Pedagang vs Pembeli

0
44

Lensa Jurnalistik Islami

Suf Kasman

Dosen UIN Alauddin

Baru-baru ini aku melintas di pasar tradisional, sambil menyaksikan luberan pengunjung.

Pasar tradisional masih memiliki daya tarik sendiri, dimana warga dapat melakukan tawar-menawar harga. Berbeda di Supermarket Mall tidak ada sistem bernegosiasi.

Namun, pasar tradisional (konvensional) masih menjadi pilihan untuk di datangi, karena banyak pilihan barang. Di samping pedagang pasar tradisional menjual dengan harga terjangkau, agar dagangannya cepat laku dan habis.

Transaksi di pasar bejalan penuh melodi, suara bersautan selalu terjadi.

Ya, di pasar riuh pedagang mengejar pembeli, saling berebut dan saling bersaing, kadang-kadang muncul pertengkaran adu mulut.

Penjual di pasar saling beraksi menanti datangnya setumpuk rezeki.

Pembeli di pasar harus diperlakukan sebaik mungkin layaknya seorang raja. Slogan tersebut diyakini ampuh dan manjur untuk melariskan dagangan dan mensukseskan niaga di pasar.

Kesuksesan dalam memasarkan barang-barang di pasar tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang dan penuh tantangan. Yang penting ikhtiar dan terus berusaha, tidak boleh menyerah.

Menjadi seorang pedagang di pasar merupakan salah satu pekerjaan menyenangkan, selain itu tidak terikat seperti saat bekerja dengan orang lain.

Penjual di pasar walaupun panas tetap mengangkut harapannya, demi rezeki halal yang ia nantikan.

“Tidak seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri.” (Hadits).

Penjual di pasar terus berikhtiar meski terasa begitu lelah, tanpa menyerah.

Hanya saja menunggu waktu tiba, ia tetap menghampar senyumnya yang menggoda kepada setiap pembeli.

Pendeknya, kemauan mencari karunia di pasar harus dilandasi dengan tekad yang bulat dan mesti berani dalam mengambil peluang yang ada.

Ada cerita menarik di seputar pembeli dan penjual di pasar tradisional.

Salah seorang wanita muda hendak berbelanja telur salah satu pasar tradisional di Makassar.

Ketika masuk pasar, dia langsung mendekati penjual telur yang dari tadi menjejalkan dagangan telurnya.

Pembeli: “Daeng, mau ka’ beli telor, tapi kok kecil-kecil telornya?”

Penjual: “Iye, memang telornya kecil-kecil ndi’, justru bagus kalo kecil-kecil.

Kemarin ada telor besar, kasihan ka’ lihat ayamku, hampir dioperasi”. Trauma ka’ lihat telor besar, karena nyaris saja jebol pantatnya ayamku.”

Pembeli: “Oh mate mi ja’, kalo telor kecil-kecil begini, berapa satu butir?”

Pedagang Telur: “2.000 rupiah per butirnya ndi’.”

Pembeli: “Kok ada yang pecah, di jual juga ka yang retak ini Daeng, berapa tosi harga na?”

Pedagang Telur: “Cuma 1.000 Rupiah kalo pecah ndi’.”

Pembeli: “Wow keren…Kalo begitu mohon telornya dipecah semua Daeng, biar harganya murah hik hik hik…”

Pedagang Telur: (mulai kesal)

Penjual: “Mau betul ki’ ga beli Telor”,

Pembeli: “Mau ka’ Daeng”

Penjual: “Mau telor apa? Pilih: ada telor ayam ras, telor ayam kampung, telor bebek dan telor puyuh.

Yang saya tidak jual hanya telor ikan. Mau ki’ telor yang mana”?

Pembeli: “Telor ayam mi Daeng.”

Penjual: “Telor ayam ras atau ayam kampung?”

Pembeli: “Telor Ayam kampung-lah.”

Penjual: “Telor ayam kampung lokal atau import?”

Pembeli: “Telor ayam lokal aja, karena tinggal ja’ di Tompobulu.”

Penjual: “Lokalnya mau dari Pinrang, Sidrap atau Bulukumba?”

Pembeli: “Sidrap mi deh, karena terkenal warung palekko’na Sidenreng.” (sambil terlihat kesal nan menggerutu).

Penjual: “Oh Sidrap”.

Mau Sidrap daerah Baranti, Sidrap Allakkuang, atau Sidrap Tanru’ Tedong?”

Pembeli: “Daeng, ini mau jual telor atau mau cerdas cermat Tingkat Nasional?”

Penjual: “Maaf Bu, sebenarnya saya ini penjual Coto Daeng Tata di sebelah! Kebetulan penjual telornya pergi toilet. Saya disuruh ngobrol dulu sama pembeli sampe penjualnya datang.

Itu penjual na (sambil menunjuk pemilik aslinya datang), kemudian penjual asli langsung ambil alih dagangannya.

Penjual Telur: “Mau ki beli telor jenis apa bu’”

Pembeli: “Dari tadi saya mau’ beli telor ayam, tapi ini orang cerewe’ sekali”.

Penjual Telur: “Maaf bu’, saya ini baru keluar dari penjara Kelas I Makassar”

. . . ????

Pembeli: (Dengan heran) keluar dari penjara, apa hubunganya dengan telor?”

Penjual Telur: “Ah ndak enak diceritakan di pasar ini.”

Pembeli: (Tambah heran dan semakin bertanya-tanya!!!) “Nggak apa-apa cerita aja Daeng!”

 

Penjual Telur: “Ah nggak usahlah, nggak enak nanti dengarnya satu pasar!”

Pembeli: “Nggak apa-apa sampaikan aja Daeng!”

Penjual Telur: “Begini loh bu’, saya sudah berkali-kali masuk penjara, ya gara-gara kuparangi pembeli yang cerewet sep kamu …!!!!”

𝟮𝟳 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗱𝗵𝗮𝗻 𝟭𝟰𝟰𝟱 𝗛