Sejarah Berdirinya MAI Baruga Majene

0
100

Sejarah berdirinya MAI Baruga Majene Sulawesi Barat

Sejak tahun 1937, beberapa orang murid sudah menyelesaikan studinya di Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang Kabupaten Wajo yang dipimpin oleh Andonggurutta KH. Muhammad As’ad.

Beberapa orang murid dari Majene yang telah kembali pada waktu itu, antara lain; Andonggurutta Kyai Abdul Waris, Andonggurutta Kyai Ma’ruf, Andonggurutta Kyai Abdul Rahim, Andonggurutta Kyai Muhammad Nuh dan sebagainya.

Keadaan masyarakat di Baruga pada waktu itu telah mulai terlihat adanya gejala kemerosotan Akhlaq generasi muda, sehingga salah seorang tokoh masyarakat bernama Fatani Tayyeb berinisiatif untuk mengusulkan pendirian sekolah agama di Baruga dengan menyampaikan ide tersebut kepada para alumni MAI Sengkang dan MAI Mangkoso.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Andonggurutta Kyai Abdul Waris, Andonggurutta KH. Ma’ruf, Andonggurutta Kyai Abdul Rahim, Hasan (Pua’ Raehang), Abdul Waris dan Jalaluddin (Jalunding), tercapailah kata mufakat untuk mengadakan musyawarah rencana pendirian MAI di Baruga yang akan dirangkaikan dengan acara peringatan Isra’ Mi’raj yang pada waktu itu sebentar lagi akan diperingati.

Setelah peringatan Isra’ Mi’raj pada tahun 1946 M., acara pun kemudian dilanjutkan dengan musyawarah rencana pendirian MAI di Baruga.

Dalam pertemuan tersebut ternyata sebagian peserta musyawarah meragukan kemampuan yang ada, bahkan mengaggap keinginan dan rencana tersebut sebagai angan-angan belaka yang tidak akan pernah tercapai.

Mereka yang kurang yakin berargumen dengan merujuk pada pengalaman sebelumnya, di mana Pokkali Majene juga pernah mendirikan sekolah agama yang memiliki tenaga pengajar dari ulama-ulama yang datang dari Mesir, Sumatra dan ulama-ulama Majene sendiri.

Sekolah tersebut hanya mampu bertahan dalam waktu singkat, yaitu selama tiga tahun saja.

Mereka beranggapan bahwa gerakan para ulama yang tersohor saja berhenti di tengah jalan, terlebih lagi dengan kita nantinya.

Karena pernyataan-pernyataan yang bernada pesimis tersebut, sehingga semangat yang menggebu-gebu untuk mendirikan MAI akhirnya mulai pudar, dan akhirnya musyawarah tersebut berakhir tanpa mendapatkan hasil apa-apa selain rasa pesimis.

Dua hari kemudian Andonggurutta Kyai Muhammad Nuh (Imam Segeri) sengaja datang menemui Fatani untuk memastikan informasi yang telah beliau dengar dari buah mulut masyarakat tentang musyawarah rencana pendirian MAI di Baruga.

Setelah bertemu dengan Fatani bersama para alumni MAI Sengkang dan MAI Mangkoso, mereka kemudian menceritakan keinginan tersebut dan respon sebagian peserta musyawarah dalam pertemuan yang baru saja mereka adakan.

Mendengar penjelasan yang bernada pesimis tersebut, Andonggurutta Kyai Muhammad Nuh (Imam Segeri) memberi nasehat untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut.

Beliau mengingatkan bahwa setiap orang yang ingin memperjuangkan kebaikan dan ajaran Islam, pasti akan menghadapi banyak tantangan atau rintangan.

Jangankan kita sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad SAW saja seorang Rasul atau utusan Allah mengalami hal yang sama, bahkan tantangannya jauh lebih berat dari tantangan yang kita hadapi.

Mendengar nasehat Imam Segeri tersebut, semangat yang berapi-api yang hampir padam dalam diri para pemerakarsa tersebut akhirnya kembali berkobar dan menyala-nyala.

Begitu kuat dan bulatnya tekad untuk mendirikan MAI, hingga dalam waktu singkat terkumpullah dana Rp. 116 (seratus enam belas rupiah) yang didapat dari hasil pengedaran les sumbangan yang diedar oleh Jalaluddin (Jalunding).

Dari dana yang telah berhasil terkumpulkan tadi, kemudian diserahkan kepada Hasan (Pua Raehang) dan Andonggurutta Kyai Muhammad Nuh untuk membiayai perjalanan keduanya menuju Mangkoso sebagai utusan yang ditunjuk oleh pemrakarsa dengan maksud menemui langsung Andonggurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle dengan tujuan membicarakan keinginan masyarakat Baruga mendirikan MAI di Baruga sekaligus memohon restu dan bantuan tenaga pengajar dari kalangan murid-murid beliau.

Setibanya di Mangkoso keduanya sengaja bermalam di rumah Andonggurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle selama dua malam untuk membicarakan maksud tersebut.

Berselang beberapa waktu setelah kepulangan dua utusan di atas, Andonggurutta Mustamin dan seorang temannya (nama tidak diingat) murid Andonggurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle yang diutus ke Toli-Toli untuk berda’wah singgah di Baruga untuk menyampaikan pesan bahwa pada bulan Ramadhan nanti akan datang utusan Andonggurutta yang bernama Abdul Rasyid seorang penghafal al-Qur’an 30 juz.

Momentum kehadiran kedua utusan dari Mangkoso untuk Toli-toli yang singgah di Baruga ternyata tidak disia-siakan.

Masyarakat Baruga kemudian berkumpul di masjid untuk mendengarkan ceramah dari utusan MAI Mangkoso tersebut.

Usai pelaksanaan shalat zhuhur secara berjama’ah di masjid, Andonggurutta Mustamin pun berdiri memberikan ceramah yang membuat para jama’ah terkagum-kagum mendengarnya.

Karena antusias yang besar dari masyarakat Baruga untuk mendapatkan pelajaran dari beliau, sehingga perjalanannya ke Toli-toli harus tertunda selama lima hari di Baruga untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Begitu tingginya penghormatan dan penghargaan masyarakat pada keduanya, sampai-sampai beberapa ekor kambing pun sengaja disembelih sebagai wujud rasa syukur atas wejangan-wejangan agama yang telah diajarkan oleh keduanya.

Tidak lama setelah kepulangan kedua utusan MAI Mangkoso tersebut, bulan Ramadhan pun tiba dan tepat pada hari kedua puasa Andonggurutta Abdul Rasyid utusan dari MAI Mangkoso pun tiba di Baruga bersama kedua temannya bernama Andonggurutta Yahya dan Andonggurutta Saharuddin untuk berdakwah sebulan penuh di Baruga. Setelah Ramadhan usai, utusan tersebut pun kembali ke Mangkoso.

Pasca kepulangan utusan MAI Mangkoso tersebut, masyarakat Baruga kemudian kembali yang kedua kalinya mengutus dua orang utusan ke Mangkoso untuk menemui Andonggurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle, yaitu H. Syarif dan Hasan (Pua Raehang).

Maka datanglah dua orang utusan ke Baruga, yaitu Andonggurutta Sufyan Toli-toli sebagai guru bantu dan Andonggurutta Muhammad Shaleh Bone sebagai kepala sekolah yang dimandat langsung oleh Andonggurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle yang diantar oleh Andonggurutta Muhammad Nasir.

Kedatangan utusan MAI Mangkoso tersebut menandai berdirinya MAI di Baruga secara resmi sebagai cabang dari MAI Mangkoso.

Disadur dari web DDI Baruga