Nikmat Allah Dipandang Dari Dua Sisi

0
176

Anre Gurutta Mangkoso
_by_
Muh. Aydi Syam

NIKMAT ALLAH DIPANDANG DARI DUA SISI

۝ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۝

01) Nikmat itu memiliki dua sisi, sisi depan dengan sisi belakang.

Sama halnya dengan “kaf” (pergelangan tangan), telapaknya disebut “bathinulkaf” dan punggungnya disebut dengan “dzhariulkaf“.

02) Kedua sisi tersebut adalah sisi depan yang disebut nikmat dan sisi belakang disebut amanat.

03) Pada umumnya orang hanya melihat nikmat itu dari sisi depan sehingga tidak ada orang yang tidak tergiur.

Mereka lupa bahwa di balik sisi depan, ada sisi belakang. Itulah sisi amanat.

04) Termasuk baliho-baliho yang berjejer di sepanjang jalan. Mereka adalah para pencari nikmat Allah berupa jabatan.

Namun mereka pada umumnya hanya melihat jabatan itu dari sisi depannya sehingga tergiur luar biasa, sementara mereka sedikit menyadari sisi belakangnya berupa amanat yang berarti tanggung jawab yang sungguh luar biasa.

05) QS al-Takatsur: 08 mengingatkan:

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ۝

Terjemahnya:
“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia).”

06) Sejatinya manusia sudah pada sadar akan nikmat Allah Swt. yang mereka dapatkan.

Jangan hanya dirasakan lezatnya lalu diabaikan amanatnya, niscaya pengadilan Akhirat pasti menanti yang tidak akan mungkin dapat dihindari.

07) QS al-Nahl: 18 mengingatkan juga bahwa nikmat Allah Swt. mustahil dijangkau oleh hitungan manusia:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيم ۝

Terjemahnya:
“Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

08) Nikmat Allah Swt. yang didapatkan oleh manusia sungguh tak terkira banyaknya dan tak terhingga jumlahnya, sementara persembahan rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya sungguh amat bisa terhitung jumlahnya.

Inilah yang perlu disadari bahwa hal ini sungguh tiada berbanding. Betapa banyaknya pemberian Allah kepada hamba-Nya dan betapa terbatasnya persembahan rasa syukur hamba kepada Tuhannya.

09) Rasulullah Saw. mengabarkan berita besar tentang fenomena hari kiamat dalam hadis berikut:

“لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ” (رواه الترمذي و الطبراني).

Artinya:
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya di mana dihabiskan, tentang ilmunya apa yang dia lakukan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, fisiknya di mana dia habiskan” (HR al-Tirmidzi dan al-Darimiy).

10) Hadis tersebut cukup jelas dan tegas menceritakan berita tentang pengadilan Akhirat yang kelak akan dijalani oleh semua manusia tanpa kecuali.

11) Nikmat menjadi rahmat bila ditunaikan sisi amanatnya. Nikmat yang diabaikan sisi amanatnya menjadi laknat.

Dengan kata lain, nikmat plus amanat adalah rahmat tapi nikmat minus amanat adalah laknat.

12) Allah Swt. menyampaikan berita gembira bagi hamba yang pandai mensyukuri nikmat-Nya sekaligus ancaman bagi yang tidak pandai mensyukurinya.

Berikut pernyataan QS Ibrahim: 07,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

Terjemahnya:
(Ingatlah) ketika Tuhan kalian memaklumkan, “sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat-Ku) kepada kalian, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih.”

13) Mensyukuri nikmat Allah Swt. adalah bahagian dari amanat bagi hamba yang mendapatkan nikmat.

14) Pernyataan rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya atas nikmat yang diberikan kepadanya mesti diwujudkan dalam tiga rukun berikut:

a) Mengakui bahwa nikmat itu adalah anugrah Ilahi;
b) Disambut dengan segala rasa gembira yang disertai dengan lantunan kalimat “Alhamdulillah”;
c) Membawa nikmat tersebut ke arah yang dikehendaki oleh Sang Pemberi nikmat.

15) Bila seorang hamba hanya pandai mensyukuri nikmat yang disenangi alias yang sesuai dengan harapannya, maka dia disebut “syakir” (hamba yang bersyukur).

Bila seorang hamba juga pandai mensyukuri nikmat yang tidak sesuai dengan harapannya, maka dia disebut “syakur” (hamba yang amat pandai bersyukur).

16) Allah Swt. menyampaikan dua model nikmat yang kerap kali tidak disadari oleh kebanyakan manusia.

Berikut pernyataan QS al-Baqarah: 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ۝

Terjemahnya:
“Diwajibkan atas kalian berperang, pada hal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci.

Boleh jadi kalian membenci sesuatu, pada hal itu amat baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, pada hal itu amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.”

17) Orang yang kufur nikmat juga terlihat pada salah satu dari tiga rukun berikut:

a) Mengingkari nikmat itu selaku anugrah Ilahi;
a) Menyia-nyiakan nikmat Allah;
b) Menyalahgunakan nikmat ke jalan yang tidak diredai oleh Sang Pemberi nikmat.

Pesan Moral:
01) Pahamilah karunia Allah Swt. dari dua sisi, sisi nikmat dan sisi amanat!

Kenalilah sisi nikmatnya dan penuhilah tuntutan sisi amanatnya niscaya nikmat yang engkau dapatkan akan bernilai rahmat.

Bila sebaliknya, maka bernilai laknat. Olehnya itu, sadarilah!

02) Jadilah hamba yang pandai mensyukuri segala nikmat Allah, sama adanya nikmat itu sesuai harapan ataupun berbeda dengan harapan, niscaya engkau akan menjadi hamba yang “syakur” (hamba yang amat pandai bersyukur).

03) Jadilah hamba yang senantiasa menjaga amanat niscaya engkau akan termasuk bahagian dari orang-orang beriman seperti yang dilukiskan dalam QS al-Mu’minun: 08,

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ۝

Terjemahnya:
“(Di antara ciri-ciri orang beriman adalah) orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya.”

وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ ۝
وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد

Tonrongnge, 27 Jum. Ula 1445 H
11 Desember 2023 M