Hijrah untuk Peradaban

0
139
Dr. Abdul Mu'id Nawawi
Dr. Abdul Mu'id Nawawi

Sesungguhnya hijrah sama sekali tidak sama dengan gambaran di atas.

Hijrah adalah gerakan pembangunan peradaban yang meniscayakan Islam sebagai ideologi terbuka, berkemajuan, inklusif, dan menyongsong masa depan.

Ada dua alasan yang bisa disebutkan untuk memperkuat argumen tentang hijrah yang seperti ini.

Pertama, argumen tentang pemilihan momentum hijrah sebagai awal penanggalan Islam.

Kedua, spirit hijrah itu sendiri.

Pemilihan momentum hijrah sebagai awal penanggalan adalah tanda inklusivitas Islam.

Banyak pilihan momentum yang bisa dijadikan awal penanggalan Islam, tetapi hijrah yang dipilih.

Banyak peristiwa besar seperti waktu kelahiran Nabi, hari wafat beliau, waktu wahyu pertama turun, Isra dan Miraj, kemenangan perang pertama, Fathu Makkah, dan sebagainya.

Semua itu bisa saja dipilih sebagai momentum penanggalan, tetapi tidak.

Itu menandakan bahwa Islam bukan tentang pribadi Nabi Muhammad Saw dan juga bukan tentang Islam sebagai sebuah agama, tetapi Islam adalah tentang rahmah bagi semesta alam, sebagaimana Sang Nabi diutus sebagai kasih sayang untuk semesta.

Pemilihan hijrah sebagai momentum adalah tanda bahwa Islam hadir untuk menjadi rahmah bagi semua makhluk.

Bersamaan dengan pemilihan momentum hijrah, di sana ada pula spirit hijrah yang memang inklusif demi peradaban.

Saat di Makkah, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw adalah titik sentral Islam.

Setiap kenyataan harus dilihat dari bagaimana Al-Qur’an berkata dan bagaimana Nabi Muhammad Saw merespon.

Namun, hijrah adalah revolusi yang mengubah hal itu.

Tentu saja Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw tetap penting, tetapi ada satu lagi tambahan yang tidak boleh dilupakan untuk memahami realitas, yaitu Piagam Madinah.

Piagam ini berisikan jaminan bagi masing-masing suku untuk melaksanakan agama dan adatnya sendiri-sendiri, saling membantu dalam perdamaian di dalam wilayah Madinah, saling melindungi dari ancaman dari luar Madinah, menaati aturan yang telah disepakati bersama, dan hanya melibatkan Nabi Muhammad Saw jika ada pertikaian antarsuku.

Hijrah lah yang memberikan warna baru bahwa ada yang menjadi rujukan di dalam kehidupan selain Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw, yaitu kesepakatan bersama semua elemen masyarakat yang bukan saja masyarakat Islam tetapi juga masyarakat non-Islam; serta bukan saya Arab, tetapi juga ajam.

Karena itulah sering disebutkan bahwa hijrah adalah momentum Islam berubah dari berupa sekelompok masyarakat seragam di dalam agama dan keyakinan sebagaimana sebelumnya di Makkah menjadi berupa sebuah ummah yang tidak lagi seragam, tetapi beragam.

Hijrah adalah momentum perubahan Islam dari proyek individu menjadi proyek sosial.

Hijrah bukan proyek mengislamkan masyarakat tetapi proyek Islam merangkul semua elemen masyarakat yang berbeda demi kemajuan peradaban.

Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw (Hadis) harus bersanding dengan kreativitas manusiawi, seperti Piagam Madinah, atau apapun bentuknya yang lain seperti ilmu pengetahuan jika memang peradaban menjadi tujuan Islam.
Benar, peradaban adalah tujuan Islam. Karena itu, kreativitas manusiawi yang berbentuk kesepakatan mereka bersama adalah penting.
Karena itu, tidak relevan lagi mempertentangkan setiap produk manusiawi dengan Al-Qur’an dan Hadis.

Memang Islam tidak langsung menjadi sebuah peradaban besar di dekade-dekade awal sejak Madinah hadir.

Sebuah peradaban tidak dibangun dalam semalam.

Pada Dinasti Abbasiyah lah peradaban itu mencapai kegemilangannya, meski tidak sempurna.

Namun dasar-dasar peradaban itu telah ada sejak Madinah, yaitu inklusivitas, merangkul perbedaan, dan menyongsong masa depan.

Konsekuensinya, Islam tidak alergi terhadap semua yang asing, termasuk ilmu pengetahuan dari luar Islam dan luar Arab serta budaya yang tidak dari Islam.

Hijrah adalah proses bagi umat Islam untuk keluar dari keseragaman hidupnya di Makkah.

Sudah menjadi takdir bagi Islam untuk menjadi agama bagi beragam orang dan juga akan berjumpa dengan beragam orang dan budaya.

Karena itu, sejak dini umat Islam dibiasakan untuk menerima perbedaan.

Hijrah pertama ke Habsyah adalah bukti bahwa umat Islam sedang belajar untuk menjalin hubungan baik dengan lain keyakinan.

Di Habsyah, umat Islam bisa diterima oleh keyakinan berbeda.

Karena itu, umat Islam juga harus belajar menerima keyakinan berbeda.

Apakah belakangan ini hijrah dan berislam masih merangkul perbedaan?

Sepertinya tidak.

Hijrah belakangan ini adalah penegasan terhadap pentingnya perbedaan dan jika perlu, perang.

Tulisan ini disadur dari ibihtafsir.id