Muraqabah; Merasa Diawasi

0
10

‎‎‎AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎‎‎‎‎

‎اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْه

النُّشُوْرِ

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَا  يَعْلَمُ  مَنْ  خَلَقَ  ۗ وَهُوَ  اللَّطِيْفُ  الْخَبِيْرُ

“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus, Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Mulk 67: Ayat 14)

Allah sebagai Pencipta pasti Maha Mengetahui seluruh ciptaan-Nya secara detail, baik yang tampak maupun tersembunyi.

Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, sehingga seorang mukmin harus hidup dengan kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah.

Allah mengetahui manusia secara sempurna, mengetahui hal-hal yang sangat lembut dan tersembunyi serta mengetahui segala sesuatu sampai detail terkecil.

Maha Mengetahui hakikat segala sesuatu, luar-dalam, awal-akhir, sebab-akibat. Merasa diawasi (muraqabah) menjadikan hidup lebih hati-hati dan bertakwa.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya tidur…” (HR. Muslim no. 179)

Wallahu a’lam.

ddi abrad 1