AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Ikhlas dalam Pengabdian
Sesuai dengan akronim namanya, Darud Dakwah (Rumah Dakwah) dan Wal-Irsyad (Pendidikan), alumni dituntut memiliki etos pengabdian yang tinggi tanpa pamrih duniawi.
Landasan ikhlas ini merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah ayat 5:
{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ}
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”* (QS. Al-Bayyinah: 5)
Alumni DDI dididik untuk siap menjadi pelita bagi umat, baik melalui peran struktural maupun kultural yang sederhana, seperti mengajar mengaji di pelosok tanpa berorientasi pada imbalan materi.
Keikhlasan ini menjadi mesin penggerak dakwah DDI yang konsisten melintasi zaman.
Tawadhu (Rendah Hati)
Keluhuran ilmu tidak boleh melahirkan arogansi intelektual atau kesombongan akademik.
Alumni DDI ditekankan untuk selalu merendahkan hati, sebagaimana tuntunan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Furqan ayat 63:
{وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا}
Artinya: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam’.”* (QS. Al-Furqan: 63)
Sikap tawadhu ini dipertegas dalam hadis riwayat Imam Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda:
{وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ}
Artinya: “…dan tidaklah seseorang bertawadhu (merendahkan hati) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan (derajat)nya.”* (HR. Muslim)
Melalui pilar ini, alumni DDI tidak mudah menghakimi, menyalahkan, atau mengafirkan kelompok lain yang berbeda pandangan keagamaan, melainkan merangkul dengan kelembutan.













