Pengaruh Latar Belakang

0
151
Makam Gus Dur
Makam Gus Dur

PENGARUH LATAR BELAKANG

Anda pernah berkunjung ke Madura? Atau kota dan daerah lain di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah misalnya. Apa kesan Anda terhadap perlakuan masyarakatnya terhadap maqam (kuburan) para tokoh (wali) misalnya? Konkretnya misalnya maqam Gus Dur?

Saya dengar dari kawan, maqam Gus Dur itu tidak pernah sepi, siang dan malam. Seorang kawan lain malah pernah berkelakar, siapa sebenarnya yang dikatakan “meninggal?” Karena nyatanya, maqamnya Gus Dur itu telah dan tetap banyak memberikan penghidupan kepada masyarakat sekitarnya akibat membludaknya penziarah di waktu-waktu tertentu. Dari sini sehingga ada yang berkeyakinan, seorang wali itu tidaklah wafat begitu saja, tapi bahkan setelah wafatnya dia tetap dan malah memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya. Anda juga bisa melihat hal yang sama pada maqam Imam Lapeo di Mandar, dll.

Tapi terlepas dari itu, kita kembali ke pertanyaan di atas. Jawabnya: Ya, tentunya sangat berbeda dengan masyarakat lainnya. Kenapa demikian?

Saya teringat pada cerita rekan, guru, dan teman sepengajian, (almarhum) Prof. Dr. Bambang Pranowo, MA. yang juga seorang Antropolog berikut ini,

Suatu ketika, dalam rehat pengajian tarekat kami di Gang Kubur, Ciputat, ketika ada seorang kawan menyinggung keberagamaan orang Padang yang rada ketat. Prof. Bambang Pranowo
kemudian juga ikut berkomentar. Katanya, itu biasanya banyak terkait dengan latar belakang (background) masyarakat daerahnya.

Misalnya, ia mencontohkan, kenapa sih masyarakat Aceh dan masyarakat Madura Jawa Timur itu sangat jauh berbeda? Kebetulan memang beliau pernah tugas di kedua daerah itu sebagai bagian inteligen negara. Di Aceh dua tahun dan di daerah Madura juga dua tahun.

Perbedaan kedua masyarakat daerah ini sangat kontras, jauh sekali, bak langit dan bumi.

Masyarakat Aceh, katanya, sangat elegan, salaman tidak yang pakai cium tangan segala, kecuali mungkin yang santri pesantren, dan lain-lain.

Sementara masyarakat Madura, beda sekali katanya. Suatu kali, beliau pernah jalan dengan salah seorang kiyai kharismatik di Madura. Melihat ini, orang-orang Madura yang melihat kiyainya tengah lewat di jalan, dari jauh sudah meminggir ke tepi, berdiri tunduk menghormat, dan mempersilahkan kiyainya lewat, dan tidak ada yang berani berpapasan/ketemu di jalan dengan kiyainya.

Esok paginya, Prof. Bambang berolah raga pagi, jalan sendiri. Orang-orang Madura yang tau bahwa ini yang kemarin jalan bareng sama kiyainya, kembali menepi ke pinggir, tunduk menghormat dan mempersilahkan Prof. Bambang lewat.

Melihat hal ini, Prof. Bambang berusaha mencari tahu dan menganalisis, kenapa sampai dua masyarakat daerah ini sangat berbeda. Akhirnya, beliau sampai pada kesimpulan bahwa Aceh memang tidak pernah mengalami masa penjajahan sebelum Islam masuk ke sana, sementara seantero Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah pernah dikuasai oleh kerajaan Hindu, mulai dari Kerajaan Singosari, Kerajaan Majapahit yang mengenal kasta dalam strata masyarakatnya.

Saya kira, sekali lagi, kita tidak perlu heran. Kita bisa menggunakan analisis ini ketika kita melihat kenapa masyarakat Jawa Timur begitu beda dengan masyarakat lainnya di luar Jawa misalnya, dalam hal penghormatan terhadap kiyainya.

Saya pikir cara melihat seperti ini lebih akademik dan bisa dipertanggungjawabkan ketimbang misalnya kita menuduhnya sebagai kaum kuburiyyun, ahli bid’ah, musyrik, dan sebagainya.