Puasa Tapi Marah

0
58

Lensa Jurnalistik Islami

BERPUASA, TAPI MASIH SUKA MARAH

Suf Kasaman

Dogma puasa adalah menahan diri dari segala nafsu keburukan, termasuk di antaranya menahan diri agar tidak marah.

Disadari atau tidak, saat berpuasa sebagian orang justru lebih sensitif dan mudah marah-marah.

Seseorang yang sudah terbiasa memproduksi kemarahan, sekecil apa pun enigma dan masalah yang dihadapinya, akan mudah tersulut emosi dan marah.

Begitulah bila api dalam jiwanya terus menyala membara.
Panas atmosfer dan perasaan berkecamuk hebat dalam dada tiada henti, hingga menghadirkan larva-larva kemarahan tak bisa dibendung lagi.

Pintu gerbang munculnya kemarahan tak terhitung jumlahnya.

Sebutlah dari paling kecil ke paling besar, misalnya:
Makan sate kambing 20 tusuk, pas dihitung cuma 19 tusuk.

Mungkin tanpa sadar langsung memarahi penjual sate tsb.
Apalagi jika hidangan satenya bukan daging kambing, tapi sate telur, oh Malee, menre pellana (Bugis).
Karena merasa tertipu.

Bisa-bisa berlompatan dua biji matanya saking marahnya sama penjual sate.

Pintu gerbang munculnya kemarahan yang lain:

Simak cerita, Kemarahan Seorang Guru Terhadap Muridnya.

Salah seorang guru SD bernama pak Saponding bertanya kepada murid-muridnya tentang nama-nama binatang yang dimulai huruf “J”.

Seketika itu, Ambo’ Upe’ yang duduk sudut paling belakang langsung mengacungkan tangan (tangannya digoyang-goyangkan tiada henti).
Mirip gaya demonstrasi di depan Kantor DPRD Provinsi Sul-Sel.
Rupanya Ambo’ Upe’ tak sabar untuk menjawab pertanyaan gurunya (pak Saponding).

Ambo’ Upe’: “Jerapah, pak.”

Seisi ruangan kelas termasuk pak Saponding tercengang kagum menyimak kecerdasan Ambo’ Upe’.

Bisa dibayangkan tanpa berpikir banyak, Ambo’ Upe’ langsung menjawab dengan benar.

Seratus nilai untuk Ambo Upe, lalu tepuk tangan semua murid-murid di dalam kelas.

Pak Guru: “Sekarang pertanyaan kedua, siapa yang tau nama binatang dimulai dengan huruf ‘L’?”

Ambo’ Upe’: (lagi-lagi Ambo’ Upe’ memperlihatkan kebrutalannya eh kepiawaiannya) “Lima Jerapah, pak.”

Pak Guru: “Aduh Ambo’ Upe’, sama aja dong jawabannya tadi… Ya sudah, sekarang sebutkan nama binatang yang berawal huruf ‘M’?”

Ambo’ Upe’: “Mungkin Jerapah, pak.”

Pak Guru: (mulai geram dan muak) “Ambo’ Upe’, kamu mengolok-olok bapak ya? Keluar kamu dari ruangan ini sekaraaaaaangggg. Dasar anak paccobi-cobi (Bugis)…!!!.

Apa boleh buat Nasi sudah menjadi bubur, terpaksa Ambo’ Upe’ keluar dari ruangan kelas dengan kepala tertunduk, sambil bergumam ‘Apa Salahku Ini, Semua Pertanyaan Pak Saponding Saya Jawa’.

Ini Mi Kapang Namanya Bagai Melepas Harimau Terjepit.

Mencoba untuk menenangkan diri, pak Saponding pun meneruskan cangkrimannya ke episode lain.

Pak Guru: “Sekarang, coba sebut nama binatang yang diawali huruf “P”

Ambo’ Upe’: (Dengan teriakan lantang di luar pintu kelas, Ambo’ Upe’ menjawab) “PASTI Jerapah, Pakkk!!!”.

Seketika itu terdengar bunyi gemeretak gigi palsu pak Saponding pertanda amarahnya lagi memuncak.

Pak Guru Saponding menggelepak sejuta rintih melihat skor IQ Ambo’ Upe’, bukan tertinggi di dunia tapi terendah di Salo’ Pokko’ e.

‘Ala kulli hal, berhubung sedang berpuasa, usahakan untuk selalu menghindari amarah.
Daripada membuang-buang energi untuk marah-marah dan bisa mengurangi nilai pahala puasa, lebih baik diam.

Ingat, amarah tidak pernah menyelesaikan permasalahan.

Justru akan menimbulkan masalah baru jika permasalahan dihadapi dengan kemarahan meluap-luap.

Tak usah-lah membuang-buang waktu di bulan Ramadhan ini untuk melampiaskan kemarahan. Orang-orang yang menyakitimu pada akhirnya akan menghadapi karma mereka sendiri.

Rasulullah SAW bersabda:
“Orang kuat itu bukanlah orang yang kuat bergulat, namun orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609).

𝟎𝟐 𝐑𝐚𝐦𝐚𝐝𝐡𝐚𝐧 𝟏𝟒𝟒𝟓 𝐇