AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Perkembangan Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Kota Harapan
Tulisan ilmiah ini mengkaji sejarah pendirian, perkembangan, serta dinamika kelembagaan Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Kota Harapan yang terletak di Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.
Melalui pendekatan historis-sosiologis, penelitian ini menemukan bahwa eksistensi DDI Kota Harapan tidak terlepas dari arus migrasi masyarakat Bugis (transmigran swakarsa) dan kuatnya ikatan spiritual mereka dengan jaringan keilmuan Pesantren Farud Da’wah wal-Irsyad [DDI] di Sulawesi Selatan.
Kehadiran tokoh pembina awal seperti Gurutta Haji Mukit yang bersinergi dengan tokoh masyarakat Lambur, serta dikirimnya guru perintis dari DDI Pusat seperti Ustaz Suaib Tahir, menjadi pilar utama pembentukan standardisasi akademik formal madrasah ini.
Dalam perkembangannya, DDI Kota Harapan bertransformasi dari sistem halakah tradisional menjadi lembaga pendidikan modern yang menaungi Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), serta melahirkan jaringan alumni yang berkiprah signifikan dalam lanskap sosial-politik regional dan nasional.
– Pendahuluan
Kabupaten Tanjung Jabung Timur, khususnya wilayah pesisir seperti Muara Sabak dan Lambur, merupakan salah satu basis konsentrasi terbesar masyarakat keturunan Bugis di Provinsi Jambi.
Penghijrahan massal yang terjadi sejak pertengahan abad ke-20 membawa tidak hanya sistem pertanian pasang-surut dan struktur adat, tetapi juga kebutuhan yang tinggi akan institusi keagamaan yang akrab dengan memori kolektif mereka di kampung halaman.
Dalam konteks tersebut, Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI)—organisasi massa Islam berbasis pesantren yang didirikan oleh Anregurutta AGH. Abdurrahman Ambo Dalle Tanah Bugis, Sulawesi Selatan—menjadi pilihan utama wadah pendidikan.
Salah satu representasi penting dari jaringan ini di tanah perantauan Jambi adalah DDI Kota Harapan.
Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi sejarah perkembangan DDI Kota Harapan, pengaruh transmisi sanad keilmuan trans-pulau, serta peran strategis pemangku kepentingan (tokoh masyarakat, guru perintis, dan alumni) dalam menjaga keberlanjutan madrasah ini.
– Asal-Usul dan Fondasi Awal: Sinergi Tradisi dan Komunitas Swadaya
Pendirian lembaga pendidikan DDI di wilayah Lambur dan Kota Harapan bermula dari kesepakatan kolektif para tetua adat dan tokoh agama Bugis setempat.
Pada fase awal, kegiatan keagamaan masih bersifat halakah tradisional yang berpusat di masjid atau rumah-rumah panggung (mangaji tudang).
Tantangan geografis wilayah pasang-surut tidak menyurutkan komitmen masyarakat. Fondasi kokoh DDI di kawasan ini diletakkan melalui peran Gurutta Haji Mukit.
Sebagai seorang ulama yang pernah mengaji di Mekkah beliau bertindak sebagai pembina awal yang memegang otoritas spiritual tertinggi.
Bersama tokoh-tokoh masyarakat Bugis Lambur, Gurutta Haji Mukit berhasil mengonsolidasikan potensi lokal. Sinergi ini mewujud dalam bentuk:
• Wakaf Tanah: Para petani dan pelaut Bugis menghibahkan sebagian lahan perkebunan mereka untuk dijadikan kompleks madrasah.
• Pendanaan Swadaya: Sistem pembiayaan dan pembangunan fisik sekolah awal dibangun menggunakan sumbangan hasil bumi secara gotong royong (mabbulo sipeppa).
– Intervensi DDI Pusat dan Standardisasi Akademik
Fase krusial yang mengubah status pengajaran tradisional menjadi sistem kelembagaan formal terjadi ketika Pengurus Besar (PB) DDI Pusat mengirimkan tenaga pengajar handal langsung dari DDI Kaballangan.
Tokoh utama pada fase perintisan akademik ini adalah Ustaz Suaib Tahir (kini Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Suaib Tahir, Lc., M.A.), seorang santri ideologis yang dibesarkan di bawah asuhan langsung AGH. Abdurrahman Ambo Dalle.
Kehadiran Ustaz Suaib Tahir membawa dampak multiplikasi (multiplier effect) bagi DDI di Lambur dan Kota Harapan:
1. Transmisi Sanad dan Kurikulum: Beliau mengintegrasikan kurikulum kitab kuning standar DDI Mangkoso ke dalam sistem klasikal di Jambi, sehingga santri perantauan mendapatkan mutu keilmuan Islam yang setara dengan santri di Sulawesi Selatan.
2. Standardisasi Madrasah: Membantu mengonversi model pengajian menjadi penjenjangan formal madrasah (Tsanawiyah dan Aliyah).
3. Inspirasi Intelektual: Sosok Ustaz Suaib Tahir yang di kemudian hari menempuh studi ke Universitas Al-Azhar Kairo dan kini menjadi Sekjen PB DDI, memberikan motivasi besar bagi anak-anak pesisir Jambi bahwa pendidikan madrasah mampu membawa mereka ke panggung internasional.
– Dinamika Perkembangan Kelembagaan Kontemporer
Seiring pemekaran wilayah dan pertumbuhan penduduk, operasional kelembagaan berpusat di Jalan Melati, Kota Harapan, Kecamatan Muara Sabak Timur.
Di bawah naungan DDI Kota Harapan, kini berdiri MTs DDI Kota Harapan dan MA DDI Kota Harapan.
Pada fase kontemporer ini, keberlanjutan institusi dikawal oleh tokoh-tokoh lokal seperti Firmansyah dan Saharuddin. Peran mereka mencakup:
• Modernisasi Manajemen: Mengadopsi sistem administrasi modern dan kurikulum Kementerian Agama tanpa mereduksi identitas kepesantrenan dan pengajaran kitab kuning.
• Standardisasi Kelulusan: Sukses menyelenggarakan asesmen nasional/madrasah secara mandiri serta meningkatkan kualitas sarana laboratorium komputer dan literasi digital santri.
– Dampak Sosial-Politik dan Kontribusi Alumni
Indikator keberhasilan dari kombinasi didikan spiritual Gurutta Haji Mukit dan landasan akademik Ustaz Suaib Tahir adalah lahirnya kualitas alumni yang bersaing tinggi.
Pola kaderisasi DDI terbukti tidak hanya mencetak ahli agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga pemimpin publik.
Salah satu representasi alumni paling menonjol dari rahim DDI di wilayah ini (tercatat sebagai alumni DDI Lambur) adalah Muslimin Tanja, S.Th.I., M.Si. Kiprahnya menjadi manifestasi nyata dari keberhasilan DDI:
• Kiprah Akademik & Riset Nasional: Menjadi pengamat politik nasional, Direktur Riset Charta Politika, dan mendirikan lembaga survei Puspoll Indonesia.
• Kepemimpinan Publik: Puncaknya, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur [semoga tetap berkarir terus dengan taufiq dan Inayah Allah SWT].
Hal ini membuktikan bahwa lulusan pesantren DDI Kota Harapan/Lambur memiliki modal sosial dan intelektual untuk memimpin pembangunan daerah.
– Kesimpulan
Perkembangan DDI Kota Harapan, Jambi, merupakan studi kasus yang sukses mengenai bagaimana sebuah institusi pendidikan Islam tradisional mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tanah rantaunya.
Keberhasilan ini ditopang oleh tiga pilar utama: loyalitas budaya dan swadaya masyarakat Bugis Lambur di bawah bimbingan spiritual Gurutta Haji Mukit, standardisasi mutu akademik dari DDI Pusat yang dibawa oleh Ustaz Suaib Tahir, serta regenerasi kepengurusan lokal oleh figur seperti Firmansyah [anggota dewan] dan Saharuddin [kepala madrasah].
Produk dari ekosistem ini melahirkan alumni sekaliber Muslimin Tanja yang mampu melakukan mobilitas sosial-politik ke tingkat nasional sekaligus memperkuat ketahanan moral masyarakat di Tanjung Jabung Timur.
















