Sikap Rasis Jahiliyyah

0
75

Dr. Salahuddin Sopu

SIKAP RASIS JAHILIYYAH SAHABAT

Sebuah riwayat dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shahih diceritakan sebagai berikut:

Suatu hari, para shahabat berkumpul di suatu majelis yang tidak dihadiri Rasulullah Saw.

Dalam majelis itu, Bilal bin Rabbah bersilang pendapat dengan Abu Dzar Al-Ghifari.

Abu Dzar tak sepaham dengan apa yang dikatakan Bilal. Abu Dzar tersulut emosi, lisannya tak dapat dikendalikan dengan baik. Dari lisannya terlontar kata-kata kasar.

 يا ابن السوداء

*”Hai kamu, anak orang hitam!”*

Mendengar kata-kata itu, Bilal diam dalam ketersinggungan. Tak sepatah kata keluar untuk membalas Abu Dzar.

Dadanya bergemuruh, geram. Dan emosi itu tak pernah diluapkannya, la terus menahan marah saat ibunya ikut disebut-sebut sebagai bahan olokan dalam percakapan mereka.

Anak kandung mana yang terima ibunya dicoreng kehormatannya. Sang muazin meninggalkan Abu Dzar untuk mengadukan masalah ini kepada Rasulullah Saw.

Mendengar aduan itu, rona wajah Rasulullah Saw berubah. BeIiau bergegas menghampiri Abu Dzar dan segera menegurnya,

“Wahai Abu Dzar benarkah kau baru saja menghina pria itu, dengan mengejek pribadi ibunya?

Ketahuilah wahai Abu Dzar, perbuatanmu itu adalah perilaku orang-orang jahiliah yang tercela” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah Saw mengucapkan teguran Itu karena kemuliaan seorang hamba tidak diukur berdasarkan suku, ras, atau pun warna kulit. Namun, semata karena ketakwaannya kepada Allah SWT.

Rasulullah menyadarkan Abu Dzar bahwa dirinya sudah bersikap kelewatan, Berani melanggar pagar pagar syariat yang baru dibangun Rasulullah Saw

Mendengar nasihat Rasulullah, Abu Dzar menangis sesenggukan memohon ampunan kepada Alah. Ia menyesali sikap rasisnya. la pun berjanji di hadapan Nabi SAW untuk tidak mengulanginya dan segera memohon maaf kepada Bilal.

Abu Dzar lari mengejar Bilal. Abu Dzar menyungkurkan diri di hadapan Bilal bin Rabah yang hendak melangkah menjauh dari Abu Dzar ia menempelkan sebelah pipinya di atas tanah berpasir, dilumurkannya pasir ke bagian pipi yang lain berharap Bilal mau menginjaknya.

Berulang kali Abu Dzar memohon agar Bilal menginjak wajahnya. Abu Dar terus mengiba kepada Bilal dengan ucapan, “Injaklah wajahku, wahai Bilal, Injak wajahku! injaklah wajahku Demi Alah Injaklah wajahku, wahai Bilal! Aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan mengampuni sifat jahiliah dari jiwaku”

Di kisahkan selanjutnya dalaml kitab Al-Lami’ Ash-Shabih Bisyarhi Al-Jami’ Ash-Shahih bahwa Bilal pun meletakkan kakinya di pipi Abu Dzar Menginjak dengan penuh kelembutan, bukan karena hendak balas dendam atau pelampiasan kemarahan.

Sikap ini menjadi pertanda bahwa Bilal telah mengikhlaskan sebuah ketergelinciran dan ketidaksengajaan yang keluar dari lisan saudaranya semuslim, Abu Dzar.

Demikianlah kegigihan shahabat Abu Dzar dan untuk menebus dosa dan kesalahannya yang membuat Allah dan Rasul-Nya rida.

Sementara shahabat Bilal dikenal sebagai sosok shahabat yang berhati mulia, berjiwa ramah, dan pemaaf.

Tidak ada dendam dalam jiwanya, meskipun ibunya dicela dengan kata-kata tidak terpuji.

ddi abrad 1