Sepuluh Hari Awal Dzulhijjah

0
13

MUTIARA HIKMAH

ANRE GURUTTA MANGKOSO

by Muh. Aydi Syam

   بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْم

MENYAMBUT SEPULUH HARI TERBAIK DALAM SETAHUN (SEPULUH HARI AWAL DZULHIJJAH)

01. Bila kita ditanya malam-malam apa yang terbaik dalam setahun? maka sudah banyak orang yang tahu jawabannya bahwa 10 malam yang terakhir pada bulan Ramadan. Namun, bila ditanya lagi, hari-hari apa yang terbaik dalam setahun, maka sedikit orang yang tahu jawabannya. Ikuti penjelasannya!

02. Rupanya Rasulullah Saw. menjelaskan pertanyaan tersebut dalam riwayat berikut:

* عَنْ عبد الله بن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ محمد بن عبد الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ» رواه أحمد وحسنه بعض العلماء.

Artinya:

“Tiada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh-Nya untuk beramal saleh di dalamnya dari pada hari-hari sepuluh ini (sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah).

Olehnya itu, perbanyaklah di dalamnya tahlil (lailaha illallah), takbir (Allahu Akbar), dan tahmid (Alhamdulillah)” (HR Ahmad yang dihasankan oleh sebagian ulama).

03. Sepuluh hari ini pula adalah hari-hari yang menyerupai hari-hari ihram bagi mereka yang telah menjatuhkan niat untuk berqurban. Berikut penjelasan Rasulullah Saw.

* عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الحِجَّةِ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ» وفي لفظ آخر «مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلَالُ ذِي الحِجَّةِ، فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ، وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ» (رواه مسلم: ١٩٧٧ و ٥١٢١).

Artinya:

“Dari Ummi Salamah r.a., bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

“Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah, lalu salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka hendaklah ia menahan diri untuk tidak mencukur rambut dan menggunting kukunya.” Dalam redaksi yang lain, “Barang siapa yang punya sembelihan qurban yang hendak disembelih, lalu bulan Dzulhijjah telah dimunculkan, maka janganlah dia sekali-kali mengambil (mencukur) sebagian rambutnya, jangan pula menggunting kuku-kukunya sedikitpun hingga dia menyembelih hewan qurbannya” (HR Muslim: 1977 dan 5121).

04. Adapun muatan hukum pada larangan hadis ini adalah anjuran sehingga ketika diabaikan hukumnya makruh, menurut Jumhur Ulama. Ini berlaku bagi orang yang berniat berqurban saja, bukan untuk semua keluarga yang diikutkannya.

05. Larangan tersebut jatuh sejak terbenamnya matahari pada akhir bulan Dzulqa’dah, yaitu masuknya malam tanggal 01 Dzulhijjah hingga hewan qurban itu disembelih seusai shalat Idul Adha pada hari 10 Dzhuhijjah atau pada hari-hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

06. Di antara hikmah larangan di atas adalah kiranya orang yang menjatuhkan niat qurban dapat menyerupai orang yang menjatuhkan niat ihram sehingga tubuhnya juga terjaga dari sebagian larangan ihram sampai dia menyembelih hewan qurbannya. Seusai hewan qurban itu tersembelih, maka larangan itu sudah berakhir seperti orang yang ihram sudah tahallul.

07. Hanya saja, jika larangan itu diabaikan oleh orang yang hendak berqurban, maka tidak ada cerita fidyah (tebusan). Dia sedapat mungkin beristighfar saja dan bertaubat kepada Allah. Adapun qurbannya tetap dihukumkan sah.

08. Termasuk alamat kemuliaan 10 hari yang pertama pada bulan Dzulhijjah adalah adanya Rasulullah Saw. tidak meninggalkan puasa sunnat pada 10 hari itu. Berikut diceritain oleh Ummul-Mu’minin Hafsah binti Umar r.a.:

عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: “أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامُ عَاشُورَاءَ، وَالْعَشْرُ، وَثَلَاثَةُ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْغَدَاةِ” (رواه أحمد: ٢٦٥٧٥ والنسائي: ٢٤١٧ وصححه ابن حجر العسقلاني ومحمد ناصر الدين الألباني).

Artinya:

Dari Hafshah binti Umar r.a., ia berkata, “Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw., yaitu: puasa Asyura (10 Muharram), puasa sepuluh hari (awal Dzulhijjah), puasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh” (HR Ahmad: 26575 dan al-Nasaiy: 2417 dishahihkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalaniy dan Muhammad Nashir al-Din al-Albaniy).

09. Selain ibadah puasa, Rasulullah Saw. juga menitipkan untuk diperbanyak zikir kepada Allah dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini, terutama membaca “La ilaha Illallah, Allahu Akbar, dan Alhamdulillah”. Berikut penjelasannya dalam hadis:

* عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ “مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ، وَالتَّكْبِيرِ، وَالتَّحْمِيدِ” (رواه أحمد: ٥٤٦٦ والطبراني).

Artinya:

Dari Ibnu Umar ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal pada hari-hari itu lebih dicintai-Nya pada sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah). Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid” (HR Ahmad: 5466 dan al-Thabraniy).

10. Adapun redaksi zikir yang menghimpun ketiga zikir di atas adalah sebagai berikut:

* “سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ”.

Artinya:

“Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Tiada daya dan kekuatan melainkan datangnya dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ۝

وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد

Mangkoso, 29 Dzulqa’dah 1447 H

17 Mei 2026 M

ddi abrad 1