Ka’bah Rumah Allah

0
212
Dr. Abdul Mu'id Nawawi
Dr. Abdul Mu'id Nawawi

Dr. Abdul Muid Nawawi, MA. ………………….

Jauh sebelum Islam datang, Ka’bah telah menjadi sentra spiritual dan sentra pengabdian kepada Allah swt.

Sebagai sentra spiritual, Ka’bah telah lama menjadi tujuan para peziarah dari seluruh penjuru dunia dan itulah yang membuat Makkah, meskipun gersang, selalu berdenyut dengan denyut kehidupan karena keramaian para peziarah membuat di sana ada perdagangan, ada penginapan, ada pusat perbelanjaan, dan sebagainya. Itu sudah terjadi jauh sebelum Islam datang.

Sebagai sentra pengabdian kepada Allah SWT, Ka’bah memang mengalami distorsi menjelang diutusnya Nabi Muhammad Saw.

Setelah sekian lama tidak ada nabi yang diutus ke wilayah sekitar Jazirah Arabia, sejak itu pula perkembangan pengabdian kepada Allah SWT mengalami perubahan drastis.

Memang Allah SWT masih selalu disebut sebagai Tuhan, namun bersamaan dengan nama-nama suci Allah SWT disebutkan pula kehebatan ilah-ilah lain selain-Nya.

Ritual-ritual yang mirip haji memang masih dilaksanakan pada waktu itu tetapi banyak esensi ritual tersebut yang telah berubah seiring perjalanan waktu.

Namun sekali lagi, pesona Ka’bah sebagai sentra spiritual dan sentra pengabdian kepada Allah SWT tetap terus terjaga sampai-sampai ada seorang bernama Abrahah yang berniat memindahkan sentra spiritual tersebut ke tempatnya, di Yaman.

Karena itulah Abrahah berniat menghancurkan Ka’bah dengan harapan jika Ka’bah hancur, sentra spiritual dan pengabdian itu hilang lalu para peziarah mulai berdatangan ke tempat Abrahah.

Sekali lagi, Abrahah memimpikan bukan semata-mata kebanggaan tempatnya menjadi sentra spiritual, tetapi di balik itu ada tendensi ekonomi karena nantinya tempat Abrahah akan berdenyut dengan denyut kehidupan karena keramaian para peziarah membuat di sana ada perdagangan, ada penginapan, ada pusat perbelanjaan, dan sebagainya.

Singkat cerita, Ka’bah tetap kokoh meski Abrahah sempat mencoba menghancurkannya.

Namun apa sesungguhnya yang membuat Ka’bah begitu istimewa?

Dari segi arsitektur, Ka’bah terlalu sederhana. Apalagi bila dikaitkan bahwa Ka’bah adalah Bayt Laah (Rumah Allah SWT).

Di dunia ini sangat banyak kediaman para raja atau para pemimpin negara yang sangat mewah dan Ka’bah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan arsitektur kediaman mereka.

Ka’bah memang menjadi lebih gagah karena ada Kiswah mahal yang membalutnya.

Lalu apa yang istimewa dari Ka’bah dengan bentuknya itu?

Jika Ka’bah adalah perlambang kehadiran Allah swt, maka mungkin ada yang berfikir bahwa Ka’bah harusnya terlihat lebih mewah.

Bayt adalah bahasa Arab yang berarti rumah. Sebagaimana biasanya rumah bagi manusia adalah tempat tinggal.

Uniknya, bayt juga adalah istilah yang sakral karena dikaitkan dengan Allah SWT dalam kata Bayt Laah.

Ada banyak kata dalam bahasa Arab yang menunjukkan rumah seperti daar, sakan, ghurfah, ma’waa, dan lain-lain, tetapi hanya kata bayt yang sering disebutkan sebagai bermakna sakral.

Karena itu, lebih akrab di telinga kata Bayt Laah daripada Daar Laah, misalnya.

Arti kata Bayt Laah adalah “Rumah Allah” dan itu bisa berarti dua, yaitu masjid dan Ka’bah.

Mengapa demikian? Ini penting.

Mayoritas ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang Bayt Laah mengaitkannya dengan ibadah haji, bahkan ibadah kurban.

Itulah mengapa Rukun Islam berawal dari syahadat lalu shalat dan berakhir di haji.

Syahadat adalah persaksian atau semacam tanda bahwa seseorang telah memeluk agama Islam.

Selanjutnya adalah shalat yang menghadap ke kiblat, yaitu Ka’bah, sedangkan Ka’bah adalah simbol ibadah haji.

Jadi, sejak awal, Rukun Islam memang menarget sebagai tujuan Ka’bah walaupun Ka’bah atau ibadah haji ditempatkan di akhir.

Dalam hal ini, fungsi Rukun Islam yang lain adalah untuk mengantarkan manusia ke Ka’bah, Bayt Laah.

Ada dua Rukun Islam yang mengantarai shalat dengan haji yaitu puasa dan zakat.

Sebagai catatan, ada Hadis yang menyebutkan urutan puasa lebih dahulu daripada haji dan ada pula yang menyebutkan haji lalu puasa.

Namun, umumnya dipahami bahwa haji adalah urutan terakhir Rukun Islam.

Zakat adalah simbol kesiapan material dan puasa adalah simbol kesiapan mental.

Keduanya hal yang tidak bisa dielakkan untuk haji. Karena itulah, untuk haji adalah syarat mampu sebagaimana disebutkan di dalam QS. Ali Imran/3: 97.

Ka’bah adalah rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia dan lokasinya adalah di Makkah (QS. Ali Imran/3: 97).

Fungsi Ka’bah adalah tempat shalat, tempat berkumpul, tempat yang aman, tempat berdoa kebaikan, tempat berserah diri bagi manusia. (QS. Al-Baqarah/2: 125-132.

Kembali kepada rumah. Sebagaimana disebutkan di awal bahwa di dalam bahasa Arab, bayt berarti rumah, namun arti dasar dari bayt adalah bermalam atau mabiit. Jadi, bayt bisa berarti tempat bermalam.

Dengan demikian, maka barangkali memang rumah lebih luas maknanya daripada, misalnya, sakan yang juga berarti rumah.

Sakan berarti dasar tempat yang tenang, sedangkan tempat bermalam tidak hanya mengandung tempat yang tenang tetapi keseluruhan hidup manusia, bukan hanya ketenangannya tetapi juga gejolaknya.

Rumah adalah simbol segala aktivitas manusia, terutama aktivitas domestik, bukan aktivitas publik.

Pembedaan domestik dan publik di sini penting karena memang pada dasarnya, tidak semua aktivitas adalah publik dan demikian pula sebaliknya.

Meski demikian, targetnya kehidupan yang sesungguhnya adalah tidak hanya domestik tetapi juga publik.

Kenyamanan rumah sebagai pusat aktivitas harusnya melebar ke tetangga sehingga sesama tetangga juga merasa nyaman bertetangga.

Lebih luas lagi adalah wilayah sehingga kenyamanan berwilayah sama dengan kenyamanan beraktivitas dalam rumah.

Demikian seterusnya, tetapi tetap saja harus dimulai dari kenyamanan di dalam rumah.

Ali Syari’ati dalam bukunya, Hajj menyelipkan sebuah pesan tentang kesederhanaan bentuk Ka’bah:

“Ka’bah bukanlah tujuan terakhirmu, ia hanyalah sebuah tanda agar engkau tidak salah jalan.

Ka’bah hanya menunjukimu arah.”

Karena itu pula, Ka’bah disebut qiblat atau arah menghadap.

Ka’bah menjadi saksi betapa segala gambaran manusia tentang Tuhannya hanyalah sebatas usaha untuk mencerap transendensi Tuhan.

Karena itu, bagi yang menganggap Ka’bah adalah tujuan, mereka pasti sedang salah jalan karena Ka’bah hanyalah arah, bukan tujuan.

Di dalam kehidupan beragama, kita melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Semua itu bukanlah tujuan terakhir karena tujuan terakhir kita adalah Allah swt sendiri.

Tapi itu tidak berarti bahwa semua ibadah itu menjadi tidak penting. Justeru semua ibadah itu penting karena ibadah itu adalah tanda dan penunjuk jalan agar kita tidak tersesat dalam kehidupan.

Ibadah-ibadah itu ibarat alarm pengingat bahwa Allah swt itu ada dan kita jangan sampai melupakan-Nya.

Makna lain dari kesederhanaan Ka’bah sebagai Baytul Laah adalah bahwa karena Ka’bah bukan gambaran sesungguhnya dari Allah, maka gambaran manusia tentang Tuhannya selalu bersifat sementara dan berproses.

Kekhusyuan ibadahnya dan tingkah lakunya kepada sesama makhluk yang semakin hari semakin baiklah yang akan semakin memperjelas gambaran manusia tentang Tuhannya.

Apabila ibadahnya semakin berkurang kualitasnya serta akhlaknya kepada sesama manusia dan sesama makhluk semakin buruk, maka gambarannya tentang Tuhannya pun semakin kabur.

Makna lain dari kesederhanaan Ka’bah sebagai Baytul Laah adalah bahwa apabila sesuatu tidak bisa digambarkan saking luar biasanya, maka gambaran yang paling sederhana adalah gambaran yang terbaik.

Kita tahu bahwa Allah swt adalah Maha Esa.

Bukankah penggambaran keesaan Allah paling pas digambarkan dengan kesederhanaan?

Bukankah esa atau satu itu sederhana?

Ali Syari’ati dalam bukunya, Hajj, berkata kembali:

“Ka’bah mewakili rahasia Tuhan di alam semesta, tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak bermirip, tidak serupa dengan apa pun yang dibayangkan manusia tentang-Nya,” lanjut Syari’ati.

Kemampuan manusia terlalu naif untuk menggambarkan Tuhannya, sebersahaja Ka’bah justeru semakin “mewakili” kehadiran Sang Pencipta.

Satu lagi yang tertinggal, mengapa kata Bayt Laah adalah “Rumah Allah” dan itu bisa berarti dua, yaitu masjid dan Ka’bah?

Ada yang menyebutkan bahwa Ka’bah dan Masjidil Haram adalah dua hal yang berbeda. Ka’bah sudah ada sejak lama dan Masjidil Haram baru dibangun sejak wafatnya Nabi Muhammad Saw. Benarkan demikian?

Terlepas dari benar tidaknya, masjid tidak lebih daripada pembatas untuk membantu mereka yang shalat agar merasa nyaman dari terpaan gangguan alam sekitarnya.

Pembatas yang lebih kecil sering disebut surau, langgar, atau mushalla. Sedangkan yang lebih besar disebut masjid.

Tanpa pembatas pun, tidak ada halangan dan larangan orang untuk bersujud atau mendirikan shalat di manapun.

Aturan satu-satunya yang penting adalah orang yang bersujud harus menghadap Ka’bah.

Sebagaimana Ka’bah dengan Masjidil Haram adalah satu, maka di manapun orang bersujud atau menyembah Allah SWT, baik di dalam pembatas dalam bentuk surau, langgar, mushalla, dan masjid maupun di luarnya.

Maka sesungguhnya seluruh seluruh dunia ini sesungguhnya adalah satu masjid maha besar yang di dalamnya manusia tidak henti-hentinya sujud dan di setiap waktu dan tempat sebagaimana tidak pernah berhentinya manusi thawaf di sekeliling Ka’bah.

Tulisan ini disadur dari ibihtasfir.id