Islam dan Tantangan Modernisme serta Postmodernisme

0
16

AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc , MA.

ISLAM DAN TANTANGAN MODERNISME SERTA POSTMODERNISME

PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang melintasi ruang dan waktu (shalih likulli zaman wa makan).

Namun, dalam perjalanannya, eksistensi pemikiran Islam selalu berdialektika dengan peradaban zaman.

Dua arus besar yang menjadi tantangan paling krusial bagi teologi dan sosiologi umat Islam saat ini adalah modernisme dan postmodernisme.

Modernisme yang lahir dari rahim Renaisans Eropa menawarkan rasionalisme, empirisme, dan kemajuan teknologi. Di sisi lain, proyek modernisme dinilai gagal humanistik sehingga melahirkan postmodernisme.

Postmodernisme mengusung dekonstruksi, relativisme, dan penolakan terhadap kebenaran tunggal (grand narrative).

Kedua paham ini tidak hanya mengubah tatanan sosial dunia Barat, tetapi juga merambah ke dalam epistemologi pemikiran Islam.

Oleh karena itu, penting untuk memetakan tantangan ini menggunakan landasan epistemologi Al-Qur’an serta metode penelitian yang sistematis.

– Rumusan Masalah

1. Bagaimana argumen epistemologis Al-Qur’an dalam menghadapi rasionalisme modernisme?

2. Bagaimana argumen teologis Al-Qur’an dalam membantah relativisme postmodernisme?

3. Bagaimana metodologi penelitian yang tepat untuk mengkaji isu kontemporer ini?

– Tujuan Penulisan

1. Mengintegrasikan dalil-dalil Al-Qur’an sebagai respons normatif terhadap klaim modernisme.

2. Menggunakan argumen tekstual Al-Qur’an untuk menepis relativisme kebenaran postmodernisme.

3. Menjelaskan metode penelitian kualitatif-pustaka dalam membedah fenomena pemikiran ini.

METODE PENELITIAN

1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif-analitis.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan epistemologis dan teologis-normatif guna membandingkan struktur pemikiran Barat kontemporer dengan worldview Islam.

2 Sumber Data

Data dalam penelitian ini sepenuhnya bersifat literer (studi kepustakaan/library research). Sumber data dibagi menjadi dua kategori:

– Data Primer: Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan konsep kebenaran, akal, sains, dan pluralitas, serta karya-karya master dari pemikir Islam kontemporer (seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi).

– Data Sekunder: Buku, jurnal ilmiah, dan artikel akademis yang mengulas perkembangan filsafat modernisme dan postmodernisme Barat.

3 Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dengan metode content analysis (analisis isi). Setelah data tekstual dikumpulkan, peneliti melakukan reduksi data, penyajian data secara tematis, dan penarikan kesimpulan.

Pengujian keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber kepustakaan demi menjaga objektivitas hasil kajian.

PEMBAHASAN

1 Argumen Al-Qur’an Menghadapi Rasionalisme Modernisme

Modernisme menempatkan akal manusia sebagai pemegang otoritas kebenaran tertinggi (rasionalisme sekuler). Islam tidak menolak akal, namun memposisikan akal di bawah naungan wahyu. Al-Qur’an memberikan koridor yang jelas mengenai fungsi akal dan sains:

* Akal sebagai Alat Memahami Wahyu: Al-Qur’an mengecam manusia yang tidak menggunakan akalnya untuk bertafakur. Dalam Surah Al-Anfal ayat 22, Allah SWT berfirman, tafsirnya:

“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti (menggunakan akalnya).”

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mendukung rasionalitas, namun rasionalitas yang terbimbing oleh petunjuk Ilahi, bukan rasionalisme bebas yang menolak hal gaib.

* Integrasi Iman dan Ilmu Pengetahuan: Modernisme memisahkan sains dari moralitas (sekularistik). Sebaliknya, Al-Qur’an menaikkan derajat orang yang memadukan iman dan sains dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11, tafsirnya:

“…Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”

2 Argumen Al-Qur’an Membantah Relativisme Postmodernisme

Tantangan terbesar postmodernisme adalah pengabaian terhadap kebenaran mutlak (absolute truth), dekonstruksi syariat, dan penyamaan semua agama (pluralisme radikal).

Al-Qur’an secara tegas membantah gagasan ini melalui argumen-argumen berikut:

* Kepastian Kebenaran Islam: Berbeda dengan paham postmodern yang skeptis terhadap kebenaran tunggal, Al-Qur’an menegaskan bahwa kebenaran sejati datang dari Tuhan dan tidak ada keraguan di dalamnya. Surah Al-Baqarah ayat 147 menyatakan:

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”

* Keunikan dan Eksklusivitas Teologi (Bantahan Pluralisme): Postmodernisme menganggap semua agama setara secara teologis. Al-Qur’an menolak relativisme iman ini dalam Surah Ali ‘Imran ayat 19, tafsirnya:

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam…”
Islam membedakan antara toleransi sosial (lakum dinukum wa liyadin) dengan sinkretisme atau relativisme akidah.

* Otoritas dan Otentisitas Teks Suci: Upaya dekonstruksi teks oleh kaum postmodernis dipatahkan oleh jaminan Allah atas keaslian Al-Qur’an yang tidak terikat bias sejarah atau budaya manusia, seperti termaktub dalam Surah Al-Hijr ayat 9, tafsirnya:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.”

3 Sintesis Sintesa Epistemologis

Melalui landasan metodologi penelitian pustaka dan argumen Al-Qur’an di atas, ditemukan bahwa umat Islam tidak perlu terjebak dalam dikotomi ekstrem modernisme maupun nihilisme postmodernisme.

Kerangka kerja Islamisasi Ilmu Pengetahuan atau integrasi-interkoneksi menjadi solusi paling valid, di mana sains modern diadopsi alat-alat praktisnya, namun nilai dasarnya tetap tunduk pada prinsip tauhid yang absolut.

– Kesimpulan

Melalui analisis kritis-kontekstual berbasis studi pustaka, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an menyediakan jawaban epistemologis yang kokoh terhadap tantangan modernisme dan postmodernisme.

Islam mengakui validitas akal dan sains yang diagungkan modernisme, namun menolak sekularisasinya (QS. Al-Anfal: 22, QS. Al-Mujadilah: 11).

Di saat yang sama, Islam membentengi diri dari relativisme postmodernisme dengan menegaskan absolutisme kebenaran wahyu dan otentisitas teks suci yang melintasi batas zaman (QS. Al-Baqarah: 147, QS. Al-Hijr: 9).

Strategi terbaik umat Islam adalah memperkuat metodologi ijtihad yang tetap berpegang pada teks yang konstan (tsawabit) sekaligus fleksibel dalam urusan duniawi yang dinamis (mutaghayyirat).

– Billahi Taufiq wa Da’wah wal-Irsyad

DAFTAR PUSTAKA

* Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1993). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC.

* Al-Faruqi, Ismail Raji. (1982). Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan. Herndon: IIIT.

* Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta

* Hardiman, F. Budi. (2015). Melampaui Posmodernisme: Sebuah Kritik Fondasional. Jakarta: Kanisius.

ddi abrad 1