Budaya Pemali dan Sempana

0
268

Mutiara Hikmah:

1) Ada 2 budaya dalam masyarakat kita yang berbeda hukumnya, salah satunya dilarang, yang lain dibolehkan.

Yakni “Pemmali” (pemali) dan “Sennung-sennungeng” (sempana).

Pemali (Aththiyarah) dilarang dalam Islam:

وعن ابن مسعود: “الطيرة شرك، الطيرة شرك، …” رواه أبو داود والترمذي وصححه.

Artinya:

“Dari Ibn Mas’ud, “pemali itu syirik (menyekutukan Allah), pemali itu syirik, …” (HR Abu Daud dan al-Tirmiziy, beliau menyatakan “sahih”).

Barang siapa yang dibelenggu oleh keyakinan pemali (aththiyarah), maka imbasnya minimal 2, yakni:

Merusak akidah, dan

Mempersempit reski.

“Aththiyarah” adalah virus akidah yang membahayakan agama sebagaimana dalam hadis berikut:

عن عمران بن حصين -رضي الله عنه- وابن عباس -رضي الله عنهما- مرفوعاً: «ليس منا من تَطَيَّر أو تُطُيِّر له، أو تَكَهَّن أو تُكِهِّن له، أو سحَر أو سُحِر له؛ ومن أتى كاهنا فصدَّقه بما يقول؛ فقد كفر بما أنزل على محمد ﷺ” (صحيح رواه البزار والطبراني

Artinya:

Imrān bin Ḥuṣain r.a. dan Ibnu ‘Abbās r.a. meriwayatkan secara marfū’, “bukan termasuk golongan kami orang yang meramal atau minta diramal atau melakukan perdukunan atau minta bantuan perdukunan, menyihir atau minta tolong untuk menyihir orang lain.

Siapa yang mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang dibawa oleh Muhammad Saw.” Hadis “shahih” (HR al-Bazzār dan al-Ṭabarāniy).

2) Prinsip orang yang beriman semestinya sesuai QS al-Taubah: 51

قُلْ لَّنۡ يُّصِيۡبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا ۚ هُوَ مَوۡلٰٮنَا، وَعَلَى اللّٰهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ

Terjemahnya:

“Tak akan ada yang menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kami. Dialah pelindung kami, dan hendaklah kepada Allah orang-orang yang beriman pada bertawakkal”

3) Hendaklah memperbanyak do’a sebagaimana dalam hadis berikut:

وَعنْ عُرْوَةَ بْنِ عامِر قَالَ: ذُكِرتِ الطِّيَرَةُ عِنْد رَسُولِ اللَّه ﷺ فقَالَ: اللَّهُمَّ لا يَأتي بالحَسَناتِ إلا أنتَ، وَلا يَدْفَعُ السَّيِّئاتِ إلا أنْتَ، وَلا حوْلَ وَلا قُوَّةَ إلا بِكَ حديثٌ” (رَوَاهُ أبو داود).

Artinya:

Dari Urwah bin Amir telah berkata, “aththiyarah” diceritakan di sisi Rasulullah Saw, lalu beliau berdoa:

“Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali hanya Engkau, dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Engkau” (HR Abu Daud dengan sanad yang “shahih”).

ddi abrad 1