Gerak Jalan: Semangat Membara, Napas Ngos-ngosan
Oleh: Suf Kasman
GERAK JALAN HUT RI KE-81 baru saja usai. Kampung-kampung masih menyisakan jejak perjuangan para peserta.
Bendera Merah Putih masih berkibar, jalanan masih dihiasi umbul-umbul, sementara sebagian peserta mungkin masih sibuk memulihkan persendian yang belum move on dari gerak jalan.
Anak-anak melangkah riang dalam gerak jalan. Ibu-ibu tampil dengan langkah penuh keyakinan. Bahkan gerombolan bencong dan calabai pun turun meramaikan karnaval.
Semua tampil penuh percaya diri, seolah garis finis cuma dua tikungan. Padahal, dua tikungan saja sudah cukup membuat persendian mengajukan surat pengunduran diri!
Gerak jalan bukan cuma modal semangat 17 Agustus. Seragam siap, yel-yel siap, gaya berjalan unik siap—dan yang paling penting: cadangan napas!
Sebab dalam gerak jalan, ada satu hukum alam yang sulit dibantah: semakin jauh melangkah, semakin nampak loyonisasi.
Awalnya semangat 45, ujung-ujungnya poso-poso!
Sebelum hari H, peserta sibuk menyiapkan kostum. Tujuannya mulia: memeriahkan kemerdekaan sekaligus membuat tetangga bertanya: “Ini gerak jalan atau mau karnaval peragaan busana?”
Saya hadir sebagai penonton. Tapi penonton kampung jangan dianggap remeh. Ada jabatan tidak resmi: pengamat, komentator, juri dadakan, sekaligus tukang ketawa melihat aksi kocak peserta.
Saya memperhatikan penampilan defile, masih ada yang langkahnya terlalu cepat, seperti hendak mengejar kereta api. Ada pula yang terlalu lamban sampai hampir ditinggalkan barisan.
Ada juga jampaleang—gerakan spontan, sikoca-koca (kocak), dan di luar dugaan—yang justru membuat penonton semakin ramai tertawa.
Dulu, gerak jalan identik dengan langkah tegap ala Tentara Nasional Indonesia (TNI): tangan lurus, kepala tegak, dada membusung, dan komando seragam.
Sekarang, gerak jalan semakin kreatif dan artistik.
Ada formasi langkah PBB—Perjuangan Bernapas Bersama, gaya joget lucu ngakak, ada gerakan patah-patahnya artis Anisa Bahar yang membuat suasana semakin meriah.
Boleh dibilang, gerak jalan sekarang bukan sekadar soal barisan harus seragam. Yang penting semangatnya seragam, meski gerakannya kadang mirip nyareng mabbongkilang (punya pendapat sendiri).
Kadang saya bertanya dalam hati: “Ini barisan gerak jalan atau rombongan aksi keliling kampung membangunkan sahur?”
Sampailah pada satu komando:
“Hormat… GERAK!”
Satu barisan ibu-ibu usia 45 tahun ke atas mendadak mencuri perhatian.
Langkahnya menggelegar. Sol sepatu beradu dengan aspal beton, menciptakan irama “tak-tok, tak-tok, ba-tuk, bo-tak” yang terdengar seperti musik pengiring barisan.
Wajahnya penuh percaya diri, seolah tak ada urusan dengan cicilan baju seragam. Kostumnya pun mentereng—siap menyaingi dominasi peserta kawula muda.
Namun, bukannya menjawab komando dengan gerakan hormat biasa, mereka justru melantunkan:
“Akkaresoki lakkai..” (Wahai suami, teruslah banting tulang.)
Lalu disambung:
“Ma’gaya bainemu…” (Istrimu suka bersolek.)
Dan klimaksnya:
“Alako cilla’, alako gincung, alako cere’…!!!”
Pecah! Penonton langsung meledak dalam tawa. Ada yang keke’ (terpingkal-pingkal), ada pula terkial-kial sampai memegangi perut buncitnya, sementara saya sendiri ngakak membahana sampai terasa gigi geraham hampir terlempar keluar.
Gerak jalan terus berlanjut. Saya masih memperhatikan barisan ibu-ibu amat seru itu. Mereka tampak seperti pasukan Kowad: cantik, kompak, senyum lebar, kendati langkah mulai mengoper gigi persneling 2.
Begitu diperhatikan lebih dekat, astaga! Senyumnya masih glossy, tetapi napasnya sudah ngos-ngosan, mengirim sinyal minta ampun!
Lutut mulai marakoko’—gemeletuk kayak kelereng dalam kaleng. Badan mulai mengirim pesan: harga diri boleh tinggi, tetapi stamina punya batas!
Langkah pertama: Masih penuh wibawa. Senyum mengembang lebar—maklum, segenap keluarga ikut menonton: anak, menantu, saudara, sampai tetangga sibuk merekam. Masih merasa bak atlet muda 17 tahun, padahal baru berjalan 400 meter.
Langkah kedua: Paru-paru mulai overheat dan mengibarkan bendera putih. Lutut ikut marakoko’, pinggang mengajukan mosi tidak percaya, sementara napas sudah melayangkan surat SP-1. Barisan mulai terasa seperti rapat darurat: lanjut atau bubar?
Siang makin terik. Matahari bertindak sebagai juri tanpa ampun. Keringat mulai banjir bandang. Dari barisan belakang mulai tercium aroma misterius akibat perut kembung. Peserta di depannya pun otomatis mempercepat langkah demi menyelamatkan hidung dari serangan mettu’ lemo.
Bedak luntur total. Wajah mengilap bagai habis dipoles minyak goreng sawit. Kalau ada lomba “Wajah Paling Berkilau”, ibu-ibu ini bukan cuma masuk final—langsung juara umum!
Namun demi harga diri, micawa kiru’ alias senyum dipaksakan tetap terpasang. Bibir tetap merekah, sementara hati sudah menggelar rapat darurat: “Bagaimana caranya menyudahi parade siang bolong ini?”
Momen paling dramatis terjadi ketika peserta mulai lirik-lirikan dengan penonton pembawa air mineral.
Tangan mau menggapai, tetapi komando melarang.
Akhirnya, air dingin itu cuma dipandang merana—persis jomblo menatap mantan di pelaminan.
Di tengah napas yang makin tipis, seorang peserta berbisik pasrah:
“Masih jauhkah garis finisnya? Kakiku sudah mulai mappengkong (kram dan kaku)…”
Temannya menjawab megap-megap:
“Tidak tahu… mungkin masih 40 kilometer lagi.”
“HAH?! EMPAT PULUH KILOMETER?!”
Nappatta’ bonyjyak! (kita akan tumbang)
Angka 40 kilometer itu sukses membuat semangat kemerdekaan mendadak amnesia. Wajah langsung pucat pasi de’ gaga darah ko isinna.
Tangan buru-buru merogoh kantong—saya kira mau mengambil handphone untuk menelepon ambulans gawat darurat.
Ternyata cuma mencari balsem Geliga!
Di titik ini, ambisi peserta sudah terbelah tiga: ada yang masih bernafsu mengejar juara, ada yang pasrah cuma mengejar garis finis, dan ada yang pikirannya sudah terbang mendahului raga—mengejar es cendol Lawawoi lima gelas, plus Apang pella!
Kalau sudah begini, gerak jalan bukan lagi soal siapa paling cepat, tetapi siapa paling kuat mempertahankan senyum sampai garis finis.
Kaki boleh bernegosiasi, lutut boleh protes, paru-paru boleh kibarkan bendera putih—gengsi tetap berdiri paling depan.
Namanya juga gerak jalan.
Yang bergerak kaki. Yang ngos-ngosan napas. Yang tersiksa lutut. Yang tetap tersenyum—harga diri!
Di balik tawa, ada pesan: tetap kompak sampai garis finis.
Bercanda boleh, tertawa boleh, asal tetap saling menjaga.
Sebab gerak jalan berakhir di garis finis, gerak kehidupan berakhir di hadapan Sang Pencipta. Bukan kostum atau tepuk tangan yang dihitung, melainkan amal dan ketulusan.
Gerak jalan boleh selesai. Gerak amal jangan berhenti.
19 Agustus 2026 (SF)















