Turnamen Ramadhan: Kini Babak Semifinal

0
12

Turnamen Ramadhan: Kini Babak Semifinal

Oleh: Suf Kasman

PELUIT panjang tanda berakhirnya babak penyisihan, baru saja ditiup.

Sepuluh hari pertama Ramadhan telah terlewati sebagai fase adaptasi penuh antusiasme.

Saking semangatnya, terdapat jemaah menghamparkan sajadah lebih awal demi menantikan shalat tarawih usai Magrib. Niat diperbarui, energi spiritual membuncah, dan masjid dipadati insan bertakwa penuh harap.

Suasana terasa persis laga pembuka liga kampung bercita rasa final Piala Dunia.

Pekan pertama, shaf begitu rapat; bahu saling bersentuhan dalam keakraban. Sisulle sipalabe’!

Semua kalangan turun ke “lapangan hijau” Ramadhan untuk menunaikan shalat tarawih: anak-anak, remaja, orang tua, Tomatoa Kaliddong, janda pirang, hingga komunitas Calabai Kotek. Semuanya membawa tekad sama—berharap dosa terhapus dan surga diraih.

Area parkir masjid meluap. Sandal berderet dan saling berdesakan laksana suporter PSM berebut tribun. Sebagian jamaah datang lebih awal demi mendapatkan shaf terdepan; sebagian lainnya membaca Al-Qur’an serta berzikir menggunakan tasbih digital mungil berbentuk cincin, pemberian seorang teman sepulang dari umrah. Semangat keislaman tampak menggetarkan jagat raya.

Sebagai penceramah, saya kadang berdiri di mimbar menyampaikan hadis Rasulullah SAW, sekaligus menjadi “pemain” di barisan shaf.

Dari posisi itu, “statistik spiritual” terlihat menanjak tajam. Jamaah hadir dengan wajah cerah, merasa peluang lolos ke fase berikut masih terbuka lebar.

Kini, malam kesebelas tiba. Selamat datang di babak semifinal.

Memasuki tahap ini, suasana Ramadhan berubah lebih serius. Setelah pekan pertama dipenuhi euforia, fase berikutnya menuntut daya tahan yang kokoh dan konsistensi.

Babak semifinal ibarat seleksi alam spiritual—tegas namun jujur dan tak bisa direkayasa.

Pemandangan mulai berubah drastis. “Stadion” Ramadhan, khususnya jamaah tarawih di masjid perlahan lengang. Shaf sebelumnya rapat kini renggang, menyisakan celah mencolok di barisan belakang.

Sebagian peserta semula bersemangat menunaikan shalat tarawih di masjid tak lagi terlihat dalam “daftar susunan pemain inti”. Mereka menghilang satu per satu, seakan menyatakan mundur sebelum pertandingan usai.

Banyak “pemain” melakukan “transfer mendadak” ke arena berbeda. Pertandingan bergeser kontras: dari rumah Tuhan menuju pusat perbelanjaan.

Mall Panakkukang (MP) Makassar tampak lebih gemerlap oleh diskon belanja ketimbang “diskon” ampunan dosa.

Trofi alternatif kasatmata—pakaian baru, sepatu bermerek—terlihat lebih memikat dibanding limpahan pahala. Fokus pun terbelah antara sajadah dan layar ponsel, antara tilawah dan notifikasi promosi.

Pada fase ini, banyak tersisih bukan karena lemah fisik, melainkan karena kehilangan fokus.

Semangat sempat menyala terang di awal perlahan meredup ke khitah semula. Mapella-pella Tai Manu’—panas tahi ayam—cepat menyala, cepat pula padam sebelum garis akhir.

Ramadhan dirancang untuk melatih otot spiritual, bukan sekadar ketahanan berdiri di antrean kasir pusat perbelanjaan.

Kekhawatiran tertinggal tren kerap terasa lebih besar daripada rasa takut kehilangan pahala malam penuh ampunan.

Pertandingan belum usai. Semifinal Ramadhan sebagai seleksi karakter: menguji kesetiaan saat suasana sepi, menilai konsistensi kala sorak mereda.

Strategi perlu ditata ulang; niat diluruskan, waktu diatur tegas, distraksi dibatasi tanpa kompromi.

Tanpa ketangguhan pada fase Semifinal Ramadhan ini, mustahil melaju kencang ke babak akhir dan memeluk kemenangan sejati.

Mari kembali ke “lapangan hijau” sajadah qiyam Ramadhan. Tuntaskan laga hingga final.

Sabtu, 28 Februari 2026 M/10 Ramadhan 1447 H

SK

ddi abrad 1