Lebaran Di Lapangan; Awas Langit Tumpah

0
56

Lebaran di Lapangan: Awas Langit Tumpah

Oleh: Suf Kasman

Dosen Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

SORE ini, Ramadan ke-30 bersiap pamit. Kurang sejam lagi, bulan suci ini benar-benar meninggalkan kita.

Langit masih setia menurunkan rintik. Awan hitam menggantung, mendung menyelimuti kota tanpa jeda.

Namun, patut disyukuri—rintik ini adalah air jernih. Bukan hujan dahsyat berbulan-bulan seperti di zaman Nabi Nuh AS. Bukan pula hujan darah di masa Nabi Musa AS yang mengubah air menjadi merah (QS. Al-A’raf: 133).

Sejarah juga mencatat hujan kerikil melalui burung Ababil yang menghantam pasukan Raja Abrahah. Hingga hujan batu yang menimpa kaum Luth (QS. Hud: 82).

Jika dibandingkan dengan hujan es dan salju di Eropa, rintik sore ini adalah rahmat yang menyejukkan batin.

Suasana syahdu ini mengiringi perpisahan, seiring terbenamnya matahari (ghurub) di ufuk Barat. Seketika, 1 Syawal hadir membawa fajar kemenangan bagi jiwa yang telah ditempa.

Sekitar sejam lagi, takbir akan berkumandang dari menara-menara masjid—namun gaungnya seakan sudah terasa di langit senja.

Peristiwa ini ibarat wiper pada kaca mobil—menyapu bersih debu dosa yang menghalangi pandangan batin selama sebelas bulan terakhir.

Pandangan pun menjadi jernih. Memastikan 1 Syawal 1447 H bukan sekadar tanggal merah, melainkan awal perjalanan baru yang lebih bersih.

Pemerintah telah menetapkan bahwa hilal telah terlihat. Gemuruh Allahu akbar seakan telah bersiap, menunggu waktu untuk benar-benar pecah di ufuk Barat.

Besok, saat Idulfitri tiba, umat Islam akan tumpah ruah ke lapangan. Sebuah gelaran akbar yang melibatkan semua, tanpa kecuali.

Bahkan wanita haid pun dianjurkan hadir, menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin—sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari (no. 981) dan Muslim (no. 890) dari Ummu ‘Athiyyah. Meski tidak melaksanakan shalat, mereka tetap dianjurkan menyimak nasihat khatib.

Namun, faktor cuaca tetap menjadi catatan penting. Mengingat musim hujan, panitia harus bersiap matang.

Jangan sampai kejadian beberapa tahun lalu terulang. Saat khatib baru naik mimbar, tiba-tiba langit benar-benar tumpah. Hujan deras mengguyur tanpa ampun.

Apa yang terjadi? Jamaah berlarian menyelamatkan diri—persis kawanan kambing dikejar macan tutul.

Lucunya, sang khatib pun tak mau kalah. Ia ikut mengokang kakinya, berlari sambil mendekap naskah khutbahnya.

Karena itu, rencana cadangan harus siap. Jika mendung menebal, saf jamaah bisa dialihkan ke masjid terdekat agar kekhusyukan tetap terjaga.

Tadi siang, saat menjadi khatib Jumat di kompleks Bukit Baruga, persiapan Lebaran tampak sudah sangat matang. Jika hujan tiba-tiba turun di halaman luas itu, jamaah langsung diarahkan masuk ke masjid. Panitianya benar-benar sigap—layak mendapat acungan jempol.

Dari kesiapan sederhana itu, tampak satu hal: semua jamaah diperlakukan sama—tanpa sekat, tanpa perbedaan. Di situlah pelajaran tentang kesetaraan di hadapan Allah terasa nyata.

Pelajaran itu terasa semakin dekat, terutama saat langkah harus diarahkan menuju utara, mengemban sebuah amanah.

Sebentar malam, saya akan memulai perjalanan menuju lokasi tugas. Besok pagi, amanah sebagai khatib Idulfitri menanti di Lapangan Nurul Hamidin, Kabupaten Pinrang.

Menatap wajah-wajah penuh harap di Bumi Lasinrang adalah kehormatan tersendiri. Ini bukan sekadar perjalanan, melainkan ikhtiar menyampaikan pesan langit kepada sesama hamba yang merindukan ampunan.

Lebaran bukan sekadar berakhirnya lapar atau perayaan tahunan. Ia adalah kepulangan—jiwa yang lelah kembali ke rumah paling tenang.

Terbenamnya matahari malam ini menandai akhir perjalanan Ramadan.

Selamat merayakan hari kemenangan. Saatnya kembali ke fitrah.

Jum’at, 30 Ramadhan 1447 H / 20 Maret 2026

SK

ddi abrad 1