Pilih Pesta atau Munajat?
Oleh: Suf Kasman
Menjelang sakratul maut kalender 2025, di bawah bayang-bayang malam bersiap meledak, waktu bergulir tak terbendung tepat di jantung 00.00
Saat itulah, sebuah pertanyaan kolosal menghantam kesadaran: Pilih Pesta atau Munajat?
Jauh hari sebelum tahun 2025 menemui ajalnya, jutaan rencana telah dipahat dalam ambisi; sukacita ekstrem dirancang, dan hiruk-pikuk ditata demi satu malam yang disakralkan kalender.
Seolah waktu pergantian tahun hanya pantas ditebus dengan sorak-sorai yang melenakan jiwa, hingga pertanyaan itu “Pilih Pesta atau Munajat?” terus bergaung hampa, tergilas oleh riuh rencana yang telanjur bersekutu dengan hawa nafsu.
Malam tahun baru disambut gegap gempita: terompet memekik, kembang api mencabik langit. Sayang, cahaya terangnya hanya menyilaukan mata sebentar, sementara gelap yang ditinggalkannya terasa lebih panjang, seolah memberi isyarat nalar sehat perlahan dipadamkan.
Panggung hiburan mengepung kota. Lihat saja sebentar malam Pantai Losari! Membeludak kerumunan manusia ‘kering iman’. Manusia-manusia nampaknya perlu segera diservis di ‘bengkel takwa.
Lucunya, jauh-jauh ki datang dari kampung, berlelah-lelah menerjang badai macet, ujung-ujungnya cuma pisang epe termakan di trotoar.
Dari anak-anak hingga orang tua tumpah ruah ke jalanan. Laki-laki dan perempuan berbaur tanpa sekat; semua larut, tenggelam dalam kubangan euforia. Seolah pergantian tahun adalah hajatan kehinaan yang wajib dihadiri.
Tak ketinggalan, diskotek bersolek genit; lampu-lampu meredup mesum, musik menderu kalap, dan pintu maksiat menganga lebar siap menjarah kesucian putri-putri negeri yang kehilangan arah.
Bahkan meja bola sodok pun mengirim sinyal siaga, beralih peran menjadi ajang di bawah kibaran panji setan; di sana, iman dirontokkan tanpa sisa. Sementara bisnis ‘lendir’ meraup keuntungan sesaat di atas kehampaan jiwa.
Barat dan Timur serempak hanyut dalam irama surgawi dunia. Atas nama kesenangan, Muslim maupun non-Muslim lebur dalam satu bukti: hiruk-pikuk lebih laku daripada renungan, dan pesta maksiat jauh lebih laris daripada munajat.
Itulah delegasi mereka! Barisan penggadai kekekalan demi kesenangan prematur.
Namun di tengah kegilaan itu, sebuah tanya kembali berdiri tegak, menghantam nurani dengan dentuman yang keras: Jam 00.00: Pilih Pesta atau Munajat?
Kini giliran nurani bicara. Di ambang titik 00.00 sebentar malam, dirimu adalah pemilih tunggal dalam ‘Pilkada Akhirat’. Tempat jemari sendiri mencoblos surga atau neraka.
Jangan lengah, sebab sebentar malam setiap jiwa sedang digiring masuk ke palagan dahsyat antara cahaya dan kegelapan.
Aku nasihatkan: “Peluklah hening, jemputlah Munajat; hanya di hadapan-Nya keberuntungan dunia akhirat sudi menetap.”
Selamat menyambut tahun baru 2026 dalam dekapan kesadaran, bukan dalam lelapnya kelalaian.
Rabu, Rabu 31 Desember 2025
















