Syahwat Main Keroyokan

0
98

Syahwat Main Keroyokan

Oleh: Suf Kasman

DUNIA politik internasional terkadang menyerupai panggung sirkus—ramai, tetapi kehilangan kelucuan.

Belakangan, ada “akrobat” kasar yang dimainkan oleh Amerika Serikat. Saya melihatnya sebagai taktik menggalang kekuatan secara bergerombol—sejenis tambal sulam untuk menutup lubang wibawa di banyak sisi.

Permusuhan lama disulam kembali lewat ajakan bergerombol, dengan target cukup jelas: Iran—yang dikeroyok, sementara yang mengeroyok: Amerika dan Israel. Tampaknya, sang “Paman Sam” sedang dirundung syahwat main keroyokan.

Ia sadar tampil sebagai single fighter itu melelahkan dan tak selalu tampak gagah. Karena itu, mitra ditarik untuk maju bersama. Ketika Inggris dan Spanyol mulai ragu, dorongan tersebut berubah menjadi tekanan ekonomi.

Gayanya seperti mandor proyek kalap: ikut mengeroyok, atau kontrak dagang diputus.

Pada titik ini, syahwat menang jumlah tampak mengalahkan logika diplomasi sehat.

Fenomena ini mengingatkan saya pada dua gambaran kontras. Pertama, sekumpulan tawon saat sarangnya terganggu; mereka bergerak serentak, menyengat tanpa kompromi.

Saya pernah merasakannya waktu kecil—dikejar gerombolan lebah nakal, saya kokang kaki, lalu lari ta’kencing-kencing (pontang-panting), kemudian nekat melompat ke Sungai Salo Karaja e’.

Selamat, iya. Tapi wajah? Berubah total—mirip “Bakéké”. Begitu pula sekumpulan singa—raja hutan—ketika berburu, sukanya bergerombol; aura gagahnya justru ikut berkurang.

Ternyata, bahkan penguasa pun kadang mencari keberanian dari kerumunan.

Gambaran kedua: seekor anjing asing tersesat ke perkampungan. Anjing-anjing yang biasanya saling menggonggong mendadak kompak bersatu—bukan karena kebenaran, melainkan syahwat solidaritas semu.

Di sana, tak ada etika. Hanya arogansi jumlah.

Saya juga melihat aroma serupa di gedung-gedung megah milik rakyat negeri ini. Kita bisa membayangkan sosok seperti Pak Kandacong, seorang anggota dewan yang mencoba tetap menjadi “manusia” di tengah rapat.

Ia berdiri dan bertanya soal dana bansos habis untuk studi banding ke Kutub Utara—pertanyaan sederhana, logis, berpihak pada rakyat. Namun, yang datang bukan jawaban, melainkan pengeroyokan oleh anggota dewan secara beramai-ramai.

Ia dihujani cacian, bahkan diusir dari ruangan. Di titik itu, saya melihat akal sehat dikalahkan syahwat kelompok, seolah kebenaran ditentukan jumlah kursi, bukan keadilan.

Dalam perspektif Islam, kondisi ini jelas berbahaya. Keputusan yang lahir dari syahwat kekuasaan akan menjauh dari nilai izzah dan mizan.

Seorang ksatria tidak bangga menang karena jumlah, apalagi jika kemenangan itu diraih dengan menekan pihak lain agar ikut dalam kezaliman. Bagi saya, main keroyokan menjadi tanda nyali yang disembunyikan di balik gertakan.

Ironisnya, kita sering dikuliahi tentang etika oleh mereka yang sedang mabuk posisi, sementara praktiknya justru mempertontonkan mentalitas pengeroyok.

Strategi keroyokan semacam ini—meski dibungkus tambal sulam—tak akan bertahan lama. Seperti kain yang terus ditambal tanpa memperhatikan serat, suatu saat jahitannya pasti robek.

Sejarah pun tak mencatat pengeroyok sebagai pemenang terhormat. Keberanian sejati bukan terletak pada banyaknya sekutu, melainkan pada kemampuan berdiri adil di tengah perbedaan.

Selama syahwat main keroyokan itu dipelihara, selama itu pula kebenaran perlahan terbuka: bahwa “otot” kekuasaan sejatinya sedang mengalami penyusutan nyali.

Menang jumlah itu mudah, tetapi menjadi adil—itulah ujian sesungguhnya.

Jum’at, 14 Syawal 1447 H / 3 April 2026

SK

ddi abrad 1