanggal Qamariyah yang oleh Sayyidina Umar bin Khattab, yang ketika itu beliau sebagai khalifah kedua sesudah Sayyidina Abu Bakar, dijadikan titik awal mula perhitungan tanggal atau tarikh bagi umat Islam dengan diberi nama Tahun Hijriah.

Tentunya kita dapat merasakan bedanya peristiwa penyambutan tahun baru Masehi dan tahun baru Islam (Hijriah).

Tahun baru Islam disambut biasa-biasa saja, jauh dari suasana meriah, tidak seperti tahun baru Masihi yang disambut meriah termasuk oleh masyarakat muslim sendiri.

Sebagai titik awal perkembangan Islam, seharusnya umat Islam menyambut tahun baru Islam ini dengan semarak, penuh kesadaran sambil muhasabah diri, merenungkan apa yang telah dilakukan dalam kurun waktu setahun yang telah berlalu.

Tapi ada satu kelebihan yang masih banyak dilakukan di beberapa tempat termasuk di Negara Republik Indonesia dalam memperingati tahun baru Islam (Hijriah), yaitu pada penghayatan makna peringatan itu sendiri untuk dapat dijadikan sebagai sarana muhasabah diri.

Sebaliknya, di awal tahun baru Masihi, pada umumnya yang ditonjolkan hanya aspek yang berkaitan dengan duniawi, kulit luarnya saja.

Kebanyakan manusia yang terlena oleh momen pergantian tahun. Waktu penting yang seharusnya dijadikan sarana muhasabah diri, malah telah disalahgunakan sebagai sikap melampaui batas, berhura-hura semalam suntuk hingga terbit matahari.

Bukannya untuk mendekatkan diri, memohon ampun kepada Allah SWT, tapi malah sebaliknya, mengatas namakan kegembiraan, mereka melupakan nikmat Allah dengan menggelar kemungkaran dan sikap-sikap yang membawa kehancuran dan amarah Allah. naudzubillahi mindzaliq.

Dalam bahasa Arab, hijrah biasa dimaksudikan sebagai pindah atau migrasi.

Tafsiran hijrah disini difahami sebagai awal perhitungan tanggal Hijriyah, sehingga setiap tanggal 01 Muharam ditetapkan sebagi hari besar Islam. Memang, sejak hijrahnya Rasulullah ke Yatsrib, sebuah kota subur, terletak 400 kilometer dari Makkah, Islam lebih memfokuskan pada pembentukan masyarakat muslim yang Sentosa, aman dan damai di bawah pimpinan Rasulullah.

Itulah sebabnya kota Yastrib dirubah namanya menjadi Al-Madinah yang bermakna “ketamadunan” atau kota atau lebih tenar lagi disebut kota Rasulullah.

Inilah satu nilai yang sangat penting kenapa hijrah dijadikan sebagai titik awal terbitnya fajar baru peradaban umat Islam.

Terbitnya fajar baru ini berkat hijrah. Maka hijrah dengan demikian selalu membuat perubahan.

Hijrah merupakan usaha dan semangat besar manusia yang ingin merubah masyarakat yang beku menjadi manusia yang maju, sempurna dan bersemangat.

Jadi inti dari peringatan tahun baru Hijrah adalah pada soal perubahan, maka ada baiknya momen pergantian tahun ini kita jadikan sebagai masa untuk merubah menjadi lebih baik. Itulah fungsi peringatan tahun baru Islam.

Ada tiga (3) pesan perubahan dalam menyambut tahun baru hijrah ini, yaitu:

1. Hindari kebiasaan-kebiasaan lama termasuk perkara-perkara yang tidak bermanfaat pada tahun yang lalu untuk tidak diulangi lagi di tahun baru ini.

2. Amalkan amalan-amalan kecil secara istiqamah, dimulai sejak tahun baru ini yang nilai pahalanya luar biasa disisi Allah SWT, seperti membiasakan shalat dhuha (2) raka’at, membaca al-Quran, bersedekah dan berbicara benar dan santun.

3. Usahakan dengan niat yang ikhlas karena Allah, agar tahun baru ini jauh lebih baik dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi keluarga maupun masyarakat muslim lainnya.

Berbicara tentang perkembangan Islam, tentu tidak boleh lepas dari peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah.

Dakwah Nabi di Makkah pada waktu itu banyak mengalami rintangan berupa tantangan dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy.

Selama waktu (12) tahun sejak Nabi diutus, dakwah Rasulullah tidak mendapat sambutan menggembirakan, bahkan sebaliknya banyak menghadapi terror, pelecehan, penghinaan, dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy yang diketuai oleh paman Nabi sendiri, yaitu Abu Lahab.

Karena itu, Rasulullah diperintahkan Allah SWT untuk pindah (hijrah). Akhirnya, beliau meninggalkan kota kelahirannya Makkah, berhijrah ke kota Madinah.

Di Madinah, Nabi dan para sahabat Muhajirin mendapat sambutan hangat oleh kaum Anshar (penduduk asli Madinah).

Agama Islam pun mengalami perkembangan amat pesat. Dalam kurun waktu relatif singkat, hanya sekitar (8) tahun, suara Islam mulai bergema ke seluruh penjuru alam dan Islam pun berkembang meluas ke seluruh pelosok permukaan bumi.

Karena itu tidak mengherankan jika peristiwa hijrah merupakan titik awal bagi perkembangan Islam dan bagi pembentukan masyarakat muslim yang telah dibangun oleh Rasulullah.

Menurut para pakar sejarah, masyarakat muslim, kaum Muhajirin dan Anshar, yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah merupakan contoh masyarakat ideal yang patut dicontoh, penuh kasih sayang, saling bahu-membahu dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, kepentingan negara daripada kepentingan kelompok atau individu.

Karena itu, tidak mengherankan jika Khalifah Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal perhitungan tahun baru Islam, yang kemudian dikenal dengan tahun baru Hijriah,

Allah berfirman, dengan tafsirnya:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (Al-Hujurat [49]: ayat 13)

Umat manusia kadang-kadang terjebak kepada sesuatu yang bersifat jangka pendek, dan melupakan sesuatu yang bersifat jangka panjang.

Manusia sering tergesa-gesa dan ingin cepat berhasil apa yang diinginkannya, sehingga tidak sedikit yang menempuh jalan pintas.

Islam menekankan bahwa hidup ini adalah perjuangan dan dalam berjuang pasti banyak tantangan dan rintangan.

Bagi kita umat Islam di Indonesia, sudah tidak relevan lagi berhijrah berbondong-bondong seperti hijrahnya Rasulullah, mengingat kita sudah bertempat tinggal di negeri yang aman, di negeri yang dijamin kebebasannya untuk beragama.

Namun kita wajib untuk hijrah dalam makna “hijratun nafsiah” dan “hijratul amaliyah” yaitu perpindahan secara spiritual dan inter semangat dan kesungguhan dalam beribadah, perpindahan dari kebodohan kepada peningkatan ilmu, dengan mendatangi majelis-majelis ilmu, perpindahan dari kemiskinan kepada kecukupan secara ekonomi, dengan kerja keras dan tawakal.

Pendek kata niat yang kuat untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan umat sehingga terwujud “rahmatan lil alamin” adalah tugas suci bagi umat Islam, baik secara individual maupun secara kelompok.

Tegaknya Islam di bumi Nusantara ini sangat tergantung kepada ada tidaknya semangat hijrah tersebut dari umat Islam itu sendiri.

Semoga dalam memasuki tahun baru Hijrah yakni tahun 1443 Hijriah ini, semangat hijrah Rasulullah SAW, tetap mengilhami jiwa kita menuju kepada keadaan yang lebih baik dalam segala bidang, sehingga predikat yang buruk yang selama ini dialamatkan kepada umat Islam akan hilang dengan sendirinya, dan pada gilirannya kita diakui sebagai umat yang terbaik, baik agamanya, baik kepribadiannya, baik moralnya, tinggi intelektualnya dan terpuji, amin.

Semoga kita umat Islam di dalam menangani musibah wabah covid 19 ini, seyogyanya mengikuti ketentuan umum yang berlaku yang diasaskan pada penemuan pakar ilmu yang berkaitan yang biasanya ditransformasikan oleh mereka memiliki otoritas untuk kemudahan masyarakat umum.

Di samping itu, sebagai umat Islam yang beriman, mari kita senantiasa berdoa, bermunajat kepada Yang Maha Kuasa, mudah-mudahan persoalan ini tidak mengganggu kehidupan beramal saleh dan segera diangkat agar kehidupan dunia kembali pulih seperti biasa.

WALLAHU WALYYU TAWFIQ WAL-IRSYAD

 

ddi abrad 1