PENA ANRE GURUTTA KETUA UMUM PB DDI
Prof. Dr. AG. H. Andi Syamsul Bahri A. Galigo, Lc. M.A.
Editor: Muh. Aydi Syam
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
ADAB BERMEDIA SOSIAL
01. Adab menggunakan media sosial menurut Islam berpusat pada prinsip menjaga lisan, memverifikasi kebenaran (tabayyun), dan menyebarkan kebaikan.
02. Setiap Muslim dianjurkan untuk menjadikan aktivitas digital sebagai ladang pahala dengan berniat lurus, menghindari hoaks, serta menjauhi gibah atau ujaran kebencian demi mencegah dosa jariyah.
03. Panduan utama dalam bermedia sosial secara Islami mencakup beberapa prinsip berikut:
a. Tabayun (Verifikasi Informasi)
Selalu periksa kebenaran setiap berita atau informasi sebelum membagikannya. Allah Swt. berfirman dalam QS al-Ḥujurāt (49): 6
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾
Terjemahnya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Ayat ini menjadi landasan utama pentingnya tabayyun dalam menerima dan menyebarkan informasi, terlebih di era media sosial ketika berita dapat tersebar sangat cepat.
b. Berbicara Baik atau Diam
Terapkan prinsip qaulan karīman (perkataan yang mulia). Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»¹
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Prinsip ini juga berlaku dalam bermedia sosial. Bila tidak mampu menulis sesuatu yang bermanfaat, maka lebih baik menahan diri daripada menimbulkan mudarat.
c. Menghindari Ghibah dan Fitnah
Jangan gunakan media sosial untuk menyebarkan aib, gosip, atau ujaran kebencian (bullying) yang dapat merusak kehormatan orang lain. Allah Swt. berfirman:
QS al-Ḥujurāt (49): 12
﴿وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ﴾
Terjemahnya:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini menunjukkan betapa besarnya dosa gibah, sehingga seorang muslim wajib menjaga lisannya, termasuk lisan digital berupa tulisan, komentar, maupun unggahan di media sosial.
d. Menjaga Pandangan dan Aurat
Batasi diri dari mengunggah konten yang mempertontonkan aurat atau hal-hal yang dapat memicu kemaksiatan. Allah Swt. berfirman dalam QS an-Nūr (24): 30
﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾
Terjemahnya:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
e. Bijak Mengelola Waktu
Jangan sampai media sosial melalaikan Anda dari kewajiban beribadah kepada Allah Swt. maupun tugas-tugas duniawi. Allah Swt. berfirman dalam QS al-‘Aṣr (103): 1–3
﴿وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
Terjemahnya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
f. Niat untuk Kebaikan dan Dakwah
Jadikan media sosial sebagai sarana syiar Islam, berbagi ilmu yang bermanfaat, serta mempererat tali silaturahmi. Allah Swt. berfirman dalam QS an-Naḥl (16): 125
﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾
Terjemahnya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً»²
Artinya:
“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.”
Maksudnya, kita dapat berdakwah melalui konten yang ringan dan bermanfaat, seperti tulisan, video pendek, maupun infografis selama pesan yang disampaikan mengandung nilai-nilai kebaikan dan sesuai dengan ajaran Islam.
g. Bijak Menggunakan Waktu di Media Sosial
Selain menjaga sikap dan ucapan, seorang muslim juga harus bijak mengatur waktu dalam menggunakan media sosial. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menelusuri timeline, padahal tidak semua konten membawa manfaat. Waktu merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Swt. berfirman:
QS al-‘Aṣr (103): 1–3
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Terjemahnya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap detik kehidupan sangat berharga. Oleh karena itu, waktu yang digunakan untuk bermedia sosial hendaknya diarahkan pada aktivitas yang bernilai ibadah, ilmu, dan kemanfaatan.
h. Menjadikan Media Sosial Sebagai Cermin Akhlak
Media sosial sebenarnya merupakan cermin kepribadian seseorang. Dari cara berkomentar, menulis caption, hingga memilih konten yang dibagikan, orang lain dapat menilai karakter dan nilai-nilai yang kita pegang.
Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya menjadikan media sosial sebagai sarana menampilkan akhlak yang mulia, sopan dalam berbahasa, santun dalam berdiskusi, dan rendah hati dalam berinteraksi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَكَانَ يَقُولُ: «إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا»³
Artinya:
“Nabi ﷺ bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang suka berbuat keji. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.'”
Sikap Rasulullah ﷺ yang lemah lembut dan penuh kasih sayang inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi setiap muslim dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
i. Kesadaran akan Jejak Digital
Segala sesuatu yang kita unggah di internet akan meninggalkan jejak digital dan dapat diakses oleh banyak orang dalam waktu yang lama. Oleh sebab itu, setiap unggahan hendaknya dipikirkan secara matang sebelum dipublikasikan.
Jejak digital bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan moral dan tanggung jawab di hadapan Allah Swt. sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Zalzalah (99): 7–8
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Terjemahnya:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّy رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا»⁴
Artinya:
“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Etika bermedia sosial dalam Islam bukan hanya berkaitan dengan sopan santun dalam berkomentar, tetapi juga tentang bagaimana menjaga hati, pikiran, dan niat ketika berinteraksi di dunia maya.
Dunia digital memang memberikan kebebasan, namun kebebasan itu harus disertai dengan tanggung jawab moral dan spiritual.
Menjadi pengguna media sosial yang beretika berarti menjadi pribadi yang menyadari bahwa setiap jari yang mengetik merupakan bagian dari amanah.
Oleh karena itu, gunakanlah media sosial untuk memperluas kebaikan, mempererat ukhuwah, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.[]
Wallāhu Waliyyu ad-Da‘wah wa al-Irsyād.
Mangkoso, 20 Muharram 1448 H
05 Juli 2026 M
Footnote:
¹Imam al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, Bāb Man Kāna Yuʾminu Billāh wa al-Yaum al-Ākhir Fal Yaqul Khayran Aw Liyaṣmut, no. 6018; Imam Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, no. 47.
²Imam al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīṡ al-Anbiyāʾ, Bāb Mā Dhukira ʿan Banī Isrāʾīl, No. 3461.
³Imam al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, Bāb Ḥusn al-Khuluq, No. 3559; Imam Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Faḍāʾil, No. 2321.
⁴Imam Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-ʿIlm, Bāb Man Sanna Sunnatan Ḥasanatan aw Sayyiʾatan, No. 2674.











