Tantangan Dakwah dari Internal Islam

0
252

Prof. Dr. H. Muh. Yusuf Khalid, Lc. MA.

Tantangan da’wah dari dalam berbentuk radicalism atau radical Muslim.

Dalam bahasa yang mudah ialah seorang atau kumpulan yang beragama Islam yang berkeyakinan atau berkelakuan keras berbeda dengan mayoritas umat Islam yang lain.

Nusantara telah ratusan tahun masyarakat Islamnya tidak radikal dengan mengamalkan mazhab Syafii, akidah Asy’ariyyah atau sifat 20 dan sebahagian mereka ada yang bertarekat.

Demikian juga halnya di Turkey, bermazhab Hanafi, akidah Maturidiyyah dan ada di kalangan mereka yang bertarekat.

Malah masyarakat Islam Turkey telah menghadapi tantangan yang luar biasa dari segi sekularisasi, westernisasi, modernisasi, namun selama 85 tahun usaha itu gagal karena wawasan itu hanya disokong masyarakat kota.

Sementara masyarakat di kampung masih kuat berpegang kepada tradisi nenek moyang mereka iaitu mazhab Hanafi, akidah Maturidiyyah dan sebahagiannya bertarekat. (lihat “The Rising Political Islamin Turkey”)

Apakah sebab yang sebenar lahirnya muslim yang radikal?

Satu pertanyaan yang sangat sukar untuk menemukan jawabannya yang tepat.

Yang dapat penulis kongsikan hanyalah hasil dari pada beberapa pembacaan yang sederhana.

1) Apabila masyarakat Islam mula menolak mazhab fikih dengan alasan itu tidak mewakili Islam yang sebenar.

Mazhab-mazhab fikih itu hanyalah hasil daripada ijtihad fuqaha bukan murni Islam.

Islam yang murni hanyalah Qur’an dan Hadis.

Maka golongan radikal dari kalangan umat Islam akan muncul.

2) Mereka sadar bahwa mereka telah melakukan dosa besar dan dapat mengetahui bahwa salah satu jalan untuk masuk syurga dengan cepat tanpa melalui hukuman untuk membersihkan diri dari dosa besar ialah dengan melibatkan diri dalam jihad.

Kalau mati dibunuh akan syahid dan terus masuk ke syurga.

Antaranya mereka tidak belajar agama Islam dari guru agama yang sebenar.

Mereka lebih suka mendengarkan mereka atau golongan mereka yang radikal.

3) Mereka sudah tidak mengharapkan tindakan pemimpin negara Islam untuk membantu mereka yang dizalimi.

Lalu mereka bertindak sendiri tanpa konsultasi dengan ulama terutamanya dalam bab jihad.

4) Mereka berpegang bahwa orang Islam yang tidak cukup tiga syarat tauhidnya menjadi kafir darahnya halal, kalau pemerintah Islam tidak membunuhnya maka muslim radikal akan membunuh mereka, karena mereka telah murtad.

Tiga syarat itu ialah tauhid uluhiyyah, tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat.

5) Bayaran lumayan yang dijanjikan oleh pihak tertentu untuk menyertai golongan radikal.

Tidak ada jalan keluar bagi mereka yang terlibat dengan golongan radikal kecuali kembali kepada mempelajari Islam dari guru agama yang sebenar.

Belajar ilmu tasawuf, tidak cepat membid’ahkan ilmu tasawuf hanya karena tidak wujud kalimah tasawuf didalam al-Qur’an dan hadis.

Ilmu tasawuf mengajar masyarakat Islam untuk tidak menjadi radikal di tempat yang tidak sesuai.

Syaikh Yusuf al-Makassari menjadi radikal ketika menentang penjajahan Belanda karena itu adalah tindakan yang tepat pada waktu dan tempatnya.

Agama Islam bukan fast food yang boleh dicerna dalam waktu yang sangat pendek, tetapi memerlukan waktu yang lama.

Dari pada fokus kepada tantangan luaran, para pendakwah terpaksa mubazir tenaga, waktu dan ide untuk mengatasi isu radikal di kalangan umat Islam sendiri.

Peran pendidikan agama sangat besar dalam mengatasi isu radikal di kalangan umat Islam.

Pesan sang guru:

“Saya sampaikan kepada kamu bahwa ilmu itu tidak akan dicapai kecuali melalui 6 perkara; cerdas, bersunguh-sungguh, sabar, ongkos, nasehat guru dan waktu yang lama”.

Golongan radikal sekarang tidak mahu mendengar nasehat ini, mungkin

beranggapan bahwa nasehat ini bukan Qur’an dan bukan Hadis.