Maulid Nabi, Antara Simpati dan Antipati

0
582

MUTIARA HIKMAH

ANRE GURUTTA MANGKOSO

Prof. Dr. AG. H. Muh. Faried Wadjedy Lc., MA.

MAULID NABI SAW

Antara Simpati dan Antipati

۞ بسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۞

A. Anggpan bagi Kelompok yang Simpati dengan Maulid

01) Bila berbicara tentang maulid Nabi Saw., maka tentu saja ada yang simpati dan ada juga yang antipati.

Bagi yang simpati, maka merekalah pembelanya dan bagi yang antipati, maka merekalah penentangnya.

02) Bagi yang melakukan maulid, ada yang hanya secara sederhana seperti melakukan shalawatan dan sejenisnya.

Ada pula yang menyelenggarakannya secara istimewa seperti tabligh akbar dan sejenisnya.

03) Di antara yang melakukannya secara sederhana, biasanya hanya ditandai dengan pembacaan riwayat hidup Nabi Saw. melalui pembacaan kitab Barzanji dan semacamnya.

04) Kitab Barzanji hanyalah salah satu karya tulis sastra yang mengisahkan tentang catatan penting perjalanan hidup Baginda Nabi Saw. mulai dari nasabnya, kelahirannya, kerasulannya serta budi pekertinya yang luhur dan seterusnya.

05) Semestinya tradisi ini jangan dilarang, melainkan ditingkatkan ilmunya umat terhadap makna pembacaan Barzanji untuk mengarahkan mereka sehingga terbebas dari hal-hal yang sering kali disalahpahami oleh sebagian kelompok.

06) Kalau saja riwayat hidup yang lain boleh dibaca, mengapa justru kisah hidupnya Baginda Nabi Saw. itu dilarang? Bukankah Allah Swt. mengingatkan dalam ayat berikut?

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ۞

Terjemahnya:

Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir” (QS. Al-A’raf: 176).

07) Tidak seorang pun manusia di dunia ini disebutkan dalam al-Qur’an selaku ikutan yang baik (uswah hasanah) melebihi Rasulullah Saw.

Berikut pernyataan al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيْراً ۞

Terjemahnya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah Saw. itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzab/33: 21).

08) Bagi yang melakukan maulid ini dimaksudkan sebagai:

a. tanda kecintaan kepada Rasulullah Saw. Beliau bersabda:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ المُسَيِّبِ، قَالَ: قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا بُنَيَّ، إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ” ثُمَّ قَالَ لِي: “يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي، وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الجَنَّةِ” (رواه الترمذي).

Artinya:

Dari Sa’id ibn al-Musayyib ia berkata, Anas bin Malik r.a. berkata, “Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “wahai anakku, jika engkau mampu pada waktu pagi dan petang, tidak ada sedikitpun di hatimu dengki kepada seseorang, maka lakukanlah!”

Kemudian Beliau Saw. bersabda, “wahai anakku yang demikian itu termasuk sunnahku.

Barang siapa yang menghidupkan sunahku, maka berarti ia mencintaiku dan barangsiapa yang mencintaiku, maka berarti ia bersamaku nanti di dalam surga” (HR al-Tirmiziy).

b. untuk mendapatkan berkah melalui pembacaan shalawat Nabi Saw.

09) Berikut beberapa kutipan hadis Nabi Saw. yang terkait dengan berkah dan fadilah serta perlunya membaca shalawat setiap saat:

١)  عَنْ عَبْدِ اللٌٰهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ، “قال رسول الله ﷺ: إنَّ أولى النَّاسِ بي يَومَ القيامةِ أَكْثرُهُم عليَّ صلاةً” (رواه ابن حبان: ٤٤٥، والترمذي: ٤٨٤، والبيهقي: ١٥٦٣).

Artinya:

Dari Ibnu Mas’ud, “Rasulullah Saw. telah bersabda, “sesungguhnya manusia yang paling utama di sisiku pada hari kemudian adalah yang paling banyak shalawatnya kepadaku”

(HR Ibnu Hibban: 445, al-Tirmiziy: 484, dan al-Baehaqiy: 1563).

٢) عن أبي أمامة رضي الله عنه، “قال رسول الله ﷺ: أكٔثِرُوْا الصَّلاَةَ عَلَيَّ مِنٔ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَإنَّ صَلاَةَ أمَّتِيْ تُعْرَضُ عَلَيَّ فِيْ كُلٍّ يَوْمِ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ كانَ أكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاةّ كانَ أقْرَبُهُمْ مِنِّيْ مَنْزِلَتَهُمْ” (رواه البيهقي).

Artinya:

Dari Abu Umamah r.a., Rasulullah Saw. telah bersabda, “perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat! karena shalawat umatku diperhadapkan kepadaku pada setiap hari Jumat.

Barang siapa yang paling banyak shalawatnya kepadaku, maka dialah yang paling dekat tempatnya dariku” (HR al-Baehaqiy).

٣) عن أبو سعيد الخدري، “قال رسول الله ﷺ: أيُّما رجُلٍ مُسلِمٍ لَمْ يكُنْ عندَه صدقةٌ فلْيقُلْ في دُعائِه : اللَّهمَّ صَلِّ عَلَى مُحمَّدٍ عبدِكَ ورسولِكَ وصَلِّ عَلَى المُؤمِنِيْنَ والمُؤمِناتِ والمُسلِمينَ والمُسْلِماتِ فإنَّها زكاةٌ وقال: لاَ يَشْبَعُ المُؤمِنُ خيرًا حتَّى يكونَ مُنْتَهَاهُ الجنَّةُ” (أخرجه ابن حبان: ٩٠٣).

Artinya:

Dari Abu Said al-Khudriy, Rasulullah Saw. bersabda, “muslim siapa saja yang tidak memiliki sedekah, maka hendaklah mengatakan dalam do’anya, “ya Allah, bershalawatlah atas Nabi Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu dan bershalawatlah atas orang-orang beriman dan orang-orang Islam laki-laki dan perempuan, maka sesungguhnya itu adalah zakat.

Beliau juga bersabda, “tiadalah orang beriman itu kenyang pada kebaikan hingga surga nanti tempat akhirnya” (H.Dk Ibnu Hibban: 993).

٤) عن جابر رضي الله عنه، قال رسول الله ﷺ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ قَضَى اللّٰهُ لَهُ مِائَةَ حَاجَةٍ، سَبْعِيْنَ مِنْهَا لِآخِرَتِهِ وَثَلَاثِيْنَ مِنْهَا لِدُنيَاهُ” (رواه ابن النجار).

Artinya:

Dari Jabir r.a., “Rasulullah Saw. telah bersabda, “Barang siapa yang bershalawat kepadaku 100 kali pada setiap hari, niscaya Allah akan menunaikan 100 hajatnya, 70 di antaranya untuk akhiratnya dan 30 yang lain untuk dunianya” (HR Ibnu Najjar).

٥) وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِينَ يُصْبِحُ عَشْرًا، وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا، أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ” (رواه الطبراني).

Artinya:

Dari Abu al-Darda’ r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “barang siapa yang bershalawat kepadaku 10 kali ketika memasuki waktu pagi dan 10 kali bila memasuki waktu petang, maka syafa’atku akan mendapatinya pada Hari Kiamat” (HR al-Thabraniy).

٦) وعن أبي هريرة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ ﷺ: لا تجعلوا قبري عيداً، وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم” (رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بإسناد صحيح).

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a., “Rasulullah Saw. telah bersabda, “janganlah kalian menjadikan kuburanku ‘id (hari raya), bershlawatlah atasku karena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada” (HR Abu Daud dengan sanad yang shahih).

٧) عن أبي هريرة قال قال رسول الله ﷺ: “مَا مِنْ أحٓدٍ يسلِّمُ عليَّ إلَّا ردَّ اللَّهُ عليَّ رُوْحِيْ حتَّى أردَّ عليْهِ السَّلامَ” (رواه أحمد: ١٠٨١٥)

     10) Berda’wah itu mesti sesuai petunjuk QS al-Nahl: 125 sebagai berikut:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ۞ ه١٢

Terjemahnya:

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (QS al-Nahl: 125).

11) Hikmah artinya semua cara yang baik.

Mesti mendahulukan hikmah dari pada  mau’izhah (nasihat) karena hikmah tidak hanya terbatas pada kata-kata melainkan lebih pada praktik atau implementasi.

Pepatah Arab mengatakan,

 لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ.

Artinya:

“Lisan keadaan lebih jelas daripada lisan ucapan.“

Sementara petua orang Bugis mengatakan, “Sisebbu ada, seddi gau, lebbi mabbatae gau seddie naiyya ada sisebbue.”

Artinya:

Seribu kata, satu perbuatan, masih lebih berbekas perbuatan yang satu dari pada perkataan yang seribu.

12) Itulah sehingga konsep keteladanan jauh lebih berkesan dari pada ucapan.

Beliau sepanjang hayat tidak pernah berdusta. Bandingkan dengan sebagian pemimpin kita hari ini!

13) Ulama memikirkan peringatan maulid yang disesuaikan dengan momennya sebagai bentuk implementasi da’wah secara hikmah sehingga dipilih bulan Rabiul Awal karena itulah bulan kelahiran Baginda Nabi Saw.

14) Materi yang disampaikan oleh muballigh ketika membawakan hikmah maulid tidak terlepas dari 3 hal, yaitu:

a) Kisah Rasulullah Saw, sebagaimana pesan al-Qur’an yang dikutip dari QS al-A’raf: 176.

Al-Qur’an sendiri ber- qishah, bahkan sarat dengan kisah dan menginstruksikan untuk berkisah.

Di antara 114 surah dalam al-Qur’an, ada yang diberi nama secara khusus dengan surah al-Qashash yang berisi kisah nabi-nabi terdahulu.

Kalau saja kisah para nabi yang terdahulu serta orang-orang shaleh sebelum kita diinstruksikan oleh al-Qur’an untuk disampaikan kisah-kisah mereka, maka kira-kira bagaimana lagi dengan kisah Baginda Nabi. Saw. sendiri?

b) Sifat-sifat mulia Rasulullah Saw. yang amat pantas dan patut untuk diketahui dan diikuti selaku Nabi panutan yang sering dilupakan oleh umatnya.

c) Ajarannya yang dianggap relevan dengan perkembangan umat serta dapat beraksentuasi pada upaya menghidupkan sunnah pada kehidupan umat.

10) Ini semua semestinya tidak hanya dilakukan pada bulan Rabiul Awal. Hanya saja, pada bulan ini bertepatan dengan bulan kelahiran baginda Nabi Saw. sehingga menjadi wasilah untuk lebih mendekatkan ingatan umat kepadanya dan menjadikan pembelajaran bahwa bulan Rabiul Awal ini adalah bulan maulid.

15) Syekh Syaltut adalah Syekh al-Azhar pada masanya.

Beliau menjelaskan dalam kitabnya “Min Taujihat alIslam” bahwa pada masa Nabi Saw., sahabat, dan Salaf al-Salih, mereka tidak memikirkan maulid karena saat itu jarak umat ini dengan Rasulullah Saw. relatif masih sangat dekat dari sudut waktu dan tempat sehingga ajaran Rasulullah Saw. untuk mereka juga masih dirasakan sangat dekat.

Berbeda dengan umat Rasulullah Saw. sekarang yang justru sebaliknya, segalanya sudah serba jauh sehingga ulama memikirkan ada penjadwalan da’wah yang disesuaikan dengan momentmoment tertentu, maka dipilihlah Rabiul Awal ini untuk maulid, Rajab untuk Isra Mi’raj, Ramadhan untuk NuzululQuran, dan Muharram untuk hijrah Rasulullah Saw. plus tahun baru Islam.

16) Generasi Islam sekarang sebenarnya mau kemana?

Di sekolah-sekolah pemerintah yang berkedok negeri tidak diajarkan sejarah pendidikan Islam yang cukup sehingga peserta didik tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang hal ihwal baginda Nabi Saw. dari sudut kepribadian, perjuangan, dan ajarannya.

17) Andai kata maulid adalah satu-satunya cara untuk memperkenalkan nabi kepada umatnya, maka maulid itu hukumnya wajib atas dasar kaidah ushul fiqh:

مَا لاَ يَتِمُّ اْلوَاجِبُ إلَّا بِهٖ فَهُوَ وَاجِبٌ

Artinya:

Segala yang menyebabkan tidak sempurnanya kewajiban kecuali dengannya, maka itu juga hukumnya wajib.

18) Mencintai Rasulullah Saw. melebihi cinta kepada semua manusia adalah suatu indikator keberimanan seseorang yang mengaku beriman kepada Rasulullah Saw. sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat berikut:

قال رسول الله ﷺ: “لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حَتّٰى أكُوْنَ أحَبُّ إليْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أجْمَعِيْنَ”

(رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي وابن ماجه).

Artinya:

Rasulullah Saw. bersabda, “tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintai dari pada orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya” (HR al-Bukhariy, Muslim, al-Tirmiziy, al-Nasaiy, dan Ibnu Majah).

19) Bila mencermati hadis di atas secara literal, kira-kira berapa saja umat Rasulullah Saw. yang bersyarat untuk dikatakan beriman?

Oleh karena setiap orang memiliki orang yang spesial dalam hidupnya yang dicintainya melebihi semua manusia yang lain.

Di sinilah pentingnya mengenal baginda Nabi Saw. sedekat-dekatnya karena tak kenal, maka tak cinta. Tak cinta, maka tak sayang.

Maulid adalah wasilah untuk menanamkan rasa cinta yang sedalam-dalamnya kepada baginda Nabi Saw.

B. Anggapan bagi Kelompok yang Antipati dengan Maulid

01) Berikut beberapa hujjah yang dijadikan pijakan oleh kelompok ini, di antaranya:

١) عَنْ عائشةَ – رَضْيَ اللهُ عنها – قَالتْ: قَالَ رسولُ اللهِ ﷺ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُو رَدٌّ». متفق عليه.

Artinya:

Dari Aisyah, r.a., telah berkata, “barang siapa melakukan hal yang baru dalam urusan kami (agama) ini yang tidak termasuk di dalamnya (tidak pernah kami contohkan), maka itu tertolak” (HR Muttafaq ‘alaih).

ب) عن العرباض بن سارية عن النبي ﷺ: أنه قال “إياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار” (أخرجه أبو داود: ٥٤٠٧ والترمذي: ٢٦٧٦ وابن ماجة: ٤٢).

Artinya:

Dari al-Urbad bin Dariyah dari Nabi Saw. Bahwasanya beliau telah bersabda, “waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam agama).

Oleh karena sungguh setiap perkara baru itu bid’ah, sementsra setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu neraka”

(H.Dk. Abu Daud: 5407, al-Tirmiziy: 2676, & Ibnu Majah: 42).

02) Peringatan maulid seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Rasulullah Saw. masa kini jelas tidak pernah dicontohkan oleh beliau, para sahabat, tabi’in dan segenap salafu al-shalih, sementara maulid ini dianggap bahagian dari perkara agama.

Olehnya itu maulid ini termasuk perkara yang baru yang diada-adakan atau bid’ah yang harus diwaspadai.

03) Mencintai Rasulullah Saw. adalah harga mati bagi umatnya. Namun, tidak dengan cara yang menyimpang dari pesan beliau.

Betapa banyak Sunnah beliau yang belum sempat diamalkan oleh umat ini.

Kenapa lagi justru menyibukkan diri pada hal-hal yang tidak dicontohkan dan bahkan dilarang oleh beliau.

Niat boleh benar tapi cara yang tidak benar, sementara kaidah ushul fiqh menyebutkan:

اَلْعَمَلُ اْلفَاسِدُ لاَ يُصْلِحُهَا النِّيَّةُ الصَّالِحٓةُ

Artinya:

Amal yang tidak benar itu tidak dapat dibenarkan oleh niat yang benar.

C. Menanggapi Hujjah Kelompok yang Antipati dengan Maulid

01) Hadits-hadits yang ditampilkan mengenai kecaman terhadap perbuatan bid’ah perlu diluruskan kembali pemahamannya supaya ajaran Islam ini dipahami sebagaimana mestinya, tidak belok kiri sehingga terkesan liberal dan juga tidak belok kanan sehingga terkesan fundamental.

Ajaran Islam adalah ajaran lurus sehingga pemahaman yang tidak lurus mesti diluruskan.

02) Istilah bid’ah itu hanyalah perkara baru yang diada-adakan dalam hal akidah dan ibadah, sementara maulid ini diletakkan bukan pada bingkai ibadah dan akidah, melainkan diletakkan pada bingkai budaya atau tradisi umat Rasulullah Saw. sebagai sarana untuk mengenal dan mengenang Nabinya.

Bukan sebagai ibadah mahdhah seperti shalat ‘Idul-Fitri, ‘Idul Adha, dan lain-lain.

03) Bila dikatakan bahwa maulid tidak terlepas dari unsur-unsur ibadah, maka itu betul.

Namun semua unsur ibadah yang termuat di dalam praktik maulid ada dalilnya.

Di antaranya:

– Pembacaan ayat suci al-Qur’an;

– Penyampaian da’wah mengenai hikmah maulid Nabi Saw;

– Pembacaan do’a; dan

– Pembagian sedekah atau bingkisan maulid.

04) Itulah rangkaian inti dari peringatan maulid. Bila dicermati ke- 4 item inti peringatan maulid di atas, maka semua ada sunnahnya.

Oleh karena membaca al-Qur’an, menyampaikan hikmah, tazkirah, atau tausiyah,” pembacaan do’a serta pemberian sedekah adalah sejumlah perkara-perkara yang jelas sunnahnya.

05) Dengan demikian, dipahami bahwa peringatan maulid, betul serimonialnya adalah tradisi, namun unsur-unsur yang tercover di dalamnya sarat dengan ibadah yang ada sunnahnya sehingga selamat dari istilah bid’ah.

Wallahu A’lam bi al-Sawab.

وَمَا تَوْفِيْقِيْ إلا باللّٰهِ عليْه تَوكَّلْتُ وإليْهِ أنٍيْبُ ۞

وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد

Jeddah, 22 Rabiul Awal 1445 H

Disimak dan dipenakan oleh H. Muh. Aydi Syam