Peristiwa Besar di Bulan Dzulhijjah

0
417
Pandangan keagamaan dan kebangsaan DDI

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

Bulan ini adalah bulan Dzil Hijjah, dimana di dalamnya ada beberapa kejadian hebat dalam sejarah umat manusia.

Dalam sebuah hadist Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. menerangkan:

Nabi Adam ‘alaihissalam diterima taubatnya oleh Allah pada tanggal 1 Dzil Hijjah setelah sekian ratus tahun bertaubat.

Do’a Nabi Yunus ‘alaihisalam diijabah oleh Allah Subhanahu wata’ala dan dikeluarkan dari perut ikan pada hari kedua bulan Dzil Hijjah.

Pada hari ketiga do’anya Nabi Zakariya ‘alaihissalam dikabulkan oleh Allah.

Pada bulan ini pula yakni tanggal empat Dzil Hijjah Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan.

Demikian pula Nabi Musa ‘laihissalam dilahirkan pada hari kelima di bulan Dzil Hijjah ini.

Namun demikian, kejadian yang hebat yang tidak mungkin dilupakan oleh umat Islam adalah tarikh atau sejarah ketaatan dan ketaqwaan seorang Kholilullah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya yang kita kembali peringati pada hari ini.

Seyogianya kita renungkan, bahwa dalam kehidupan ini seringkali harta bisa membuat manusia lupa pada Allah Yang Maha Kaya.

Seringkali pangkat, jabatan dan kedudukan menjadikan manusia semakin jauh dari Allah Yang Memberi dan Mengambil pangkat dan jabatan.

Akan tetapi yang paling banyak kita jumpai adalah kecintaan seseorang terhadap istri dan anaknya mampu mengurangi kecintaan dan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dikisahkan sebelumya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah Nabi yang sangat dermawan.

Beliau biasa menyembelih seribu ekor domba, tiga ratus lembu dan seratus ekor unta untuk sabilillah.

Banyak orang yang berdecak kagum, bahkan para malaikat-pun mengaguminya.

Melihat dan mendengar kekaguman tersebut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata:

Kalau saja aku punya seorang anak dan Allah meminta agar aku mengorbankannya maka niscaya akan aku korbankan dia.

Dan memang pada waktu itu belum lagi punya anak kandung.

Pada malam tarwiyah tanggal 8 Dzil Hijjah, Allah menguji ketaqwaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Beliau bermimpi diperintah “penuhilah nadzarmu” yaitu menyembelih putra kesayangannya.

Waktu itu Nabi Ibrahim belum yakin dan dan masih berfikir apakah perintah itu datang dari Allah atau hanya dari syaitan yang ingin merusak keharmonisan rumah tangganya.

يَتَرَّو ْى إِ ْبرا ِهْيم أَهُو ِمن الله أَم ِمن الشْيطا ِن

yang akhirnya kita kenal dengan yaumut tarwiyah.

Dalam hadits Nabi dinyatakan:

من صامه تعطي من الاجر ما لا يعلمه الا الله  

Artinya:

“Barangsiapa berpuasa pada hari tarwiyah maka dia akan mendapat pahala yang besar tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah “

Keesokan harinya pada tanggal 9 Dzil Hijjah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi lagi dengan yakinlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bahwa mimpi itu

(عر َف إِ ْبرا ِهْيم أَنَّهُ ِمن الله ).

mimpi yang sama benar-benar datang dari Allah SWT. Maka, tanggal 9 Dzil Hijjah kita sebut yaumu ‘Arafah.

Dalam hadits Nabi disebutkan:

“Bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa ‘Arafah maka beliau menjawab:

Barang siapa mau berpuasa pada hari Arafah maka Allah akan mengampuni dosanya satu tahun sebelum dan sesudahnya.

Pada malam ketiganya Nabi Ibrahim bermimpi lagi dengan mimpi yang sama, maka beliau bertekad untuk memenuhi nadzarnya, yaitu menyembelih putra kesayangannya.

Maka pada hari pelaksanaannya disebut dengan “yaumun nahr“, hari pelaksaanan penyembelihan.

Kisah Qurban penyembelihan Nabi Ismail ‘alaihissalam oleh ayahandanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diabadikan oleh Allah Subahanahu wata’ala dalam Al-Qur’an surat shoffat 102:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,

Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Semoga seluruh anggota keluarga mampu memetik pelajaran indah dan hebat dari kisah keluarga nabi Ibrahim ‘alaihim as salam.

Kita yang menjadi ayah semoga bisa menjadi seorang ayah yang demokratis, adil dan bijaksana sebagaimana Nabi Ibrahim yang mengajak putranya bermusyawarah untuk melaksanakan perintah besar dari Allah.

Para wanita yang ditakdirkan oleh Allah menjadi ibu, semoga mampu meneladani Siti Hajar profil ibu rumah tangga yang mendukung, membantu dan mendo’akan suami dalam menaati perintah Allah.

Sementara yang saat ini masih anak-anak, remaja, semoga bisa meniru kesalehan Nabi Isma’il yang dengan keimanan yang menancap ke lubuk hati dan ketakwaannya yang tinggi menjadikan ia sabar dan ikhlas untuk berbakti kepada orang tuanya sekalipun ia harus “dikorbankan” oleh Ayahnya sendiri demi mengikuti perintah Allah Subhanahu wata’ala.