Maulid dan Zakat

0
172

Anre Gurutta Mangkoso
(Diikutip dari Hikmah Maulid Akbar, Soppeng Riaja, Kab. Barru,
10 Rab.Akhir 1445 H)

Muh. Aydi Syam

Mutiara Hikmah:
01) Keberadaan kita dalam acara seperti ini adalah semata-mata karena rasa cinta kepada baginda Nabi Saw. Beliau bersabda:

عن أنس بن مالك قال قال رسول الله ﷺ: “… وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِيَ فِي الْجَنَّةِ (رواه الترمذي: ٢٦٠٦).

Artinya:
Dari Anas bin Malik telah berkata, “Rasulullah Saw. telah bersabda,

“Barang siapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia mencintaiku.

Barang siapa yang mencintaiku, maka dia akan bersamaku dalam surga” (HR al-Tirmiziy: 2606).

02) Olehnya itu, maka pertemuan ini berarti perjumpaan dengan calon-calon penghuni surga berkat kecintaan kita semua kepada baginda Nabi Saw., insya Allah.

03) Orang Barru artinya orang yang selalu senang melakukan kebaikan karena nama “al-Barru” yang artinya orang yang berbuat baik.

Ini terambil dari nama Allah Swt. dalam QS al-Thuur: 28,

ۖ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ ۝,

Terjemahnya:
‘…, Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Berbuat Baik lagi Maha Penyayang.”

04) Seiring dengan itu, dari 4 makna zakat, salah satunya adalah alshalah yang artinya kebaikan.

Maksudnya bahwa zakat itu adalah kebaikan yang mendatangkan banyak kebaikan yang lain, kebaikan untuk orang yang berzakat (muzakky) dan kebaikan untuk orang yang menerima zakat (mustahiq).

05) Kalau orang Barru adalah orang yang senang berbuat baik sementara orang-orang yang baik pasti masuk ke dalam surga sebagaimana disebutkan dalam QS al-Muthaffifin: 22,

إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ ۝

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang baik itu pasti berada dalam surga Na’im.”

maka dengan ini, orang Barru harus semua pada sadar zakat karena zakat adalah pintu kebaikan sementara kebaikan adalah modal utama untuk mendapatkan kenikmatan surga di hari kemudian.

06) _”Al-Barru”_ dalam bahasa Bugis artinya “tau maraja mappoji pigau deceng” artinya orang yang amat gemar melakukan kebaikan.

Berikut pernyataan QS al-Anfal: 70,

“…, إِن يَعْلَمِ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّا أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ … ۝

Terjemahnya:
“Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hati kalian, maka Dia akan memberikan kepada kalian yang lebih baik dari apa yang telah diambil dari kalian dan Dia akan mengampuni kalian, …”

07) Adakah di antara kita yang tidak berharap mendapatkan limpahan kebaikan?

Adakah di antara kita yang tidak berharap masuk surga di hari kemudian?

Bila kita semua berharap, maka tunaikanlah zakat! Itulah kuncinya.

08) Bila harta kita belum bersyarat untuk menunaikan zakat, maka keluarkanlah infak!

Oleh karena QS al-Thalaq: 07 mengingatkan:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِۦ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُۥ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا ۚ سَيَجْعَلُ ٱللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا ۝

Terjemahnya:
Hendaklah orang yang mampu berinfak sesuai kemampuannya.

Adapun orang yang disempitkan reskinya, maka hendaklah dia berinfak sesuai harta yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan sesuai apa yang Allah berikan kepadanya.

Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

09) Infak adalah pintu untuk mendapatkan kelonggaran reski.

Bila kita berkesulitan, maka tetaplah berinfak sesuai kemampuan niscaya Allah akan memberi kelapangan sehingga segera terbebas dari kesempitan dan kesulitan.

10) Tiada orang yang tidak mendambakan reski yang lapang, reski yang bersih, reski yang berkah dan yang mendatangkan kebaikan yang berlimpah.

Olehnya itu tunaikanlah zakat dan perbanyaklah infak karena itulah jaminannya.

11) Adapun bagi mereka yang enggan menunaikan zakat, maka Allah Swt. menyampaikan berita ancaman melalui QS al-Taubah: 34 dan 35 berikut ini:

“… وَالَّذِينَ يَكْنزونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ۝ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنزتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنزونَ ۝

Terjemahnya:
“… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih.

Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakarkan dahi, lambung, dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka, “inilah harta benda yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu!”

12) Rasulullah Saw. juga tidak luput menyebutkan dalam hadis beberapa ancaman bagi mereka yang tidak sudi menunaikan zakat, di antaranya:

١) لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ زَكَاةَ لَهُ (الحديث)

Artinya:
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak ada zakatnya.”

٢) عن ابن عمر قال: قال رسول الله ﷺ: “لاَ إيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا صَلَاةَ لِمَنْ لاَ طَهُوْرَ لهُ، وَلاَ دِيْنَ لمَنْ لَا صَلاَةَ لهُ، إنَّمَا مَوْضِعُ الصَّلاةِ مِنَ الدِّيْنِ كَمَوْضِعِ الرَّأْسِ مِنَ اْلجَسَدِ” (أخرجه الطبرانى فى الأوسط: ٢٢٩٢ وأخرجه أيضًا: فى الصغير: ١٦٢ وأخرجه الديلمى: ٦٤٩٢).

Artinya:
Dari Ibnu Umar r.a. telah berkata, “Rasulullah Saw. telah bersabda, “tidak ada iman bagi yang tidak ada amanah baginya, tidak ada shalat bagi yang tidak ada kesucian baginya, tidak ada agama bagi yang tidak ada shalat baginya, sesungguhnya posisi shalat pada agama laksana posisi kepala pada jasad”

(H.Dk. al-Thabraniy dalam kitab al-Ausath: 2292 & al-Shagir: 162 & al-Dailamy: 6492).

13) Bila dipadukan hadis pertama dan hadis kedua pada point ke-12 di atas, maka boleh saja dipahami secara ekstrim bahwa orang yang tidak berzakat, maka tidak ada shalat baginya, sementara orang yang tidak ada shalatnya, maka tidak ada agama baginya. Na’udzu Billah …”

14) Kendati demikian, bisa juga dimaknai secara bijak bahwa sebaik apapun agama seseorang selagi belum mendirikan shalat, maka tetap belum dianggap beragama dengan benar dan sebaik apapun shalat seseorang selagi belum menunaikan zakat, maka tetap dianggap belum mendirikan shalat yang benar.

15) Dengan demikian, kuncinya adalah zakat, shalat, agama.

Tunaikanlah zakat sehingga shalatmu benar dan dirikanlah shalat sehingga agamamu benar!

16) Rasulullah Saw. menghendaki umatnya menjadi dermawan dan meninggalkan sifat bakhil sebagaimana dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ “(رواه الترمذي: ١٨٨٤).

Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw. beliau bersabda, “Orang dermawan itu dekat kepada Allah, dekat kepada surga, dekat kepada manusia, dan jauh dari neraka.

Sedangkan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari menusia, dan dekat kepada neraka.

Sesungguhnya orang bodoh yang dermawan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang ‘alim yang bakhil” (HR al-Tirmiziy: 1884).

17). Semua orang mendambakan rahmat Allah dan menghindari laknat Allah.

Semua orang mendambakan hubungan baik kepada sesama dan menghindari terputusnya hubungan baik kepada sesama.

Semua orang mendambakan surga & menghindari neraka.

Olehnya itu kuncinya adalah kedermawanan. Jadilah orang yang menunaikan zakat dan memperbanyak infak, niscaya engkau akan menjadi orang yang dermawan.

Hamba yang dikasihi oleh Allah, disenangi oleh sesama dan dirindukan oleh surga,

مَا شآءَ اللّٰه.

وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ۝
وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد

Mangkoso, 15 Rab.Akhir 1445 H
30 Oktober 2023 M

ddi abrad 1